Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kalian harus segera membakar lukisan itu~Lukisan berdarah #17


__ADS_3

Semua orang terlihat berwajah gelisah sedang menunggu di luar ruang perawatan Tazkia setelah insiden Tazkia kesulitan bernafas tadi membuatnya langsung di bawa ke ruang tindakan.


Arini melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Prasetia yang tengah memasang wajah khawatir sedangkan Sinta jangan di tanya lagi sedari tadi dia sudah menangis tersedu sedu.


" Sebenarnya apa yang telah terjadi pada kalian? tante tidak akan memarahi kalian tapi tante harap katakanlah yang sejujurnya." ucap Arini sambil mengelus bahu Prasetia pelan untuk menyalurkan energi positif kepada Prasetia.


Prasetia menatap ke arah Arini dengan tatapan yang sendu detik berikutnya Prasetia menjelaskan semua detail kejadiannya mulai dari Aditya yang menerima lukisan, teror yang datang satu persatu kepada mereka, serta kedatangan Waluyo pada malam itu tak luput dari cerita Prasetia.


Arini mendengarkan kisahnya dengan seksama tepat ketika Prasetia mengatakan bahwa Tazkia menyusul Aditya ke alam lain raut wajah Arini berubah menjadi suram, dari awal ia di hubungi bahwa Tazkia masuk ke rumah sakit sebenarnya Arini sudah curiga akan apa yang sedang menimpa putrinya. Terlebih lagi ketika Arini melihat keadaan putrinya saat itu ia seperti merasakan hanya ada raga putrinya di sana sedangkan jiwanya Arini tidak merasakannya di manapun. Hanya saja karena Arini sudah memutuskan untuk menutup semua kelebihannya waktu itu membuat segala gerak geriknya terbatas, Arini hanya bisa berasumsi tanpa tau kepastian dari apa yang di rasakan nya waktu itu.


" Harusnya kalian menjelaskannya dari awal, setidaknya tante bisa menyusul Tazkia dan membantunya menjemput Aditya, namun yang kalian lakukan malah sebaliknya, apakah kalian tahu akan konsekuensi dari langkah yang kalian ambil?" ucap Arini dengan sedikit kesal sambil menatap ke arah Sinta dan juga Prasetia yang terus menunduk sedari tadi.


" Maafkan kami tan, kami terlalu shock saat itu, apalagi ketika mengetahui pak Waluyo meninggal membuat kami semakin tertekan dan depresi." ucap Prasetia menjelaskan.


" Lalu bagaimana keadaan Aditya sekarang." ucap Arini.


" Aditya sekarang sudah lebih baik tante." ucap Sinta menambahkan dengan suara yang sesenggukan karena habis menangis.


" Kalau begitu tugas kalian kali ini tinggal satu, bakar lukisan itu secepatnya." ucap Arini memberikan perintah pada keduanya.


" Apakah anda yakin tan? bagaimana jika." ucap Prasetia namun terpotong karena dokter yang menangani Tazkia keluar dari ruangan.


" Bagaimana keadaan Tazkia dok?" tanya Arini ketika melihat dokter Faris keluar dari ruangan Tazkia.


" Terdapat sedikit luka serta iritasi pada area tenggorokan yang menjadi jalan selang ventilator terpasang, selain itu pasien juga terlalu sering memaksa untuk berbicara dan melawan udara yang dihembuskan ventilator, sehingga membuat fungsi ventilator kurang efektif. Kami sudah memberikan pereda nyeri agar mengurangi rasa tak nyaman pada tenggorokannya, untuk selebihnya kita lihat perkembangan keadaan Tazkia selanjutnya." ucap Faris menjelaskan.

__ADS_1


" Baiklah terima kasih banyak dok." ucap Irawan.


" Kalau begitu saya permisi dulu." ucap dokter Faris kemudian melangkah pergi meninggalkan semua orang di sana.


" Kerjakan apa yang baru saja tante katakan, semakin cepat semakin baik, tante tidak mau lukisan itu akan menjadi magnet bagi energi energi negatif untuk berkumpul." ucap Arini kepada Prasetia dan juga Sinta.


" Baiklah tan, kalau begitu kami pamit dulu." ucap Prasetia yang di balas anggukan oleh Arini.


************


Apartment golden place


Prasetia dan Sinta sampai di parkiran apartment, keduanya kemudian lantas bergegas memasuki lift menuju unit apartment milik Aditya.


Prasetia membuka perlahan pintu apartment milik Aditya, jangan di tanya dari mana mereka berdua mengetahui kode pintu apartment Aditya, pasalnya apartment Aditya merupakan markas kedua setelah mansion milik Prasetia yang sering mereka gunakan untuk nongkrong bersama, jadi tidak heran jika Prasetia dan Sinta mengetahui kode akses untuk masuk ke dalam.


" Lo ngerasa ada yang beda gak sih Pras?" tanya Sinta kala merasa hawa aneh ketika memasuki unit apartment milik Aditya.


" Lo bener sin, sebaiknya segera kita selesaikan karena perasaan gue benar benar tidak enak." ucap Prasetia.


" Ya lo benar." ucap Sinta sambil mencoba menyalakan lampu ruang tamu agar memudahkan langkah keduanya dalam mencari lukisan tersebut.


Sinta mencoba memencet tombol lampu berkali kali namun tak kunjung menyala, baru kemudian setelah kesekian kalinya lampu di ruang tamu menyala namun dengan cahaya yang redup seperti akan mati karena konsleting listrik.


" Kok aneh? bukannya Aditya selalu membayar biaya listrik tepat waktu, tapi kenapa seperti ini? apa terjadi konsleting listrik pada salah satu kabel penghubungnya?" ucap Sinta pada diri sendiri kala melihat lampu di ruang tamu hanya menyala redup.

__ADS_1


" Ayo Sin kita harus segera mengambil lukisan itu." teriak Prasetia.


" Iya sebentar." ucap Sinta kemudian melangkah mendekat ke arah Prasetia untuk bergabung.


Setelah sampai di ruang tamu tepatnya di depan lukisan tersebut keduanya lantas terkejut kala melihat ada yang berubah dari lukisan itu, lukisan yang semula hanya ada seorang gadis membawa bunga tulip merah di tangannya, kini berubah menjadi sepasang laki laki dan perempuan saling berpelukan satu sama lain dengan bunga tulip merah di tangan sang pria.


" Apa lo juga menyadarinya Sin?" tanya Prasetia.


" Iya Pras ada yang berubah dari lukisan ini." ucap Sinta.


Prasetia kemudian lantas mengambil ponsel miliknya kemudian membuka senter dan mengarahkannya pada lukisan, betapa terkejutnya Sinta dan Prasetia ketika cahaya senter mengarah ke lukisan, laki laki dan perempuan yang tengah berpelukan itu tiba tiba saja berganti gaya menjadi menatap ke arah Prasetia dan Sinta, Prasetia yang terkejut lantas dengan spontan menjauhkan cahaya senter dari lukisan tersebut.


" Astaga!" ucap Prasetia terkejut dan langsung menjauhkan cahaya senter dari lukisan.


" Tidak tidak mungkin kita salah lihat, lagi pula cahaya lampu saat ini kan sedang redup." ucap Sinta masih positif thinking yang lantas di balas anggukan oleh Prasetia.


Karena rasa penasaran yang menggebu keduanya kemudian melihat kembali ke arah lukisan, semakin mereka melihat Prasetia dan Sinta semakin di buat bingung karena lukisan tersebut tetap seperti semula yaitu perempuan dan laki laki yang saling berpelukan sambil membawa bunga tulip merah di tangannya.


" Apa lo berpikir hal yang sama dengan ku Sin?" tanya Prasetia lagi.


" Apa lo ingin mencobanya lagi kali ini?" tanya Sinta balik yang mengerti akan arah ucapan Prasetia.


Mendengar pertanyaan balik Sinta membuat Prasetia lantas menelan saliva nya dengan kasar, dengan perlahan Prasetia kemudian mengangkat ponselnya kembali dan mengarahkan cahaya senter ke arah lukisan.


Ketika cahaya senter mengarah tepat ke arah lukisan keduanya lantas kembali terkejut kala melihat ....

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2