Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Tidak bisa mengubah takdir


__ADS_3

Tazkia kemudian mulai memutar benda kecil itu sebanyak 24 kali, tepat setelah Tazkia memutar benda itu keadaan di sekitar seperti langsung berhenti kemudian bergerak mundur dengan cepat kecuali Tazkia dan juga Faris.


Siang dan malam berganti dengan cepat diiringi dengan orang orang yang berlalu lalang namun dengan langkah yang mundur, Faris yang menyaksikan hal itu di sekitarnya lantas terbengong ia seakan akan tak percaya atas apa yang terjadi di sekitarnya.


Baru saja Faris terbengong serta terkejut dengan keadaan yang terjadi di sekitar, beberapa detik kemudian keadaan kembali normal dan berjalan semestinya, Tazkia lantas memasukkan kembali liontin tersebut ke dalam bajunya dan melihat jam tangan.


" Ayo dok sebentar lagi waktunya." ucap Tazkia menarik tangan Faris untuk menuju ke parkiran.


" Kita mau ke mana?" tanya Faris yang masih kebingungan.


" Yah ke rumah dokter lah, ayo nanti kita terlewat waktunya? btw di mana mobil dokter?" ucap Tazkia sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Di sana." ucap Faris sambil menunjuk ke arah mobilnya.


Keduanya pun lantas setengah berlari dan masuk ke dalamnya, Faris kemudian mulai melajukan mobilnya menuju mansion miliknya seperti yang di katakan Tazkia.


Setelah beberapa menit kemudian keduanya sampai di halaman belakang mansion, Tazkia sengaja menyuruh Faris memarkirkan mobilnya di halaman belakang agar tidak ada yang mengetahui kedatangan keduanya, meski Faris tidak mengetahui alasan tersebut tapi kali ini Faris memilih mengikuti semua ucapan Tazkia dan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


" Papa katakan saja sejujurnya! papa pergi menemuinya bukan?" teriak seseorang dari lantai atas yang menggema memenuhi ruangan yang kala itu sedang sepi dengan lampu yang temaram di seluruh ruangan.


" Mama!" ucap Faris dalam hati.


Mendengar suara bising itu Tazkia lantas menarik tangan Faris agar bersembunyi bersamanya di belakang sofa. Faris yang tak percaya dengan apa yang di dengarnya lantas menatap Tazkia dengan berbagai tanda tanya besar di benaknya.


" Ya sesuai dengan perkiraan mu kita kembali ke masa lalu, jangan berisik dan jangan sampai ketahuan, mereka bisa gempar jika tiba tiba kamu ada dua." ucap Tazkia.


" Jadi kita sungguh pergi ke masa lalu?" tanya Faris sekali lagi. " Berarti aku masih bisa menghentikannya." ucap Faris lagi kemudian hendak bangkit berdiri.

__ADS_1


Tazkia kemudian lantas mencegah Faris untuk melakukan hal tersebut.


" Kita tidak bisa mencegah takdir, sekalipun mama kamu bisa selamat kali ini tentu saja akan ada kejadian sama yang terulang berikutnya tanpa bisa kamu cegah. Kita tidak bisa mengubah takdir namun kita masih bisa memperbaikinya, bukankah kamu ingin mencari tahu kejadian yang sebenarnya?" ucap Tazkia sambil memegang tangan Faris agar tidak beranjak dari tempatnya.


Mendengar hal itu Faris mengurungkan niatnya untuk menyelamatkan ibunya.


" Tazkia benar, jikapun aku bisa menyelamatkan mama kali ini, aku tidak bisa menjamin juga mama akan tetap hidup di masa depan." ucap Faris dalam hati.


Keduanya kemudian lantas kembali bersembunyi dan menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya pada kedua orang tua Faris.


" Kenapa mama selalu membahas wanita itu lagi sih? papa bosan mendengarnya!" ucap Hendrawan dengan nada tak kala keras.


" Papa kira mama bodoh? mama tahu segalanya pa, papa bahkan membelikan perempuan itu sebuah kalung berlian bukan? wah hebat sekali papa, bukankah papa terlalu royal?" ucap ibu Faris sambil bertepuk tangan seperti mengapresiasi perbuatan suaminya.


" Mama mengecek mutasi rekening papa?" ucap Hendrawan seakan terkejut mengetahui fakta tersebut.


Mendengar pertanyaan dari Hendrawan ia hanya tersenyum sinis menatap ke arah Hendrawan.


" Papa berselingkuh?" ucap Faris dalam hati sambil masih terus bersembunyi di belakang sofa.


Derap langkah kaki mulai terdengar semakin mendekat, sepertinya keduanya terlibat saling susul sambil beradu mulut satu sama lain.


" Aku bilang tidak, ya tidak ma!" ucap Hendrawan lagi.


" Apa salahnya sih mengatakannya pa, kita masih bisa memperbaikinya asal papa mau meninggalkan wanita itu." ucapnya sambil mengejar langkah Hendrawan berusaha menjangkaunya.


Hendrawan yang merasa frustasi lantas langsung berbalik dan menepis tangan istrinya tanpa menyadari bahwa keduanya sedang berada di ujung tangga. Hendrawan tidak menyadari bahwa karena tindakan yang tanpa ia sengaja mengakibatkan istrinya jatuh dari atas tangga.

__ADS_1


Hendrawan yang melihat istrinya jatuh dan langsung bersimbah darah di bawah tangga lantas termenung sekaligus terkejut. Tidak hanya Hendrawan bahkan Faris dan juga Tazkia yang sedang bersembunyi lantas ikut terkejut dengan kejadian yang tiba tiba saja terjadi tanpa peringatan.


Faris yang melihat hal tersebut tidak hanya terkejut namun juga merasa marah karena ternyata kenyataan yang dipegangnya selama ini semua hanyalah sebuah karangan papanya. Faris bahkan hendak bangkit dan menolong mamanya namun lagi lagi Tazkia menjegalnya.


Air mata turun perlahan membasahi bibir Faris yang bergetar menyaksikan ibunya meregang nyawa tanpa bisa menolongnya. Tazkia yang melihat Faris seperti tengah terguncang lantas dengan spontan memeluk tubuh Faris sambil menepuk bahunya perlahan memberikan kekuatan serta ketenangan bagi Faris.


Ketika keduanya sedang hanyut ke dalam sebuah perasaan kehilangan atas apa yang baru saja terjadi, tiba tiba saja keduanya di kejutkan dengan suara yang tidak asing di pendengaran mereka datang memecah keheningan di sana, membuat Faris yang berada di pelukan Tazkia mulai melepaskan dekapan Tazkia kemudian menoleh ke sumber suara yang baru saja terdengar.


" Tania?" ucap Faris dan juga Tazkia di dalam hati hampir bersamaan.


"Apa yang sedang terjadi om?" tanya Tania pada Hendrawan yang tengah bersimpuh di sebelah mayat istrinya dengan raut wajah yang begitu terkejut.


Hendrawan lantas tersentak kaget saat mendengar suara Tania yang datang secara tiba tiba menyapa pendengarannya.


" Tania! om om benar benar tidak sengaja Tania sungguh om benar benar tidak sengaja." ucap Hendrawan dengan nada gelagapan sambil berusaha menjelaskan semuanya.


" Ini adalah kesempatan ku untuk memperalat om Hendrawan bukan? Faris pasti akan takluk jika aku bisa menjadikan ini sebagai ancaman." ucap Tania dalam hati sambil menatap ke arah Hendrawan dan istrinya secara bergantian.


" Om tenanglah dulu, kita buat seolah olah ini adalah perampokan, om cukup ikuti saja rencana Tania dan menutup mulut rapat rapat tentang apa yang tejadi hari ini." ucap Tania dengan santai seakan ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.


Hendrawan yang tengah kalut dan ketakutan lantas membalas ucapan Tania dengan anggukan.


" Baiklah pertama tama kita singkirkan dulu beberapa perhiasan tante agar Faris tidak curiga om, om bisa menyimpannya di suatu tempat atau mengubur perhiasan itu di taman." ucap Tania memberi ide.


" Baiklah om akan menuruti ucapan mu." ucap Hendrawan dengan nada yang bergetar.


Keduanya kemudian lantas berjalan menuju lantai atas ke arah kamar utama untuk melakukan rencana mereka.

__ADS_1


Faris yang melihat hal itu sungguh tercengang papanya justru malah menuruti ucapan perempuan rubah itu ketimbang memberikan pertolongan pertama terlebih dahulu kepada istrinya. Bukankah Hendrawan sangat bodoh atau memang terlalu panik karena melihat darah yang terus keluar dari tubuh istrinya sehingga mengira dia telah tiada?


Bersambung


__ADS_2