Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kakek itu bukanlah manusia ~ Misteri villa nenek #8


__ADS_3

Angin dingin berhembus masuk ke dalam kamar seperti menggelitik Tazkia, yang masuk perlahan melalui pori pori nya begitu dingin dan menusuk membuat Tazkia mendekap guling nya semakin erat mencari kehangatan di sana. Kepulan asap terlihat masuk perlahan melalui celah celah jendela kamar Tazkia terbang semakin mendekat ke arah ranjang Tazkia.


Dalam beberapa detik waktu yang singkat kepulan asap itu membentuk sebuh wujud menyerupai Faris, namun dengan manik mata berwarna merah menyala sambil tersenyum menyeringai. Di sentuhnya perlahan tubuh Tazkia dari ujung kaki hingga naik ke atas dengan gerakan sangat sensual, Tazkia yang sedang berlayar di pulau impiannya merasakan sesuatu yang lain dari sentuhan yang mendarat perlahan di tubuhnya, hingga tanpa sadar suara desah*n perlahan terdengar mengalun dari mulut kecilnya dengan matanya yang masih tertutup rapat.


Mendengar suara yang khas keluar dari mulut Tazkia, membuat sosok yang menyerupai Faris itu tersenyum puas dan melancarkan aksinya semakin intens, dikecupnya perlahan tubuh Tazkia mulai dari area kaki hingga kemudian semakin naik semakin naik hingga sampai di leher Tazkia dan meninggalkan jejak tanda merah di sana, membuat Tazkia semakin terasa terbang melayang menikmati setiap sentuhannya hingga kemudian....


Bruk


Suara pintu yang di tendang dengan keras dari arah luar mengagetkan Tazkia, hingga langsung membuatnya terkesiap bangun dan menatap sekitar dengan jantung yang berdegup kencang karena kaget, sedangkan sosok itu jangan ditanya lagi kemana perginya karena tepat ketika pintu itu terbuka, sosok yang menyerupai Faris langsung menghilang dan kembali berubah menjadi kepulan asap, lalu keluar melewati celah celah jendela kamar Tazkia hingga tak tersisa.


"Apa yang terjadi Ris?" tanya Tazkia dengan bingung menatap ke arah Faris yang terlihat melihat sekeliling kamar Tazkia seperti mencari seseorang di sana.


"Di mana dia bersembunyi Ki? katakan sekarang dan aku tidak akan marah." ucap Faris dengan nada penuh penekanan seakan seperti menahan segala puncak amarahnya agar tidak keluar.


"Siapa yang kamu maksud?" ucap Tazkia sambil bangkit dan melangkah mendekat ke arah Faris berharap mendapat penjelasan tentang sikap Faris yang menurutnya aneh.


Faris diam namun dengan wajah yang masih merah padam sambil tetap menatap ke sekeliling mencari seseorang, siapa tahu tengah bersembunyi di salah satu sudut kamar Tazkia. Bagaimana Faris tidak marah dan kesal di saat ia hendak pergi ke dapur dan membuat kopi Faris mendengar suara desah*n dari dalam kamar Tazkia, awalnya Faris mengira itu hanya sebuah audio yang mungkin berasal dari film yang di tonton Tazkia, namun ketika Faris berjalan semakin dekat ke arah pintu, suara itu terdengar seperti familiar di telinga Faris.


Faris yang memang sedang kalut dan membayangkan yang tidak tidak apalagi setelah pertengkarannya dengan Tazkia tadi malam di dapur, membuat Faris kehilangan akal dan langsung mendobrak pintu kamar Tazkia yang padahal pintunya tidak pernah sekalipun Tazkia kunci.


Ketika melihat sekeliling dan memang kosong, Faris tampak bernafas lega sambil memijat keningnya perlahan karena ia menganggap suara yang tadi hanyalah halusinasinya saja, Tazkia yang melihat gelagat aneh Faris lantas mendekat dan memegang keningnya untuk mengecek suhu badan Faris takut kalau ia sedang demam.


Rasa hangat dari sentuhan tangan Tazkia membuat mata Faris perlahan terbuka, namun sayangnya tepat ketika mata Faris terbuka ia melihat sesuatu seperti bekas merah keunguan di leher Tazkia yang tentu saja Faris tahu bekas apa itu.

__ADS_1


Faris menepis tangan Tazkia dengan kasar membuat Tazkia kembali bingung tentang sikap Faris barusan.


"Ada apa Ris?" tanya Tazkia dengan bingung.


"Tanda di lehermu menjelaskan segalanya Ki, aku gak nyangka kamu serendah itu." ucap Faris dengan nada dingin kemudian melenggang pergi dari kamar Tazkia.


Sedangkan Tazkia hanya menatap bingung mencerna setiap ucapan yang dikatakan Faris barusan.


*********


Keesokan harinya.


Sinar mentari tampak menyilaukan mata Aditya yang tengah terpejam membuatnya mau tidak mau harus membuka mata. Aditya mengerjapkan matanya perlahan kemudian bangkit dengan posisi duduk sambil mengucek matanya.


Dipukulnya secara spontan berkali kali tubuh Prasetia dan juga Sinta agar segera bangun dan melihat keadaan sekitar.


"Bangun geis!" ucap Aditya setengah berteriak.


"Apaan sih lo Dit, ganggu orang tidur aja." ucap Prasetia dengan nada yang kesal namun tetap langsung bangkit dan duduk sambil mengucek matanya perlahan.


Prasetia yang semula kesal dan marah karena Aditya membangunkannya dengan kasar, mendadak menjadi diam tak bisa berkata apa apa ketika melihat posisi mereka yang berada di makam tua, padahal jelas jelas semalam mereka menginap di rumah lelaki tua itu, bagaimana bisa ketika terbangun mereka malah berada di atas kuburan tua yang sudah tak terurus.


Ketiganya kemudian langsung bangkit dan berlari ngibrit menjauh dari kuburan tua itu sejauh mungkin, mereka benar benar tidak menyangka bahwa lelaki tua semalam bukanlah manusia.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlarian tanpa arah tujuan mereka tampak berhenti untuk mengambil nafas sebentar. Keringat mulai bercucuran membasahi dahi ketiganya. Prasetia nampak sedikit bersandar di sebuah pohon mencoba mengistirahatkan dirinya, sedangkan Sinta dan juga Aditya sudah klesotan di bawah.


"Bagaimana bisa kita berakhir di kuburan?" tanya Sinta dengan nafas yang ngos ngosan.


"Mana gue tahu." jawab Prasetia.


Aditya kemudian lantas merogoh saku celananya karena merasa ada sesuatu yang basah merembes di saku celananya.


"Mungkin tempe yang aku kantongin kemarin kali ya?" ucapnya dalam hati sambil memasukkan tangannya mengambil sesuatu di saku celana.


Bau amis mulai menyebar kala Aditya berhasil mengeluarkan sesuatu dari sakunya, perlahan tapi pasti di bukanya genggaman tangan Aditya, betapa terkejutnya mereka ketika tangan Aditya di buka yang berada di tangannya adalah kepala kadal yang hanya tinggal seperempat dengan mata yang sudah hilang satu sedangkan di dekatnya terdapat cacing yang melilit kepala kadal itu.


Rasa mual langsung memenuhi perut Prasetia dan Aditya ketika mengingat mereka makan banyak semalam tanpa tersisa sama sekali.


Hoek hoek hoek


Keduanya langsung muntah secara bersamaan kala bayangan mereka makan dengan lahapnya semalam di gubuk milik kakak tua itu.


"Untung aku tidak makan semalam." ucap Sinta dalam hati bersyukur karena tidak memakan makanan itu.


Sinta menepuk tepuk pundak keduanya secara bergantian kemudian memberinya air yang masih tersisa di botol mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2