Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Cemburu?


__ADS_3

"Ada apa Ris? kenapa kamu hanya diam? sakit sekali pasti ya?" ucap Tazkia kemudian sambil mengelus dengan perlahan lengan Faris yang terbalut akan perban.


Lagi lagi Faris hanya diam membuat Tazkia langsung mendongak dan menatap ke arah Faris dengan tatapan menelisik penasaran apa yang sedang laki laki itu pikirkan.


"Kamu siapa?" tanya Faris tiba tiba yang lantas membuat Tazkia langsung melongo mendengar pertanyaan Faris barusan.


"Apa? siapa? jangan bilang kamu..." ucap Tazkia sambil menatap ke arah Faris dengan tatapan melongo, lalu detik berikutnya Tazkia langsung bangkit berdiri hendak memanggil dokter agar memeriksa kondisi Faris, namun saat baru beberapa kali melangkah terdengar suara seseorang menahan tawanya membuat Tazkia menghentikan langkahnya seketika dan berbalik menatap ke arah Faris.


Dengan tatapan yang bingung Tazkia kembali berjalan mendekat ke arah Faris dan memperhatikan sosok itu yang kini tengah tersenyum menatap ke arahnya.


"Kamu mengerjai ku ya?" tanya Tazkia secara langsung.


"Maaf" ucap Faris dengan senyum mengembang.


Sedangkan Tazkia langsung terduduk di kursi karena lemas mengira Faris kehilangan ingatannya, apalagi mengingat perkataan Tejo bahwa mobil Faris habis terbakar jadi Tazkia mengira Faris terkena gegar otak atau semacamnya yang membuatnya kehilangan ingatannya, namun nyatanya Faris hanya mengerjainya saja membuat Tazkia lantas menjadi kesal karenanya.


"Aku minta maaf sungguh, aku tidak bermaksud." ucap Faris kala melihat wajah kesal Tazkia.


"Itu benar benar gak lucu Ris, aku bahkan sangat khawatir tentang mu tapi kamu malah seperti ini." ucap Tazkia dengan cemberut.


Mendengar hal itu Faris lantas tersenyum kemudian menarik Tazkia agar duduk di ranjang pasien bersamanya.


"Aku minta maaf ya? lagi pula aku baik baik saja dan sekarang bahkan aku sudah bisa pulang hem janganlah marah oke." bujuk Faris sambil menggenggam tangan Tazkia.


"Bagaimana bisa kamu langsung pulang, jangan bercanda deh." ucap Tazkia sambil memukul pelan dada bidang milik Faris membuatnya langsung berakting meringis kesakitan.


Aw aw


"Apa sakit? aku tadi hanya pelan sungguh." ucap Tazkia dengan bingung sambil menatap ke arah dada bidang milik Faris sedangkan Faris dengan usil langsung memeluk Tazkia karena gemas dengan tingkah Tazkia.


"Faris! kamu mengerjai ku lagi." ucap Tazkia sambil mendongakkan kepalanya di dalam pelukan Faris.

__ADS_1


"Sedikit" ucap Faris dengan senyum kecil sedangkan Tazkia langsung cemberut di buatnya.


Sementara itu tanpa keduanya sadari di luar ruang perawatan Faris baik Aditya, Sinta dan juga Prasetia sedang diam mematung melihat kebucinan mereka berdua yang tidak mengenal tempat. Aditya yang menyadari perubahan ekspresi Prasetia lantas langsung berinisiatif berbalik badan dan menarik keduanya untuk pergi dari sana.


"Gue lapar ke kantin dulu yuk... nanti kita balik lagi." ucap Aditya sambil menarik tangan Sinta dan juga Prasetia agar pergi dari sana.


*********


Malam harinya.


Keadaan villa terlihat sepi, semua orang sedang berlayar menuju pulau impiannya masing masing, Faris memutuskan untuk melakukan rawat jalan setelah tadi memastikan bahwa kondisinya baik dan memutuskan untuk ikut pulang ke villa walau tentu saja setelah melewati banyaknya percekcokan dan juga drama antara Tazkia dan juga Faris, Tazkia awalnya tidak menyetujui ide Faris untuk melakukan rawat jalan dan istirahat di rumah, namun lagi lagi ia harus mengalah karena Faris mulai membawa embel embel namanya dan gelar dokter yang di sandangnya, pada akhirnya Tazkia hannya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Faris untuk pulang saja ke villa.


Sementara itu di tengah gelapnya malam yang disertai hujan rintik rintik terlihat dua orang tengah sibuk mencoba membuka pintu sebuah bangunan yang terletak di belakang villa nenek Tazkia, Prasetia benar benar terpaksa melakukannya karena Aditya terus terusan merengek dan meminta Prasetia untuk memastikannya.


"Jika sampai semua yang lo katakan bohong, lihat aja apa yang akan gue lakukan!" ucap Prasetia dengan nada yang kesal.


"Oke silahkan" ucap Aditya menantang.


Ketika senter sudah menyala Prasetia mendadak terdiam karena ia melihat sebuah makam berada di dalam bangunan itu, Prasetia melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah nisan makam itu untuk lagi lagi memastikan akan kebenaran ucapan Aditya.


"Bener kan apa yang gue katakan?" ucap Aditya dengan nada berbisik sambil memegang baju milik Prasetia dengan erat.


Prasetia terdiam tidak bisa berkata kata pikirannya melayang mengingat kembali pertemuannya dengan nenek Tazkia waktu itu.


"Berarti yang gue temui waktu itu adalah..." ucap Prasetia dalam hati.


Tepat ketika Prasetia membatin tentang hal itu senter di ponselnya mendadak mati membuat keduanya lantas terkejut karena keadaan di sekitar menjadi gelap gulita. Prasetia sebisa mungkin menekan tombol on di ponselnya namun entah mengapa rasanya sangatlah sulit sekali.


"Pras sebaiknya kita keluar aja dulu deh, perasaan gue mulai gak enak." ucap Aditya dengan nada suara lirih.


"Diamlah sebentar Dit, gue sedang berusaha nih." ucap Prasetia sambil terus mencobanya lagi dan lagi.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba pada akhirnya cahaya senter dari ponsel milik Prasetia menyala juga, Prasetia dan Aditya tentu saja langsung kegirangan melihat hal itu, namun raut wajah keduanya lantas berubah ketika cahaya senter di arahkan ke depan, terlihat sosok nenek Tazkia tengah tersenyum memandang ke arah keduanya namun kali ini dengan posisi tubuh yang sedikit melayang tidak menapak lantai membuat keduanya lantas langsung berkeringat dingin di buatnya.


"Kamu sudah tahu rupanya cu... hihihi"


Aditya yang mendengar suara serak itu lantas semakin mengeratkan pegangannya pada baju yang di kenakan Prasetia, sedangkan Prasetia langsung mengambil jurus langkah seribu pergi dari sana.


Bruk


Pintu bangunan mendadak tertutup dari luar, Prasetia mencoba menggerak gerakkannya berulang namun tetap saja tidak mau terbuka.


"Bisakah lo cepet sedikit Pras? kaki gue udah lemes." ucap Aditya dengan gemetaran sambil terus meremas baju Prasetia.


"Lo bantuin kek daripada hanya meremas baju gue begitu." ucap Prasetia dengan kesal karena Aditya sedari tadi hanya diam dan memejamkan mata dengan tangan yang terus meremas baju yang ia kenakan.


Hihihi


Hingga tidak berapa lama pada akhirnya pintu berhasil di buka dan keduanya langsung melenggang pergi dari sana.


Hihihi


Suara itu masih menggema dan terdengar jelas walau keduanya sudah berlarian cukup jauh dari bangunan itu, keduanya menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu utama villa lalu duduk di sana melepas penat sebentar.


Prasetia mengibas kibaskan bajunya karena gerah akibat berlarian barusan sambil sedikit bersandar.


"Dit lo mencium bau sesuatu gak?" tanya Prasetia karena tiba tiba ia seperti mencium bau tidak enak di sekitarnya.


Mendengar hal itu Aditya lantas tersenyum meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal membuat Prasetia lantas menatap ke arah Aditya dengan bingung.


"Gue kelepasan Pras hehe." ucap Aditya sambil menatap ke arah celana bagian bawahnya yang sudah basah karena tidak sengaja kencing di celana.


"Anjir lo kampret!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2