Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Pergi dari sini! ~Mengapa aku dilahirkan #10


__ADS_3

"Ada apa Ki?" tanya Prasetia ketika melihat Tazkia menghentikan langkah kakinya secara tiba tiba.


"Tidak ada apa apa, ayo jalan lagi." ucap Tazkia kemudian sambil langsung menarik tangan Prasetia agar kembali jalan dan mengikuti langkah kaki suster tadi. "Mungkin aku hanya halusinasi saja karena saking kangennya." ucap Tazkia dalam hati.


Tazkia kemudian lantas meneruskan kembali langkah kakinya mengikuti suster tadi, sampai kemudian keempatnya di arahkan masuk ke dalam satu ruangan di mana ada seorang laki laki paruh baya terlihat tengah duduk di sudut ruangan dengan posisi yang meringkuk.


"Aku mengijinkan kalian masuk karena jarang sekali ada keluarga yang mengunjungi beliau, aku harap kalian bisa sedikit memberikannya semangat hidup. Hanya saja jangan membuat keributan atau memancing emosinya keluar jika tidak aku tidak akan mengijinkan kalian untuk datang lagi ke sini." ucap suster tersebut memperingatkan yang di balas keempatnya dengan anggukan.


Setelah mengatakan hal tersebut suster itu lantas melangkah keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu, membiarkan keempatnya berinteraksi dengan Darma.


"Sekarang bagaimana?" tanya Aditya kemudian sambil menatap ke arah Tazkia.


"Entahlah aku juga tidak tahu." ucap Tazkia sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah Darma.


Baik Aditya, Sinta dan juga Prasetia hanya diam dan tidak bergerak sambil terus memperhatikan gerak gerik Tazkia yang mulai melangkah menuju ke arah Darma.


"Permisi pak..." panggil Tazkia dengan lirih sambil menepuk bahu Darma dengan pelan.


Darma yang merasa pundaknya di tepuk oleh seseorang lantas perlahan berbalik.


"Astaga" pekik Aditya tiba tiba yang lantas membuat Prasetia lantas membekap mulutnya karena berisik.


Bagaimana Aditya tidak terkejut ketika Darma berbalik badan, penampilan Darma benar benar sangat memprihatinkan dengan raut wajah yang cekung disertai lingkaran hitam di sekitaran matanya, sedangkan badannya kurus kering. Benar benar terlihat seperti zombi.

__ADS_1


Tazkia menatap kesal ke arah Aditya yang tidak bisa mengontrol suaranya. Ia bahkan sempat terkejut ketika mendengarnya tadi.


Darma terdiam, ia hanya menatap ke arah keempatnya dengan tatapan penuh menelisik seakan bertanya siapa mereka.


"Perkenalkan saya Tazkia pak dan mereka teman teman saya, maksud dari kedatangan saya adalah..." ucap Tazkia namun terpotong karena mendadak Darma langsung mendorong tubuh Tazkia hingga terhuyung dan jatuh dengan tatapan yang terkejut.


"Kenapa kau datang? pergi! pergi! lari lah sejauh mungkin dari sini!" teriak Darma setelah mendorong tubuh Tazkia barusan dengan nada yang histeris.


Sedangkan Prasetia, Sinta dan juga Aditya yang melihat hal itu lantas langsung mendekat ke arah Tazkia dan berusaha membantunya untuk bangkit.


"Apa yang bapak lakukan pada teman saya? yang sopan sedikit bisa gak sih pak!" teriak Aditya yang tidak terima dengan perlakuan Darma kepada Tazkia barusan.


"Kalian harus pergi sekarang! dia harus pergi dari sini!" teriaknya lagi sambil menunjuk ke arah Tazkia, membuat keempatnya lantas saling pandang satu sama lain karena tidak mengerti akan ucapan Darma barusan.


"Ada apa sebenarnya pak? saya bahkan belum mengatakan apapun pada anda? tapi anda malah menyuruh saya pergi tanpa menjelaskan apapun." ucap Tazkia dengan nada yang lebih lirih berharap Darma akan menjelaskannya.


Arggggggggg


Teriak Darma sambil membanting barang barang di sekitarnya yang langsung menimbulkan suara gaduh. Mendengar ada suara gaduh di dalam beberapa petugas perawat pria Rumah Sakit tersebut, lantas terlihat berlarian masuk ke dalam dan langsung memegangi tubuh Darma yang terus meronta minta untuk di lepaskan.


Seorang dokter terlihat mendekat ke arah Darma dan langsung memberinya suntikan penenangan kepadanya.


Setelah menerima suntikan penenang secara perlahan Darma yang tadinya terus memberontak kini terlihat perlahan mulai melemah kemudian tertidur dengan nafas yang teratur dan lebih damai. Beberapa perawat yang sejak tadi memegangi tangan Darma, lantas mulai mengangkat tubuh Darma dan menidurkannya pada ranjang pasien ketika suntikan penenang tersebut sudah mulai bekerja dan membuatnya terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


Baik Tazkia, Aditya, Sinta dan juga Prasetia yang melihat bagaimana Darma mengamuk tadi, hanya bisa melihat pemandangan di depannya dengan tatapan yang bingung akan apa yang baru saja terjadi tanpa bisa berbuat apa apa. Keempatnya bahkan belum memulai pembicaraan mereka atau bahkan sekedar bertegur sapa namun Darma sudah mengamuk dan membanting benda benda di sekitarnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa aku merasa perkataan pak Darma seperti mengandung sebuah arti yang aku sendiri tidak tahu apa itu." batin Tazkia dalam hati. "Pergi? pergi dari apa?" imbuhnya lagi dengan masih bertanya tanya tentang maksud dari ucapan Darma barusan.


Disaat keempatnya sedang fokus menatap ke arah Darma, tanpa mereka sadari suster yang tadi menuntun mereka untuk bertemu dengan Darma terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka dengan tatapan yang tidak bisa di baca.


"Bukankah sudah ku peringatkan agar kalian tidak memancing emosinya tadi? kenapa kalian tetap saja melakukannya." ucap suster tersebut dengan nada yang terdengar marah kepada mereka.


"Kami juga tidak tahu, ketika kami datang pak Darma sudah mulai mengamuk. Kami bahkan belum sempat berbicara apa apa dengannya." ucap Prasetya yang tidak terima dengan ucapan suster itu yang seakan mengatakan bahwa mereka berempat telah membuat keributan.


"Sudahlah lebih baik kalian pergi dari sini." ucap suster itu sambil menuntun keempatnya untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Tunggu! kami bahkan belum sempat berbicara dengan pak Darma... ijinkan kami untuk masuk dan menunggunya hingga bangun." ucap Tazkia yang tetap kekeh ingin masuk dan bertemu dengan Darma.


Suster tersebut sama sekali tidak mendengar ucapan Tazkia dan terus mendorong keempatnya agar keluar dari ruangan tersebut dan langsung menutup pintu ruangan dengan rapat, tanpa memperdulikan keempatnya yang masih ingin masuk ke dalam.


"Benar benar sialan suster itu, ketus amat!" cibir Aditya dengan kesal.


"Lalu kita harus gimana Ki?" tanya Prasetia kemudian.


"Sebaiknya kita cari tempat peristirahatan dulu, nanti kita pikirkan lagi langkah selanjutnya." ucap Tazkia memberikan saran.


"Yap lo benar, gue juga sudah lapar pingin makan." ucap Aditya dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Setelah membuat keputusan bersama baik Tazkia, Aditya, Sinta dan juga Prasetia lantas melangkahkan kakinya meninggalkan Rumah Sakit Jiwa tersebut. Prasetia melajukan mobilnya ke pemukiman penduduk yang tak jauh dari Rumah Sakit tersebut, agar akses mereka ke Rumah Sakit nantinya jauh lebih mudah dari pada harus bolak balik ke kota atau hotel.


Bersambung


__ADS_2