
"Kau sudah mati... tidak mungkin kau tahu bahwa aku dalang di balik semua ini..." ucap Herman dengan tersendat sendat karena menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Sedangkan warga desa dan juga Aditya yang mendengar hal itu sontak di buat terkejut, mereka sama sekali tidak tahu bahwa rumor itu selama ini hanyalah tipuan belakang karena mereka tidak pernah membuktikannya secara langsung sosok apa yang ada di balik pintu ketika ketukan misterius itu menghantui rumah rumah warga, yang mereka tahu hanya katanya katanya tanpa ada yang melihatnya secara langsung.
Mendengar ucapan Herman barusan, beberapa warga nampak berpikir dan saling pandang satu sama lainnya.
"Oh jadi kamu dalang dari teror ketukan di pintu tiap malamnya?" teriak salah seorang warga dengan kesal.
"Bu... bukan begitu... aku..." ucap Herman bingung karena sudah tertangkap basah oleh seluruh warga kampung.
"Kita hajar saja di pak biar kapok! kalau perlu bakar dia!" teriak warga yang lainnya.
Beberapa warga nampak berhamburan mendekat mengepung Herman agar tidak bisa lari lagi kemudian menghajarnya beramai ramai. Sampai kemudian pak Kades yang melihat Herman sudah terkulai dengan lemas karena di keroyok masa, lantas mulai menghentikan aksi warganya.
"Sudah hentikan! lebih baik kita bawa saja Herman ke kantor polisi sekarang dari pada kalian mengeroyoknya seperti ini!" teriak Kades tersebut berusaha melerai para warganya.
Betul itu...
Kita bawa saja ke kantor polisi...
Teriak beberapa warga yang lain, pada akhirnya Herman di gelandang warga menuju ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Setelah kepergian warga kampung, kini di kantor desa hanya tersisa Ratna, Aditya dan juga Tazkia di sana. Ratna nampak sedih menatap ke arah Tazkia yang kini tengah menunduk dan tak mengucapkan sesuatu apapun, sepertinya arwah Eko masih ada di tubuh Tazkia saat ini.
"Pergilah mas... pergilah dengan tenang... Ratna sudah ikhlas..." ucap Ratna sambil menahan isak tangisnya, karena merelakan seseorang yang sudah menjadi separuh dari hidup kita tidaklah mudah. Mungkin selama ini sesuatu yang tidak bisa membuat Eko naik ke atas adalah perasaan Ratna yang tidak rela melepaskannya dan rasa bersalah Eko ketika mengetahui sang istri di perkosa oleh Herman tetangganya.
Tazkia yang semula menunduk lantas mulai mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Ratna kemudian pingsan, untung saja Aditya selalu berada di sampingnya sehingga ketika Tazkia pingsan Aditya dapat menangkap tubuhnya dengan cekatan.
"Mas..." ucapnya lirih dengan nada yang sendu.
Dari kejauhan entah itu halusinasi atau memang kenyataan, Ratna seperti melihat suaminya melangkah naik ke atas dengan tersenyum menatap ke arahnya. Ratna yang menyaksikan hal itu tentu saja langsung menangis tersedu tanpa bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
***
Sementara itu Faris memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil milik Tazkia. Karena jalanan yang macet ia menghabiskan waktu hampir 2 jam lebih untuk sampai ke kampung ini. Ketika Faris datang suasana kampung sudah sedikit tenang meski masih terlihat beberapa warga nampak berkumpul membicarakan tentang apa yang terjadi barusan, membuat Faris penasaran dan langsung mendekat ke arah kerumunan itu.
"Untung saja kita tidak jadi membakar 2 anak muda itu dan Ratna hidup hidup, kalau sampai kita tadi membakarnya mungkin seluruh warga sudah di gelandang ke penjara saat ini." ucap salah satu ibu ibu sambil bergidik ngeri ketika menceritakannya.
"Betul itu, untung saja hantunya Eko muncul dan membongkar segalanya." timpal yang lainnya.
"Iya juga ya bu..." ucap yang lainnya tak kalah heboh.
"Apa di bakar? semoga saja tidak terjadi apa apa pada mereka berdua." ucap Faris dalam hati ketika mendengar percakapan warga desa tersebut.
Faris yang mendengar sepenggal cerita dari sekumpulan warga itu lantas mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah warga.
"Permisi bu, apakah ibu tahu di mana rumah pak Eko?" tanya Faris kemudian.
Beberapa warga yang tengah berkumpul lantas langsung menatap ke arah Faris begitu mendengar pertanyaan tersebut.
"Sepertinya ia bu karena saya datang terlambat setelah mereka." ucap Faris mencari alasan.
"Kamu pergilah lurus ke arah jalan setapak itu, setelah ada pertigaan kecil kalian belok ke kanan rumah nomor lima dari arah kalian berdiri." ucap ibu ibu tadi.
"Terima kasih banyak ya bu, saya permisi" ucap Faris kemudian hendak melangkah pergi namun urung ketika mendengar salah satu ibu ibu itu memanggilnya.
"Tunggu sebentar mas" ucap salah satu dari mereka membuat langkah kaki Faris terhenti ketika mendengarnya.
"Ucapkan permintaan maaf kami pada teman kamu ya? sepertinya kami sudah keterlaluan tadi." imbuhnya lagi.
Faris yang mendengar perkataan ibu ibu itu hanya bisa mengangguk kemudian melangkah pergi dari sana sambil terus memikirkan perkataan ibu ibu tadi yang membuat Faris penasaran.
"Apa maksud mereka dengan keterlaluan?" ucap Faris dalam hati bertanya tanya sambil terus melangkahkan kakinya menuju rumah Eko.
__ADS_1
***
Kediaman Ratna atau Eko.
Terlihat Aditya tengah sibuk memasangkan plester pada dahi Tazkia yang terluka karena lemparan batu oleh salah satu warga tadi.
"Gila tuh warga pada brutal brutal banget sih?" ucapnya sambil terus mengobati dahi Tazkia.
"Namanya juga sudah tersulut emosi, lagi pula sudah tahu dalam kondisi seperti itu... lo bukannya bantu cari solusi malah ribut memikirkan diri sendiri." sindir Tazkia kemudian yang lantas mendapat tatapan tajam dari Aditya.
"Bukannya tidak mau bantu, hanya saja itu reflek dari tiap tiap manusia ketika hidup mereka sedang berada di ujung tanduk!" ucap Aditya sambil sengaja menekan dahi Tazkia yang terluka membuat Tazkia dengan spontan langsung memukul lengan Aditya dengan keras sambil mengadu kesakitan.
"Sakit Ki!" ucap Aditya dengan penuh penekanan.
"Masih lebih sakit pala gue lagi di banding dengan lengan lo itu!" ucap Tazkia sambil melotot ke arah Aditya tidak mau kalah.
Ketika keduanya sedang terlibat pertikaian kecil, dari ambang pintu sebuah suara lantas menghentikan kegiatan keduanya.
"Adit.. Kia... kalian baik baik saja?" tanya Faris dari arah pintu dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
"Faris" ucap Tazkia.
"Dokter Faris" ucap Aditya.
"Aku khawatir pada kalian berdua dan langsung menyusul kalian ke sini." ucap Faris sambil mengambil duduk di dekat Tazkia.
"Halah dok gak usah pakai basa basi deh tinggal bilang aja khawatir pada Kia saya tidak akan marah kok, walau rasanya... ya mungkin saya seperti nyamuk yang tidak di harapkan but it's ok, bukankah orang yang berpacaran selalu saja seperti itu?" ucap Aditya menyerocos.
"Adit!" ucap Tazkia dengan kesal, sedangkan Faris yang mendengar hal itu lantas tersenyum karena merasa tertangkap basah oleh Aditya barusan.
Bersambung
__ADS_1