
Setelah melewati kejadian yang mencekam petang tadi, perjalanan mereka pun dilanjutkan tanpa pertanyaan, tanpa suara canda tawa, serta tanpa alunan musik yang menemani mereka, benar benar terasa semakin sunyi dan mencekam.
Beberapa kali posisi menyetir mereka lakukan secara bergiliran mulai dari Prasetia, Aldo, Aditya, dan terakhir Doni hingga menjelang pagi, entah mengapa perjalanan mereka terasa begitu lama dan menyeramkan, berbagai gangguan mereka rasakan meski tidak terlalu ekstrem seperti yang mereka alami tadi petang namun itu cukup membuat mereka menjadi waspada dan terdiam sambil terus memanjatkan doa sesuai keyakinan mereka masing masing untuk memohon keselamatan.
Seperti dugaan mereka mobil tiba tepat pukul 3 pagi, Doni memarkirkan mobilnya di halaman sebuah bangunan yang terlihat seperti balai desa di sana.
" Apakah sudah sampai?" tanya Tazkia yang melihat laju mobil terhenti.
" Sepertinya" jawab Aditya
Satu persatu dari mereka mulai turun dari mobil untuk melihat keadaan sekitar, di luar nampak masih gelap dengan suara jangkrik dan juga katak yang saling bersahutan. Prasetia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang bisa ia tanyai.
" Sepertinya ini masih terlalu pagi, apa sebaiknya kita masuk saja dan tunggu matahari terbit baru kita bertanya pada warga sekitar." ucap Prasetia memberi usulan.
" Ya gue setuju, lagi pula di luar udaranya sangat dingin." ucap Aditya sambil sesekali menguap.
Prasetia pun lantas melangkah hendak memasuki mobil kembali di ikuti oleh beberapa temannya.
" Adik semua ini dari mana? dan hendak kemana?" tanya seseorang yang membuat langkah kaki mereka terhenti.
Mendengar suara itu semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara, terlihat seorang laki laki paruh baya mengenakan baju koko dan juga sarung berjalan mendekat ke arah mereka.
Melihat bapak bapak itu Prasetia lantas berinisiatif mendekat hendak menanyakan apakah benar ini Desa Tanjung Tari apa bukan.
" Permisi pak, apa betul ini desa Tanjung Tari?" tanya Prasetia.
" Bukan dek, desa Tanjung Tari masih beberapa kilometer lagi dari sini." ucap bapak tersebut.
" Kalau boleh tahu kami harus ke arah mana ya pak untuk bisa ke sana?" tanya Prasetia lagi.
" Waduh kalau untuk itu kalian harus menunggu pagi terlebih dahulu karena jalan menuju ke sana tidak bisa di lewati kendaraan roda empat, adik harus berjalan atau setidaknya naik sepeda motor untuk menuju ke sana." ucap bapak tersebut.
" Lalu kami harus bagaimana pak?" ucap Prasetia.
__ADS_1
" Lebih baik adik menunggu sampai pagi dulu kemudian temui pak kades, beliau pasti akan membantu kalian, sedangkan untuk sekarang bagaimana kalau kalian ikut ke surau untuk sholat subuh bersama." ucap bapak tersebut.
" Baiklah pak, bapak tunggu dulu ya saya akan memberitahu teman teman saya." ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh yang lainnya.
Prasetia lantas melangkah kembali ke arah teman temannya menunggu dan menjelaskan informasi yang ia dapatkan dari bapak bapak tadi, semuanya setuju untuk mengikuti anjuran bapak bapak tersebut kecuali Aldo dan Doni mereka berdua memilih menunggu di mobil.
Ketika Prasetia sibuk menjelaskan lain halnya dengan Tazkia yang terus menatap ke arah bapak bapak itu, Tazkia merasa ada hawa yang berbeda terpancar dari bapak bapak itu namun Tazkia tidak tahu apa, ketika Tazkia menatap bapak bapak tersebut bapak itu lantas balas menatap Tazkia kemudian tersenyum.
" Bapak itu tahu?" tanya Tazkia dalam hati yang terkejut karena bapak tersebut membalas tatapannya dengan senyum yang ramah.
" Assalamualaikum wahai keturunan hawa, aku mengerti kamu menyadari kehadiranku, tenanglah nak aku tidak bermaksud jahat, aku hanya ingin mengingatkan jaga diri kalian baik baik, hindari perbuatan yang melenceng, gunakan kelebihan mu untuk semakin dekat dengan-Nya, awasi kedua teman mu itu aku merasa mereka merencanakan sesuatu yang buruk." ucap suara yang entah datang dari mana membuat Tazkia seketika terkejut dan langsung menoleh ke arah teman temannya, namun anehnya mereka tetap asyik berdiskusi seperti tidak mendengar suara yang baru saja di dengar Tazkia.
" Kamu tidak perlu bingung, jangan lupakan pesan bapak, bapak pergi dulu Assalamualaikum." ucap suara itu lagi.
Tazkia yang masih mencari suara siapa itu, lantas kembali hendak menatap bapak bapak tadi, namun saat pandangannya ke arah sana bapak bapak tersebut sudah tidak ada membuat Tazkia menjadi tertegun di buatnya.
" Ayo kita ke surau bapak bapak itu pasti menunggu kita." ajak Prasetia kemudian.
" Loh mana bapak bapak tadi Pras?" tanya Aditya.
Ketika mereka tengah sibuk mencari bapak bapak tersebut adzan subuh mulai berkumandang.
" Mungkin beliau sudah lebih dulu ke surau, kalian terlalu lama sih, ayo kita segera berangkat." ucap Prasetia.
" Baiklah, ayok ki " ucap Sinta namun Tazkia hanya diam membatu tidak menanggapinya.
" Ki" teriak Aditya yang lantas membuyarkan Tazkia dari lamunannya.
" Eh iya iya ayo berangkat." ucap Tazkia kemudian.
*********
Pagi harinya sesuai anjuran bapak bapak itu Prasetia pergi bersama Tazkia menemui kades di sana.
__ADS_1
" Permisi pak boleh kami bertanya?" ucap Prasetia.
" Iya ada apa?" tanya seseorang yang sedang menyapu halaman balai desa.
" Kalau ingin bertemu pak kades kita harus pergi kemana?" ucap Prasetia.
" Kebetulan saya kades di sini, ada apa kalian mencari saya?" tanya orang itu.
" Oh perkenalkan pak saya Prasetia dan ini teman saya Tazkia, tujuan kami menemui bapak untuk menanyakan akses menuju desa Tanjung tari pak?" ucap Prasetia.
Kades tersebut menatap ke arah Prasetia dan Tazkia dari atas hingga bawah menerka nerka ada tujuan apa mereka pergi ke desa itu.
" Apa kalian mahasiswa dari kota?" tanya kades tersebut.
" Iya pak"
" Oh kalian sudah datang rupanya, bapak sudah menunggu kalian sejak semalam, kalian dari UI bukan?" tanya Kades tersebut memastikan.
" Ia pak, bapak tahu kedatangan kami?" tanya Tazkia.
" Ia, pak Reno sudah menghubungi saya dan mengatakan akan ada enam anak didiknya yang akan mampir ke sini untuk di antar ke desa Tanjung tari, bapak sudah menunggu dari semalam hanya saja karena mengantuk bapak jadi ketiduran." ucap bapak kades tersebut sambil terkekeh.
" Oh begitu pak." ucap Prasetia.
" Iya, kenalkan saya Ardi panggil saja saya sesuka kalian." ucap kades tersebut.
" Iya pak, lalu kapan kami bisa berangkat ke sana." tanya Tazkia.
" Secepatnya saya sudah meminta bantuan kepada beberapa orang warga untuk mengantar kalian ke sana, untuk mobil kalian bisa memarkirkannya di sana saja, selanjutnya kalian bisa menumpang dengan warga menuju ke desa Tanjung tari." ucap kades tersebut.
" Terima kasih banyak pak atas bantuannya." ucap Prasetia.
" Iya nak tidak perlu sungkan" ucap kades tersebut.
__ADS_1
Bersambung