
Rumah Sakit Jiwa
Waktu yang semula terhenti kini mulai berjalan kembali tepat ketika pria bertudung hitam atau Faris pergi membawa Tazkia dari ruangan dimana Darma berada.
Keduanya yang tidak sadar dengan waktu yang sempat berhenti, lantas terus mengobrol tanpa sadar bahwa Tazkia sudah tidak berada di sana.
"Teman mu hilang!" ucap Darma tiba tiba yang baru sadar, hingga membuat Sinta menoleh ke sebelahnya dan ikut terkejut ketika tak mendapati Tazkia di manapun.
"Dimana teman saya pak?" ucap Sinta ketika melihat Tazkia sudah tidak ada di sebelahnya.
"Teman mu pasti di bawah oleh pria itu." ucap Darma menebak apa yang sedang terjadi.
"Lalu saya harus bagaimana pak?"tanya Sinta dengan raut wajah yang bingung.
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan karena kamu dan juga saya tidak akan pernah tahu di mana pria bertudung itu membawa teman mu." ucap Darma sambil menatap kosong ke arah depan, membuat Sinta yang mendengarnya semakin di buat takut ketika mendengar ucapan Darma barusan.
Sinta yang sudah panik akan terjadi sesuatu lantas langsung keluar hendak memberitahu Prasetia bahwa Tazkia menghilang, namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Darma.
"Bambu kuning lancip... hanya itu yang bisa membunuhnya." ucap Darma dengan singkat.
Sinta yang tidak mengerti tentang apa yang di maksud oleh Darma, lantas meneruskan langkahnya untuk keluar dari sana dan bergegas menyelamatkan Tazkia.
**
Di luar ruangan
__ADS_1
Prasetia yang sedari tadi memastikan keadaan sekitar aman, lantas di buat bingung ketika melihat Sinta malah keluar sendirian tanpa terlihat Tazkia bersamanya.
"Mana Kia, Sin?" tanya Prasetia dengan nada suara yang lirih.
"Kia menghilang, gue akan ceritakan detailnya nanti yang penting kita harus keluar dulu dari sini." ucap Sinta yang lantas di balas anggukan kepala oleh Prasetia.
*****
Kembali pada Tazkia dan juga Faris.
"Ap..a kamu sungguh.. akan.. mengambilnya.. Ris?" tanya Tazkia dengan tersendat karena cengkraman Faris yang begitu erat di lehernya.
Mendengar ucapan Tazkia barusan cengkraman Faris mendadak melonggar dengan tatapan yang Tazkia sendiri tidak bisa mengartikan apa maksud dari tatapan Faris barusan.
Faris nampak bimbang hatinya terus bertanya tanya, mampukah ia melakukan semua ini pada Tazkia? Faris tidak sanggup jika harus melihat Tazkia buta seumur hidupnya, namun Faris juga tidak ada pilihan lain karena ia membutuhkan kekuatan Tazkia untuk membuatnya menjadi pemimpin terkuat di dunia kegelapan.
Melihat Faris yang penuh kebimbangan Tazkia lantas tersenyum, setidaknya Tazkia tahu Faris melakukan hal ini padanya karena terpaksa. Dan hal yang terpenting yang ingin Tazkia ketahui sudah terjawab lewat manik mata Faris yang nampak berkaca kaca sedari tadi.
"Setidaknya aku pernah singgah dan bertahta di hati mu, walau nyatanya perasaan cinta mu jauh lebih kecil di banding keinginan mu dalam menjadi seorang pemimpin." ucap Tazkia dalam hati sambil menatap dalam dalam manik mata Faris.
"Jika... itu keinginan mu lakukanlah Ris, hanya saja boleh aku meminta satu permintaan padamu?" tanya Tazkia kemudian dengan nada yang lirih.
Faris yang mendengar hal itu lantas melepaskan cengkraman tangannya secara perlahan kemudian menatap ke arah Tazkia. Dengan perlahan Faris mulai mengelus rambut Tazkia dan mengarahkannya ke belakang telinga Tazkia.
"Mengapa kamu melihat sampai sejauh itu Ki..." ucapnya dengan lembut sambil mengelus pipi Tazkia. "Aku sudah berusaha menyembunyikannya selama ini, bahkan ketika kamu dan aku bersentuhan aku selalu mengecoh dirimu agar tidak bisa melihat masa lalu dan jati diriku, tapi mengapa kamu malah tetap berusaha melihatnya? bukankah aku malah tampak sangat menyedihkan Ki?" ucapnya lagi dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Faris barusan, lantas membuat hati Tazkia semakin hancur berkeping keping. Tazkia benar benar tidak tahu lagi harus bagaimana sekarang, hingga ia membuat satu kesimpulan bodoh pertama kali dalam hidupnya.
"Setelah kamu... mengambil kekuatan ku, bunuh aku Faris!" ucap Tazkia dengan nada yang menahan isak tangisnya.
Faris yang mendengar permintaan Tazkia lantas terdiam karena apa yang diucapkan oleh Tazkia sama dengan apa yang akan ia lakukan pada Tazkia. Mungkinkah ini sebuah kebetulan atau memang Tazkia sudah mengetahuinya?
"Aku... aku akan melakukannya dengan cepat Ki.. maafkan aku!" ucap Faris kemudian dengan nada sendu, setetes air matanya nampak jatuh membasahi pipi Tazkia yang memang saat ini berada dalam kungkungannya.
Tazkia memejamkan matanya, mengetahui Faris begitu berat memilih dirinya atau kehidupan pilihannya, membuat Tazkia benar benar terluka.
"Maafkan Kia mah.. pa... selamat tinggal semua..." ucap Tazkia dalam hati sambil memejamkan matanya.
Faris mengusap air matanya dengan kasar kemudian langsung mencengkram area tulang selangka Tazkia dan memulai pengambilan kekuatan Tazkia.
Tazkia yang mengira itu akan baik baik saja, ternyata rasanya sangat menyakitkan. Rasanya seperti di hantam dari arah kanan dan kiri secara bertubi tubu, Tazkia yang tidak sanggup menahan rasa sakitnya tanpa sadar mencengkram dengan erat lengan Faris. Faris sungguh tahu rasanya begitu menyakitkan hingga ia pun memejamkan matanya karena tidak tega melihat Tazkia kesakitan terlalu lama.
Pengambilan itu berlangsung cukup lama hingga membuat Tazkia banjir keringat karena menahan sakit yang teramat luar biasa. Hingga pada puncaknya mata Tazkia yang semula berwarna hitam pekat lantas berubah menjadi berwarna hazel terang, yang berarti seluruh kekuatan Tazkia sudah berhasil di ambil dan kini tiba saatnya Faris mengabulkan permintaan Tazkia sebelumnya.
"Aku mencintaimu Ki..." ucapnya lirih yang langsung membuat Tazkia meneteskan air matanya untuk yang terakhir kalinya.
"Aku.. juga... mencintai..." ucap Tazkia namun terhenti karena pandangannya mulai menggelap lalu menghilang.
"Dasar bajingan!" teriak Aditya dari kejauhan sambil menusukkan bambu yang ia bawa ke arah Faris dengan membabi buta.
Bersambung
__ADS_1