Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kamu siapa?


__ADS_3

Prasetia mengikuti langkah Aditya dengan langkah kaki yang malas karena baginya ucapan Aditya sama sekali tidak masuk akal, Prasetia jelas jelas bertemu dan bahkan sempat mengobrol dengan nenek Tazkia malam itu, bagaimana mungkin Aditya mendadak mengatakan bahwa nenek Tazkia sudah meninggal cukup lama, tentu saja Prasetia tidak akan langsung mempercayai ucapan Aditya sebelum ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Aditya terus menuntun Prasetia ke arah belakang villa menuju bangunan yang berisi makam nenek Tazkia.


"Masuklah langsung ke dalam jika lo ingin memastikannya secara langsung bahwa ucapan gue itu adalah sebuah kebenaran." ucap Aditya sambil menunjuk ke arah dalam bangunan ketika sampai di sana.


Prasetia menatap ke arah bangunan itu dengan wajah yang penasaran akan apa yang di bilang Aditya padanya, Prasetia kemudian melangkahkan kakinya perlahan sambil dengan gerakan membuka pintu bangunan tersebut.


"Pras, Adit kalian di mana?" teriak Sinta sambil berjalan secara terburu buru dan terus memanggil nama keduanya.


Prasetia yang mendengar namanya di panggil lantas menghentikan gerakannya.


"Dit kita di cariin tuh." ucap Prasetia karena Aditya hanya diam saja tanpa menyahuti panggilan dari Sinta.


"Adit! Pras!" teriak Sinta lagi karena tak kunjung menemukan keduanya.


"Tanggunglah Pras kurang dikit lagi, urusan Sinta nanti aja." ucap Aditya dengan nada datar yang lantas membuat Prasetia bimbang.


Sampai kemudian Prasetia mengikuti perkataan Aditya dan melanjutkan apa yang semula tertunda, namun lagi lagi di saat pintu sudah mulai terbuka sedikit tepukan yang mendarat cukup keras di bahu Aditya lantas mengejutkan keduanya.


"Eh ayam ayam ayam." teriak Aditya yang terkejut kala mendapat tepukan secara mendadak di bahunya.


Keduanya kemudian lantas berbalik badan dan mereka langsung melihat Sinta yang sedang menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang kesal.


"Kalian! gue mencari kalian hampir ke seluruh sudut villa dan ternyata kalian di sini." ucap Sinta dengan kesal.


"Wo wo wo santai Sin, kenapa lo sangat marah?" ucap Aditya.


"Dokter Faris kecelakaan dan sekarang sedang ada di klinik, gue mencari kalian sedari tadi hendak mengajak kalian ke sana menyusul Kia." ucap Sinta menjelaskan.


"Kecelakaan? di mana? lalu bagaimana keadaan Kia?" tanya Prasetia dengan nada yang khawatir.

__ADS_1


Aditya dan Sinta yang mendengar hal itu lantas langsung menoleh ke arah Prasetia karena sepertinya ucapan Prasetia barusan itu adalah salah.


"Em Pras yang harusnya lo tanyakan itu keadaan dokter Faris bukan Kia." ucap Aditya.


"Lah gue kan tanya gak ada salahnya kan? lagian dokter Faris tentu sudah di tangani oleh dokter handal sedangkan Kia kini pasti tengah sedih." ucap Prasetia.


"Terserah lo Pras, lo udah gila sih kalau menurut gue." ucap Aditya kemudian melenggang pergi di ikuti dengan Sinta yang hanya geleng geleng kepala mendengar ucapan Prasetia barusan.


"Hei apa yang salah? gue benar kan?" ucap Prasetia setengah berteriak sambil melangkah mengikuti Aditya dan juga Sinta yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Crieeetttt


Setelah kepergian mereka bertiga, pintu bangunan itu terbuka secara perlahan dengan sendirinya memperlihatkan sosok nenek Tazkia yang sedang menatap ke arah kepergian ketiganya dengan senyuman yang mengerikan, hingga kemudian pintu itu kembali tertutup namun secara mendadak dan dengan suara yang keras membuat langkah ketiganya terhenti kala mendengar suara itu.


Ketiganya saling pandang satu sama lain akan suara apa barusan.


"Apaan tuh?" tanya Aditya sambil memegang tengkuknya yang tiba tiba saja merinding.


********


Sementara itu di sebuah klinik.


Tazkia melangkahkan kakinya bergegas menuju ruang perawatan Faris, setelah mendapat telpon dari Tejo tadi membuatnya langsung bergegas berkendara menuju klinik untuk memastikan keadaan Faris, apalagi mengingat mimpinya tadi pagi membuat pikiran Tazkia semakin kalut dan membayangkan yang tidak tidak, padahal baru tadi pagi ia menenangkan hatinya bahwa semua hanyalah bunga tidur namun sayangnya lagi dan lagi Tazkia selalu di patahkan dengan kenyataan bahwa semua yang ia lihat benar benar terjadi.


Tazkia sungguh tidak menginginkan kelebihan seperti ini, mempunyai kelebihan seperti melihat masa depan dan masa lalu, membuat dirinya seperti di hantui ketakutan akan kehilangan orang orang terdekatnya, apalagi gangguan dari makhluk tak kasat mata juga semakin menambah rasa tak nyaman dalam diri Tazkia menumpuk dan semakin meninggi.


"Non Kia." ucap Tejo yang melihat Tazkia sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Bagaimana keadaanya pak?" tanya Tazkia langsung to the point karena memang itu yang sedari tadi menjadi pertanyaannya.


"Non Kia tenang saja semuanya baik baik saja, memang ada beberapa luka yang harus di jahit namun selebihnya baik, hanya saja dokter menyarankan untuk pergi ke rumah sakit pusat dan melalukan pengecekan secara keseluruhan lagi karena memang peralatan di sini tidak terlalu lengkap." ucap Tejo menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Tejo barusan membuat hati Tazkia sedikit melega karena setidaknya Faris baik baik saja.


"Terima kasih banyak pak, saya tidak tahu lagi jika tidak ada bapak di sana waktu itu." ucap Tazkia.


"Janganlah seperti ini non, itu sudah menjadi kewajiban bapak untuk menolong siapapun yang sedang kesusahan." ucap Tejo.


"Sekali lagi terima kasih banyak pak."


"Iya non, kalau begitu saya pamit dulu ya non." ucap Tejo yang di balas anggukan oleh Tazkia.


Tejo kemudian melenggang pergi dari sana meninggalkan Tazkia sendirian di lorong rumah sakit. Tazkia kemudian lantas melangkahkan kakinya memasuki ruang rawat inap Faris.


Tanpa Tazkia sadari di sudut ruangan klinik terlihat sebuah sosok tinggi besar dengan mata merah menyala menatap ke arah Tazkia dengan tatapan yang marah, seakan tak suka melihat Tazkia begitu mengkhawatirkan Faris, namun setelah Tazkia masuk ke dalam ruangan perlahan sosok itu lenyap seketika seakan tak berbekas.


**


Seulas senyum nampak terlihat menghiasi wajah cantik Tazkia kala mengetahui Faris sudah duduk dan bersandar di atas brankar pasien. Tazkia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Faris dan mengambil duduk di sebelah ranjang Faris.


"Kamu sudah bangun? bukankah aku sudah bilang untuk berhati hati? kenapa kamu nakal sekali." ucap Tazkia nyerocos.


Faris diam tak menanggapi apapun ucapan Tazkia barusan membuat Tazkia lantas menatap ke arah Faris dengan bingung akan sikap Faris yang aneh.


"Ada apa Ris? kenapa kamu hanya diam? sakit sekali pasti ya?" ucap Tazkia kemudian sambil mengelus lengan Faris yang terbalut akan perban.


Lagi lagi Faris hanya diam membuat Tazkia langsung mendongak dan menatap ke arah Faris dengan tatapan menelisik penasaran apa yang sedang laki laki itu pikirkan.


"Kamu siapa?" tanya Faris tiba tiba yang lantas membuat Tazkia langsung melongo mendengar pertanyaan Faris barusan.


"Apa?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2