Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Gigi di balas gigi ~Teror hantu bisu #10


__ADS_3

"KAMU HARUS BERTANGGUNG JAWAB AKAN APA YANG KAMU PERBUAT, GIGI DI BALAS GIGI, MATI DI BALAS MATI!" ucap Tazkia dengan menatap tajam ke arah Feby.


Feby yang mendengar hal itu tentu saja ketakutan bukan main, perlahan ia mundur dan terus mundur hingga kemudian mengambil langkah seribu dan lari dari sana.


Feby yang sudah ketakutan terus melangkahkan kakinya mencoba keluar dari rooftop gedung, di bukanya pintu menuju tangga, karena langkahnya yang terlalu tergesa dan tidak memperhatikan sekitar tepat ketika pintu terbuka tubuhnya bertabrakan dengan Prasetia yang memang hendak naik ke atas mencari keberadaan Tazkia di sana.


Aw


Ucap keduanya dengan spontan sambil menahan sakit karena bertabrakan barusan, Prasetia yang sadar akan kesalahannya yang tidak hati hati, berniat untuk meminta maaf kepada Feby, namun belum sempat dirinya meminta maaf, Feby sudah melenggang pergi dan berlari sekencang mungkin seakan tengah menghindari kejaran seseorang.


"Ada apa dengannya?" batin Prasetia bertanya tanya sambil menatap kepergian Feby dengan bingung.


Setelah kepergian Feby dari sana Prasetia kemudian lantas melanjutkan langkahnya kembali menuju rooftop. Sampai di sana ia cukup terkejut kala melihat Tazkia sudah berada di dekapan Rafi, sedangkan Rafi hanya terlihat melamun sambil menyanggah tubuh Tazkia yang tengah pingsan.


"Kia!"


Prasetia yang melihat hal itu tentu saja langsung bergegas menuju keduanya kemudian merebut Tazkia dari dekapan Rafi dengan paksa, seakan tidak suka dengan apa yang Rafi lakukan, padahal Prasetia sama sekali tidak tahu kejadian yang sebenarnya terjadi sebelum ia sampai di rooftop.


"Apa yang sudah lo lakukan ha?" teriak Prasetia yang lantas menyadarkan Rafi dari lamunannya.


"Tenang bro, ini gak seperti yang ada di pikiran lo, gue bakal jelasin nanti, sekarang ada urusan yang harus gue selesaikan terlebih dahulu." ucap Rafi sambil melenggang pergi dari sana kala ia baru teringat akan nasib Feby.


"Woi mau kemana lo!" teriak Prasetia yang melihat Rafi sudah berlarian pergi tanpa menjelaskan terlebih dahulu apa yang tengah terjadi.


*********


Sementara itu yang terjadi pada Feby.


Setelah bertabrakan dengan Prasetia di pintu rooftop tadi, Feby mempercepat langkah kakinya menuruni anak tangga, Feby benar benar tidak menginginkan mati secara konyol di sana.


Gigi di balas gigi

__ADS_1


Mati di balas mati


Suara suara misterius itu terus terus menggema memenuhi telinganya, membuat Feby semakin di buat ketakutan mendengar suara suara itu.


"Aku tidak sengaja melakukannya, bukan salah ku kau mati!" teriaknya dengan kesetanan.


Hahahaha jadilah teman ku dan bersama ku sampai akhir Feby!


Feby yang mendengar hal itu semakin di buat gelisah, hingga ia tak memperhatikan jalannya dan terjatuh menggelinding ke bawah hingga beberapa anak tangga dan baru berhenti tepat di persimpangan belokan anak tangga.


Darah segar terlihat mulai mengalir dari kepala Feby, pandangannya mulai kabur sedangkan nafasnya mulai terasa berat.


Gigi di balas gigi hihihihi


Feby yang merasa dunianya mulai berputar berusaha untuk tetap bangkit kala suara itu terus bergema di telinganya. Feby membalik posisinya jadi tengkurap kemudian bergerak merayap perlahan, Feby tidak mau mati sia sia di tangan arwah penasaran seperti Dona.


"Aku tidak mau mati! aku tidak mau mati hiks hiks." ucap Feby berulang ulang dengan mulut yang bergetar hebat.


"Aku minta maaf... jangan bunuh aku Don! jangan bunuh aku!" ucap Feby dengan nada setengah menangis sambil terus memohon.


Bagai gayung tak bersambut sosok itu seakan tidak memperdulikan suara rengekan serta tangisan Feby yang sedang memohon pengampunannya.


Sosok hantu Dona nampak tersenyum kemudian tertawa cekikikan membuat suasana kian mencekam bagi Feby, detik selanjutnya yang terjadi tubuh Feby seakan melayang kemudian terhempas dan jatuh menggelinding ke bawah hingga anak tangga yang terakhir, tidak cukup sampai di situ Feby lagi lagi terlempar dan berakhir membentur pintu menuju ke arah luar dengan suara yang cukup keras, akibat jatuh dari tangga yang cukup tinggi selama berkali kali pada akhirnya Feby menghembuskan nafas terakhirnya dengan kondisi mata yang melotot dan tubuh bersimbah darah.


Dari arah luar beberapa mahasiswa yang kebetulan tengah melintas di sana, cukup di buat penasaran akan suara benda jatuh dari arah dalam tangga darurat menuju rooftop.


Seorang mahasiswa nampak memberanikan diri membuka pintu itu, betapa terkejutnya mereka kala pintu itu di buka, Feby sudah tergelak di lantai dengan kondisi yang mengenaskan.


Sedangkan Rafi yang menuruni anak tangga dengan tergesa, lantas memperlambat langkahnya kala melihat cukup banyak noda bercak darah pada anak tangga.


"Feby!" batinnya kala melihat banyaknya bercak dara pada anak tangga hingga ke bawah.

__ADS_1


Dilanjutkannya langkah demi langkah menuruni anak tangga, saat sampai di anak tangga terakhir, tepat di area pintu sudah berkerumun beberapa mahasiswa seperti tengah melingkari sesuatu. Rafi yang penasaran akan apa yang ada di bawah lantas berlarian mendekat kemudian menyelinap hingga di barisan depan. Betapa terkejutnya Rafi saat melihat Feby sudah tewas di tempat dengan kondisi yang mengenaskan.


*********


Sore harinya.


Tazkia terlihat mengerjapkan matanya perlahan. Sebuah sinar yang berasal dari lampu menembus ke dalam retinanya begitu terang dan menyilaukan, hingga membuatnya dengan spontan mengangkat tangannya untuk menghalau cahaya itu agar tidak langsung mengenai matanya.


"Akhirnya lo bangun juga." teriak Sinta dengan gembira.


"Ssttt jangan berisik." ucap Aditya kemudian mengingatkan, sedangkan Sinta hanya tersenyum cengengesan kala menyadari volume suaranya terlalu kencang.


"Apa lo baik baik saja Ki?" tanya Prasetia kemudian.


Mendengar hal itu Tazkia nampak bangkit perlahan lalu bersandar pada dinding tembok di belakangnya.


"Gue di mana?" tanya Tazkia kala melihat sekelilingnya yang terdapat beberapa ranjang pasien berbaris rapi.


"Lo ada di ruang kesehatan Ki, gue seneng lo akhirnya sudah sadar." jawan Sinta.


Tazkia yang mendengar hal itu hanya diam, pikirannya kini melayang kembali mengingat ingat kejadian demi kejadian yang ia alami sebelum pingsan dan berakhir di ruang kesehatan.


"Bagaimana kondisi Feby dan Rafi?" tanya Tazkia kemudian.


Mimik wajah ketiganya lantas langsung berubah kala mendapat pertanyaan dari Tazkia, dari perubahan raut wajah ketiganya saja Tazkia sudah dapat memastikan bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk pada salah satunya.


"Tidak mungkin kan..." ucap Tazkia menggantung seakan enggan untuk meneruskan.


"Feby telah meninggal Ki, jatuh dari tangga darurat." ucap Sinta kemudian.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ki?" tanya Prasetia karena sejujurnya ia sudah di buat penasaran sejak dirinya di rooftop tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2