
Aditya dan Prasetia terus melangkahkan kakinya ke arah gudang, setelah sampai di sana Prasetia kemudian mulai membuka pintu gudang dan masuk ke dalamnya bersama Aditya. Keduanya menyusun barang barang yang mereka bawa di sudut sebelah kiri ruangan.
"Gila si dokter itu, bahkan gudangnya aja serapi ini, gimana keadaan rumahnya ya? pasti simetris sekali." celetuk Aditya sambil memandangi seluruh isi gudang satu persatu.
Di kala rasa takjub yang dirasakan oleh Aditya, pandangannya lantas terhenti pada sebuah papan kayu yang menarik perhatiannya. Aditya kemudian lantas melangkah mendekat ke arah papan kayu tersebut lalu mengambilnya.
Ditiup kencang debu debu yang menutupi permukaan papa kayu tersebut, lalu membersihkan sisa sisa debunya menggunakan tangan.
"Wih keren nih." ucap Aditya sambil mengangkat papan kayu itu kemudian mengocoknya perlahan karena penasaran dengan isinya.
"Jangan sembrono menyentuh barang orang lain Dit!" ucap Prasetia memperingati.
"Santai aja kali Pras, ini mau ijin kok ke dokter Faris." ucap Aditya sambil melangkah keluar membawa papan kayu itu, sedangkan Prasetia hanya bisa memutar bola matanya jengah akan ucapan Aditya barusan.
Keduanya kemudian keluar dari gudang dan kembali menuju ruang baca untuk menghampiri ketiganya yang masih asyik beres beres.
"Dok, apa aku boleh meminjamnya?" tanya Aditya kemudian, yang langsung membuat ketiganya menoleh secara bersamaan walau Aditya hanya menyebut nama Faris saja.
"Sepertinya itu bukan milik ku, mungkin milik pemilik sebelumnya." ucap Faris kala melihat benda yang di pegang oleh Aditya.
"Oh ku kira milik dokter." ucap Aditya dengan raut wajah kecewa.
Aditya menatap ke arah papan itu dengan kecewa karena ia sangat penasaran dengan isinya, sampai kemudian terdapat ukiran yang mengkilap muncul ketika Aditya menatap bagian atas papan dengan teliti.
Apa yang sudah di mulai harus di selesaikan hingga akhir!
Melihat tulisannya saja sudah membuat Aditya penasaran, tapi apalah daya ia tidak bisa mengotak atik barang kepunyaan orang lain bukan?
"Sudahlah kembalikan saja ke gudang." ucap Prasetia kemudian.
__ADS_1
Aditya kemudian melangkahkan kakinya setengah tidak ikhlas kembali ke gudang untuk menaruh papan itu. Namun sayangnya, karena tidak terlalu memperhatikan jalan Aditya yang tidak mengetahui ada kardus kecil di depannya lantas terhuyung dan jatuh, sedangkan kotak papan itu langsung melayang dan kemudian berakhir jatuh dengan posisi terbuka, dua dadu nampak menggelinding dan berputar hingga berhenti tepat di angka 3.
Aw
Teriak Aditya yang sudah tersungkur di bawah, sedangkan yang lainnya malah tertawa kala mengetahui Aditya jatuh.
"Mangkanya lihat jalan jangan meleng." ucap Prasetia.
"Kalian ya, bukannya nolongin malah pada ketawa! benar benar menyebalkan." ucap Aditya kesal sambil kemudian bangkit.
Tanpa mereka berlima sadari papan kayu yang terbuka tadi, berisi sebuah ular tangga dengan bentukan yang jadul dan terdiri 50 kotak menuju garis finis. Karena dadu yang jatuh dan menggelinding ke angka 3, secara ajaibnya di atas papan kayu tersebut muncul sebuah kayu kecil pada bidak kayu nomer tiga yang biasanya kita sebut sebagai orang dalam permainan ular tangga tersebut.
"Wih isinya ular tangga!" ucap Aditya ketika hendak mengambil papan kayu yang terjatuh tadi. "Siapa yang main kok tiba tiba di kotak nomor tiga?" tanya Aditya dengan bingung tapi yang lainnya hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.
Selamat datang di permainan ular tangga.
Ketika permainan di mulai tidak ada yang boleh keluar atau berhenti di tengah jalan!
Sedangkan Sinta dan Prasetia yang penasaran akan apa yang tengah di baca Aditya lantas mulai mendekat.
Angin semilir mulai berhembus dengan kencang membuat bulu kuduk langsung merinding, padahal mereka jelas jelas berada di dalam ruangan, di mana angin tidak bisa masuk kecuali pintu di buka.
"Sudahlah mending lo balikin aja papannya ke dalam gudang." ucap Prasetia kemudian.
Sementara ketiganya sibuk dengan papan itu, Tazkia dan Faris lantas saling pandang, keduanya merasa seperti ada aura yang berbeda setelah Aditya mengulang kata kata yang ada di papan itu.
"Apa kamu merasakan hal yang sama?" tanya Tazkia kemudian ketika manik matanya dan Faris bertemu.
"Ya, ada sesuatu yang aneh tapi aku tidak tahu apa itu." ucap Faris.
__ADS_1
Setelah Aditya memunguti dadu yang terlempar dan memasukkan semuanya ke dalam papan kayu itu, Aditya lalu melanjutkan langkahnya menuju ke arah gudang.
Entah karena angin atau sesuatu yang lain, mendadak semua akses keluar tertutup dengan sendirinya termasuk jendela dan pintu masuk ke arah gudang, membuat Tazkia dan yang lainnya lantas terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Apa yang sudah di mulai harus di selesaikan hingga akhir!
Suara itu terdengar berat dan nyaring memenuhi ruangan, membuat Tazkia dan yang lainnya lantas terdiam mencoba mencerna maksud dari suara itu.
Tazkia dan Faris kemudian lantas mendekat ke arah Aditya memastikan apa yang terjadi sebenarnya.
"Apa yang lo buat kali ini Dit?" tanya Sinta dengan kesal, karena diantara mereka berempat Aditya lah yang paling ceroboh dan kekanakan.
"Gue gak ngapa ngapain, bukannya lo dari tadi juga sama gue?" ucap Aditya dengan kesal karena di tuduh melakukan yang tidak tidak.
"Tapi gak akan ada asap kalau gak ada api Dit!" ucap Sinta lagi tidak mau kalah.
"Sudah sudah hentikan! dari pada mencari tahu siapa yang salah dan berujung pertengkaran, mending sekarang kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi, baru kita bisa mencari solusi dari permasalahan ini." ucap Faris mencoba menengahi Sinta dan juga Aditya yang tengah beradu mulut.
"Sekarang lo lebih baik ceritain semuanya dari awal Dit, biar kita tahu apa masalahnya." ucap Tazkia kemudian.
Mendengar hal itu Aditya kemudian lantas mulai menceritakan semuanya dari awal, dimulai dari ia menemukan papan kayu yang sedang ia pegang, tulisan di papan kayu, hingga kejadian tanpa sengaja dirinya tersandung dan membuat seluruh isi bagian dalam papan kayu itu keluar berhamburan.
"Jika gue tarik kesimpulan dari cerita lo, sepertinya tepat setelah dadu itu di kocok permainan di mulai, meski lo melakukannya tanpa sengaja." ucap Prasetia kemudian setelah mendengar seluruh kisahnya dari Aditya barusan.
"Lalu kita harus bagaimana? kita gak akan bisa keluar dari sini." ucap Aditya.
"Tidak ada jalan lain lagi selain mengikuti permainan itu." ucap Faris yang ikut menanggapi.
"Tapi, sepertinya permainan ini berbahaya, apa kalian yakin akan melanjutkannya?" tanya Sinta lagi memastikan.
__ADS_1
"Kita tidak punya pilihan lagi selain bermain, sebaiknya kita selesaikan dengan cepat dan segera keluar dari sini." ucap Tazkia yang lantas membuat semua orang langsung terdiam.
Bersambung