
Pagi harinya Tazkia sudah bersiap dengan pakaian olahraganya hendak olahraga pagi, lebih tepatnya sih olahraga bareng gebetan.
Aditya mengerjapkan matanya perlahan sambil menguap karena masih mengantuk, apalagi setelah mendengar suara semalam membuat Aditya tidak bisa tidur kembali.
"Lo mau joging Ki? tumben gak ngajak kita huaaaa." ucap Aditya sambil bangkit dan melangkah ke arah dapur.
"Gue ada janji kali ini Dit, maaf ya." ucap Tazkia merasa tidak enak.
"Sama Faris?" tebak Aditya sambil menuang air dari teko kemudian meminumnya.
"Iya"
"Apa menurut lo Faris benar benar mencintai lo?" tanya Aditya tiba tiba.
"Tentu saja" jawab Tazkia.
"Hem gue akan dukung apapun keputusan lo, meski mungkin akan ada seseorang yang terluka."
Mendengar hal itu Tazkia menghela nafasnya panjang karena ia tahu pasti Aditya akan membahas tentang Prasetia.
"Gue tahu Pras pasti terluka, namun jika gue mutusin Faris demi Pras tentu Faris juga akan terluka, lalu gue harus bagaimana?" ucap Tazkia dengan nada lirih.
"Gue gak bilang lo harus putus dengan Faris, tapi gue juga gak ngerela.in Prasetia terluka, hanya saja entah lo memilih Faris maupun Prasetia tetap akan ada yang terluka nantinya, jadi biarkan saja waktu yang menyembuhkannya, gue yakin Prasetia gak secemen itu ninggalin persahabatan kita hanya karena masalah ini." ucap Aditya menenangkan.
"Thanks udah jadi orang penengah di antara hubungan kita, dan maaf kalau gue udah bikin suasana jadi tidak enak." ucap Tazkia dengan menyesal.
"Biasa aja kali, memang kalau sahabatan gak ada ributnya itu kurang asik." ucap Aditya sambil tersenyum.
Tin tin tin
Suara klakson mobil lantas menghentikan obrolan mereka.
"Sudah sana pergi, Faris sudah nunggu tuh." ucap Aditya yang tahu jika itu adalah Faris.
"Sekali lagi makasih Dit, gue pergi ya." ucap Tazkia sambil tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan Aditya di sana.
******
__ADS_1
Mobil milik Faris berhenti di area parkiran mobil taman kota, keduanya memutuskan untuk joging santai memutari taman kota. Faris menuruni mobil dan membukakan pintu untuk Tazkia.
"Silahkan tuan putri." goda Faris.
"Bisa aja kamu"
Keduanya lantas tersenyum saling salting seperti layaknya pasangan ABG pada umumnya sambil memulai joging dan mengelilingi area taman kota, pagi itu suasana taman kota cukup ramai apalagi ketika hari weekend seperti ini.
Setelah melakukan beberapa kali putaran Tazkia dan juga Faris kemudian memutuskan untuk beristirahat sebentar di sebuah bangku yang terletak di sudut taman, di mana di depannya terdapat Safety Mirror.
"Kamu tunggu sini bentar ya." ucap Faris yang di balas Tazkia dengan anggukan.
Tazkia menatap punggung Faris hingga ia menghilang dari pandangannya. Entah mengapa setelah mengetahui perasaan Prasetia ia seperti merasa menjadi orang yang egois karena bahagia di atas penderitaan sahabatnya sendiri.
"Apa aku terlalu egois?"
Hanya pertanyaan ini yang terus terulang di benak dan pikirannya kala mengingat keduanya, berada di persimpangan jalan bukankah sangat tidak menyenangkan dan sulit? mungkin itulah yang saat ini tengah di rasakan oleh Tazkia.
Angin tiba tiba berhembus cukup kencang namun entah mengapa Tazkia seperti merasa ada hawa aneh yang di bawa oleh angin yang baru saja berhembus, Tazkia mengusap tengkuknya pelan karena mendadak ia seperti merinding, namun bukankah ini masih pagi hari untuk melihat penampakan? pikir Tazkia dalam hati.
"Loh orang orang pada kemana?" tanya Tazkia pada diri sendiri sambil melihat ke sekeliling.
Pandangan Tazkia terhenti tepat di sebuah Safety Mirror karena ia seperti melihat sosok yang persis sama seperti di mimpinya kemarin wanita di dalam cermin. Tazkia lantas menajamkan pandangannya untuk melihat apakah dia hanya berhalusinasi saja kali ini.
Kia...
Suara itu terdengar tepat di telinga Tazkia membuatnya langsung terdiam.
Kemarilah...
Suara itu benar benar lembut dan seperti menghipnotis Tazkia agar mendekat ke arahnya. Entah dapat dorongan dari mana Tazkia lantas bangkit dan mendekat ke arah safety mirror di depan. Tazkia melangkah semakin dekat dan semakin dekat sedangkan sosok itu kemudian mulai menyenandungkan lagu lingsir wengi, suara dari senandung wanita itu benar benar menghanyutkan hingga tanpa sadar Tazkia hanyut dan terus mendekat ke arah wanita itu, perlahan Tazkia mengangkat tangannya dan hendak memegang cermin itu seakan akan hendak masuk ke dalamnya.
*******
Sementara itu setelah membeli 2 minuman dingin, Faris lantas bergegas kembali menuju ke tempat Tazkia menunggu. Faris melangkahkan kakinya dengan senyum mengembang di wajahnya, berada di dekat Tazkia membuat hari hari Faris menjadi berbeda.
"Kia kamu benar benar mampu membuat pelangi di hatiku." ucap Faris sambil tersenyum.
__ADS_1
Ketika jarak keduanya hampir dekat Faris tampak menatap bingung ke arah depan melihat gelagat aneh dari Tazkia, awalnya Faris mengira Tazkia hanya ingin bercermin di safety mirror namun ketika ia melihat semakin dekat, ada yang aneh dengan Tazkia seperti aura negatif tengah menyelimutinya, mungkin karena Faris termasuk ke dalam orang yang peka terhadap hal hal berbau mistis, sehingga ketika ia melihat Tazkia seperti itu Faris langsung berlari dan memangkas jarak di antara mereka kemudian langsung dengan spontan menepuk pundak Tazkia lalu menariknya agar bisa kembali fokus.
"Ki are you ok?" tanya Faris sambil menatap ke arah Tazkia sedangkan Tazkia hanya menatap kosong seperti seseorang yang tengah melamun.
***
"Minumlah dulu" ucap Faris kepada Tazkia sambil menyodorkan sebotol air mineral setelah keduanya kembali duduk di bangku taman.
Tazkia menerima botol air mineral itu kemudian meminumnya.
"Sudah? apa kita mau pulang saja?" tanya Faris.
"Tidak perlu aku sudah baik baik saja, lagi pula di rumah sedang ada teman temanku." ucap Tazkia.
"Lalu? bukankah kita bisa bergabung?"
"Sebaiknya jangan dulu, aku masih tidak enak dengan Pras." ucap Tazkia dengan nada yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Faris.
"Aku sudah menduganya."
"Kamu sudah tahu?" tanya Tazkia dengan bingung.
"Ya, apa kamu sungguh tidak tahu? bahkan tatapan matanya saja sudah berbeda, bagaimana mungkin kamu bisa bersikap acuh padanya selama ini?" ucap Faris dengan heran.
"Kok jadi aku yang salah?"
"Bukan gitu, hanya saja kamu terlalu cuek kepada seseorang yang menyukaimu, hingga tak pernah sadar bahwa sahabat baik mu menyukaimu." ucap Faris menjelaskan.
"Lalu?"
"Ya gak ada lalu dong, sekarangkan ceritanya udah beda kamu sudah milik aku, enak aja." ucap Faris tidak terima.
"Ye biasa aja kali pak, aku kan cuman nanya doang."ucap Tazkia dengan nada menyindir.
"Dasar kamu ya..." ucap Faris dengan gemas kemudian sambil menggelitiki Tazkia, membuat Tazkia kegelian hingga berteriak sambil tertawa.
Bersambung
__ADS_1