
"Ada sesuatu yang membuatnya tertahan, entah itu perasaan bersalah, rasa cintanya padamu atau..." ucap Tazkia sengaja menjedanya karena ia tahu kalimat selanjutnya mungkin akan sangat kasar baik bagi Rafi maupun Feby. "Pembunuhnya!" sambung Tazkia yang lantas membuat raut wajah Rafi dan Feby berubah drastis, seakan tidak suka pada ucapan Tazkia barusan.
"Tidak mungkin karena aku Dona tidak bisa pergi dengan tenang." batin Rafi kala mendengar ucapan Tazkia barusan.
Feby yang melihat raut wajah Rafi berubah lantas menjadi kesal, Feby bahkan membutuhkan usaha yang keras untuk membuat Rafi melupakan Dona, bagaimana bisa Tazkia yang bukan siapa siapa mendadak merusak segala rencananya, bukankah itu sangat menyebalkan?
"Sialan! aku bersusah payah agar sampai ke titik ini, sedangkan dia tiba tiba datang dan merusak segalanya." batin Feby dengan kesal menatap ke arah dimana Tazkia berada.
Feby yang merasa tersinggung akan ucapan Tazkia barusan, tanpa di duga bersikap impulsif dan langsung mendorong tubuh Tazkia kemudian mencekiknya dengan kuat, membuat Tazkia yang tidak siap dengan serangan itu lantas terhuyung dan jatuh terlentang di bawah dengan posisi Feby yang naik di atas tubuhnya dan mencekik dirinya.
"Lancang sekali lo!" teriak Feby dengan lantang sambil mencekik leher Tazkia.
Tazkia yang mendapat serangan secara mendadak, lantas berusaha melindungi dirinya dan menahan tangan Feby sambil berusaha melepaskannya dari leher Tazkia.
Namun tanpa di duga tepat ketika tangannya dan tangan Feby bersentuhan sebuah penglihatan tiba tiba terlintas di dalam kepala Tazkia.
Dalam penglihatannya Tazkia di bawa ke sebuah rooftop gedung yang ia yakin itu adalah tempatnya sekarang berada. Awalnya Tazkia sedikit bingung kenapa ia malah di tarik kemari, sampai pada akhirnya terlihat Dona dari arah pagar pembatas rooftop naik ke atas dengan perlahan dan susah payah, tentu saja Tazkia yang melihat hal itu sempat terkejut karena ternyata Dona tidak langsung jatuh ketika pertengkaran antara dirinya dan juga Rafi terjadi.
"Jika Dona bukan meninggal karena pertengkaran itu, lalu mengapa Dona tetap jatuh?" batinnya dalam hati bertanya tanya.
Pertanyaan demi pertanyaan terus berputar di benak Tazkia kala melihat Dona selamat, hingga kemudian kemunculan Feby dari balik tangki air mulai menjawab semua pertanyaannya.
Terlihat Feby berjalan dengan langkah tergesa mendekat ke arah Dona yang nampak sedikit shock karena hampir terjatuh dari rooftop gedung yang tinggi.
"Perempuan j*lang tidak tahu diri! harusnya lo sadar diri, dengan hadirnya lo di sisi Rafi aja itu sudah terlihat kesenjangan sosial, apalagi di tambah dengan hadirnya bayi sialan itu!" ucap Feby dengan nada yang kasar sambil menunjuk ke arah perut Dona.
Dona yang mendengar hal itu lantas langsung mendongak dan menatap ke arah Feby.
__ADS_1
"Dia gak salah, jangan bawa bawa bayi ku dalam masalah ini." ucap Dona tidak tinggal diam akan cercaan yang Feby berikan.
"Kau pikir kau siapa ha?" ucap Feby dengan kesal sambil mendorong tubuh Dona kemudian menindihnya, bagaikan sebuah kejadian yang terulang kembali apa yang dilakukan Feby pada Dona sama dengan apa yang di lakukan Feby pada Tazkia sekarang.
Di dalam penglihatannya itu Tazkia kembali melihat Feby mencekik Dona dengan kencang, ada beberapa kali perlawanan yang terlihat dari Dona namun selalu gagal karena ia kalah tenaga dengan Feby yang berada di atasnya.
Beberapa menit melakukan perlawanan dan berakhir dengan kegagalan, pada akhirnya Dona menghembuskan nafas terakhirnya. Feby yang melihat Dona sudah tidak bergerak lantas melepas cengkraman tangannya kemudian mengecek keadaan Dona yang sudah tergeletak lemas di bawah.
"Arg benar benar sial!" ucap Feby dengan kesal kala mengetahui Dona sudah tiada.
Feby kemudian terlihat menatap ke arah sekeliling mencari cara untuk membersihkan namanya dan juga memastikan tidak ada siapapun yang melihat aksinya, sampai kemudian Feby mulai menyeret tubuh Dona mendekat ke arah pagar rooftop.
Didirikannya perlahan tubuh Dona dengan menahan tubuh Dona dari belakang, sehingga akan terlihat seperti Dona yang melompat dengan sendirinya ke bawah bukan di dorong seperti fakta yang sebenarnya.
Tazkia benar benar shock dengan fakta yang di dapatkannya, sampai kemudian ia kembali merasa tertarik dan kembali pada kenyataan di mana Feby masih berada di atas tubuhnya dan mencekik lehernya dengan kencang.
Uhuk uhuk uhuk
Tazkia sedikit bisa bernafas lega kala cengkraman tangan Feby terlepas dari lehernya. Pikiran Tazkia mendadak menjadi blank, apalagi setelah Tazkia mendapat sebuah fakta yang membuat dirinya seakan tak percaya bahwa ternyata bukan Rafi yang membunuh Dona waktu itu.
"Lo sudah gila ya Feb! apa lo ingin membunuhnya?" teriak Rafi kala berhasil menjauhkan Feby dari Tazkia.
"Diam kamu! gadis itu harus di beri pelajaran agar tidak seenaknya kalau berbicara." ucap Feby tak mau kalah.
"Jangan gila lo! lagi pula apa yang diucapkan Kia adalah sebuah fakta bukan fitnah, jadi hentikan sikap bar bar lo ini." ucap Rafi yang sudah tidak tahan lagi akan sikap Feby yang tidak pernah berpikir panjang terlebih dahulu sebelum bertindak.
"APA KAU BELUM PUAS DENGAN MEMBUNUH KU!" ucap Tazkia dengan lantang namun suaranya nampak sangat berat dan seakan berubah seperti bukan Tazkia.
__ADS_1
Sedangkan Rafi dan juga Feby yang semula bertengkar lantas langsung terdiam dan menoleh ke arah sumber suara.
*********
Kantin
Prasetia, Sinta dan juga Aditya terlihat sudah memesan beberapa makanan untuk mereka santap bersama dan hanya tinggal menunggu kedatangan Tazkia saja.
"Tumben Kia lama?" ucap Sinta karena sudah lewat 20 menitan tapi Tazkia tak kunjung muncul juga.
"Iya nih, biasanya tuh anak paling gercep." balas Aditya.
"Gue susul Kia, kalian makan aja dulu keburu dingin nanti." ucap Prasetia bangkit yang di balas keduanya dengan anggukan tanda setuju.
Prasetia melangkahkan kakinya menuju ruang kelas di mana Tazkia ada mata kuliah hari ini, lorong demi lorong Prasetia lewati hingga kemudian ia sampai di pintu ruang kelas, namun sayangnya ruangan itu sudah kosong tak ada seorang pun di sana.
"Kemana Kia?" ucapnya dalam hati bertanya tanya ketika melihat ruang kelas sudah kosong.
Prasetia kemudian melangkah dan menyusuri area sekitar siapa tahu ia menemukan Tazkia di suatu tempat.
"Apa kalian melihat Kia?" tanyanya pada beberapa mahasiswa yang sedang asyik bercengkrama di taman kampus.
"Enggak, bukannya Kia udah keluar dari tadi?" ucapnya.
Mendengar hal itu Prasetia kembali melangkahkan kakinya mencari Tazkia namun anehnya Tazkia tetap tidak ketemu walau Prasetia sudah menyusuri setiap sudut kampus.
"Di mana sih sebenarnya Kia, kenapa tiba tiba gue jadi khawatir ya?" batin Prasetia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung