
Prasetia, Sinta dan juga Aditya duduk termenung sambil terus berpikir mencari jalan keluar dari masalah mereka. Pikiran Prasetia benar benar berkecamuk antara kembali ke mobil atau tetap melakukan perjalanan yang entah akan berakhir ke mana, sedangkan hari semakin larut.
Srak
Suara daun kering dipijak terdengar nyaring di telinga ketiganya, membuat mereka lantas saling menatap satu sama lain dengan pandangan saling bertanya akan suara apa itu barusan.
Prasetia bangkit dan menatap sekeliling mencoba mencari asal sumber suara. Dalam hati dan pikiran Prasetia sudah negatif thinking karena memang posisi mereka yang sedang berada di tengah hutan, bahkan Prasetia sudah bersiap akan menjadi garda depan jika memang suara barusan adalah suara langkah kaki binatang buas yang mendekat ke arah mereka.
Stttttt
Isyarat Prasetia pada kedua temannya agar tidak berisik dan menimbulkan suara gaduh yang semakin memancing hewan itu untuk mendekat.
"Kalian tersesat nak?" ucap seseorang dari balik semak semak yang terletak tak jauh dari ketiganya.
Mereka terdiam tidak menjawab maupun melangkah mendekat ke arah lelaki tua itu, pikiran mereka kacau membayangkan yang tidak tidak dan berpikir bahwa lelaki di hadapannya ini bukanlah manusia. Bagaimana tidak? coba bayangkan saja di dalam gelapnya hutan seorang lelaki tua tiba tiba muncul di hadapan mereka, sedangkan dari tadi perjalanan mereka sama sekali tidak menjumpai perkampungan, bukankah itu sedikit mencurigakan?
"Kami sedang mencari bantuan pak, ban mobil kami meletus." ucap Prasetia kemudian ketika melihat kaki lelaki tua itu menapak tanah yang artinya manusia biasa (mungkin).
"Di sini tidak ada bengkel, bagaimana kalau kalian bermalam di gubuk kakek saja besok pagi baru lanjut cari bantuan." ucap lelaki tua itu tersenyum ramah.
Mendapat tawaran dari kakek itu Prasetia menatap ke arah ketiga temannya meminta pendapat, tapi Sinta hanya mengangkat bahunya menyerahkan keputusan penuh pada Prasetia, sedangkan Aditya menggelengkan kepalanya dengan keras pertanda tidak setuju.
"Kita gak tahu itu manusia bukan! jangan aneh aneh Pras." bisik Aditya di telinga Prasetia.
__ADS_1
"Setidaknya kita dapat tempat untuk bermalam bukan? dari pada di sini di makan binatang buas." ucap Prasetia balas berbisik.
"Dapat sih dapat tempat, tapi kalau tempatnya di alam lain ogah gue." ucap Aditya dengan nada ngegas yang langsung membuat mimik wajah lelaki tua itu nampak tersinggung mendengarnya.
Prasetia yang sadar lelaki tua itu tampak marah lantas langsung mendekat dan minta maaf sebelum semuanya semakin runyam.
"Kami minta maaf pak, teman kami memang mulutnya tidak bisa di kontrol." ucap Prasetia yang merasa bersalah.
"Terserah kalian mau ikut atau tidak kakek hanya menawarkan bantuan." ucapnya tampak marah.
Karena rasa bersalah, pada akhirnya mereka bertiga menyetujui saran lelaki tua itu untuk bermalam di gubuk miliknya walaupun perasaan ragu masih menyelimuti diri mereka.
Ketiganya mengikuti langkah kakek itu dan terus dituntun masuk ke dalam hutan melewati beberapa pohon beringin besar dan juga semak belukar di sekitarnya, sampai beberapa menit kemudian mereka melihat sebuah gubuk tua yang terletak di sebelah batu besar dan pohon beringin, yang berdiri sendiri tanpa ada tetangga seorang pun di sekitarnya, membuat bulu kuduk mereka langsung meremang kala menatap ke arah gubuk itu.
"Kenapa mendadak gue merinding disko?" ucap Aditya dalam hati.
Di villa nenek Tazkia.
Tazkia menutup pintu kamarnya dengan kesal setelah perdebatannya dengan Faris tadi, Tazkia benar benar tidak habis pikir kalau Faris malah membela dan menuruti semua ucapan Rita. Di tatapnya kemudian bungkusan kecil di tangannya yang di berikan Rita tadi ketika di dapur.
"Menyebalkan! bukankah gue ke sini berniat untuk merefresh otak gue? tapi kenapa malah semakin membuat penuh otak gue dengan berbagai dugaan dugaan yang ada." ucap Tazkia dengan kesal.
Tazkia lantas melangkahkan kakinya ke arah meja rias dan sedikit melempar bungkusan yang dipegangnya, entahlah kenapa rasanya Tazkia benar benar marah kali ini padahal jika dipikirkan lagi dengan kepala dingin, bukankah semua yang Rita katakan adalah demi kebaikannya?
__ADS_1
Tazkia kemudian melangkah kembali dan berakhir dengan merebahkan tubuhnya pada ranjang empuk. Ditatapnya langit langit kamarnya dengan tatapan yang masih kesal.
"Gue ingin lihat apa yang terjadi jika memang bungkusan itu hanyalah berisi jimat tidur agar bermimpi indah, yang jelas besok gue akan cari tahu tentang Wowo yang dimaksud oleh pak Tejo." ucapnya pada diri sendiri.
Sedangkan tanpa Tazkia sadari dari arah luar jendela kamarnya, sebuah sosok berwujud kepulan asap dengan mata merah menyala yang disertai taring nampak tersenyum bahagia melihat Tazkia membuang bingkisan kecil itu ke meja riasnya.
********
Kembali ke Prasetia, Sinta dan juga Aditya yang tengah berada di gubuk lelaki tua itu, ketiganya sedang menikmati makanan yang di sajikan kakek tua itu dengan hikmat terkecuali Sinta yang merasa ada yang aneh dari makanan yang tersaji di meja, Prasetia dan juga Aditya nampak seperti menikmati makanan yang tersaji di meja kecil itu dengan lahap seakan itu adalah makanan terenak yang pernah mereka makan. Tidak ada yang mewah dalam makanan tersebut hanya sepiring mi goreng dengan beberapa tempe dan tahu sebagai pelengkap makanan tersebut, namun entah mengapa ketika Prasetia dan juga Aditya memakannya rasanya benar benar enak hingga membuatnya ingin makan lagi dan lagi seperti orang yang sudah tidak makan selama berminggu minggu.
"Kenapa gue mencium bau amis dan tanah di makanannya ya?" ucap Sinta dalam hati bertanya tanya sambil terus memperhatikan Aditya dan juga Prasetia yang makan dengan lahapnya. "Apa mungkin hanya hidungku saja yang terlalu sensitif dan mengendus yang tidak perlu." ucapnya lagi dengan hati yang bertanya tanya.
"Kenapa tidak lo makan Sin?" tanya Prasetia yang menatap ke arah Sinta dengan penasaran karena Sinta hanya menatap kearah Aditya dan dirinya dengan pandangan yang aneh.
"Enggak papa aku hanya sedang diet." ucap Sinta berdalih sambil meminum segelas air putih pada gelas yang terletak di depannya.
Dengan wajah dan senyum yang terlihat licik Aditya yang mendengar alasan Sinta barusan lantas langsung mengambil piring Sinta dan memakannya tanpa permisi.
"Jika lo sedang diet, biar gue aja yang makan." ucap Aditya seperti kegirangan ketika mengambil piring milik Sinta.
"Terserah" ucapnya dengan nada datar.
Dari arah dapur lelaki tua itu tampak tersenyum kala Aditya dan Prasetia menikmati makanan itu dengan lahapnya, namun tak berapa lama raut wajahnya berubah kala melihat Sinta hanya meminum air di gelas itu tanpa menyentuh makanan di atas meja.
__ADS_1
"Dia sudah menyadari sesuatu rupanya." ucap lelaki tua itu sambil terus menatap ke arah Sinta dengan senyum yang tipis.
Bersambung