
" Apa lo berpikir hal yang sama dengan ku Sin?" tanya Prasetia lagi.
" Apa lo ingin mencobanya lagi kali ini?" tanya Sinta balik yang mengerti akan arah ucapan Prasetia.
Mendengar pertanyaan balik Sinta membuat Prasetia lantas menelan saliva nya dengan kasar, dengan perlahan Prasetia kemudian mengangkat ponselnya kembali dan mengarahkan cahaya senter ke arah lukisan.
Ketika cahaya senter mengarah tepat ke arah lukisan, keduanya lantas kembali terkejut kala melihat wajah kedua orang di dalam lukisan itu lantas kembali menatap Prasetia dan juga Sinta, namun yang membuat berbeda kali ini wajah keduanya nampak sangat menyeramkan dengan wajah yang penuh borok dan nanah disertai darah yang memenuhi baju keduanya.
Prasetia dan Sinta yang terkejut akan apa yang baru saja di lihatnya, lantas langsung terhuyung kebelakang dan jatuh terduduk dengan nafas keduanya yang memburu karena terkejut.
" Mending kita pulang Pras, sebelum ada sesuatu yang lebih menyeramkan muncul di sini." ucap Sinta dengan gelagapan.
" Gak bisa sin, apa lo gak ingat apa, yang nyokap nya Tazkia katakan ketika di rumah sakit tadi?" ucap Prasetia mengingatkan Sinta.
" Aduh! kalau begitu ayo segera kita selesaikan Pras sebelum terjadi hal hal gila selanjutnya." ucap Sinta setengah berbisik sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Prasetia membalas ucapan Sinta dengan anggukan, keduanya kemudian lantas bangkit dan bersiap mengambil lukisan tersebut.
Baru saja Prasetia menyentuh ujung lukisan
tersebut tiba tiba saja lukisan itu seperti di tarik ke atas, Prasetia yang tak siap dengan hal tersebut lantas langsung tertarik mengikuti lukisan tersebut, Sinta yang melihat Prasetia seperti akan terseret lantas sekuat tenaga menahan Prasetia dengan memegangi kedua kakinya dengan sekuat tenaga.
" Tarik gue Sin, tarik!" ucap Prasetia kepada Sinta sambil terus memegangi lukisan tersebut.
" Gue ... sedang berusaha! kenapa lo be ...rat sekali sih Pras!" ucap Sinta sambil berusaha menarik Prasetia.
" Ayo dong lebih berusaha lagi Sin, katanya lo mau segera pergi dari sini." ucap Prasetia karena sedari tadi Prasetia tidak merasa turun sama sekali walau Sinta menariknya sekuat tenaga.
" Berisik banget sih lo Pras? gue tinggal baru tahu rasa lo!" ucap Sinta dengan kesal.
Sinta kemudian lantas mengeluarkan kekuatannya dengan sekuat tenaga, setelah mencoba beberapa kali tarikan pada akhirnya Sinta berhasil menarik turun Prasetia namun dengan posisi Prasetia yang langsung jatuh menimpa Sinta sambil memegang lukisan di tangannya.
" Pras lo berat banget minggir napa!" teriak Sinta kala Prasetia jatuh menimpa dirinya.
__ADS_1
" Sorry, ayo kita berangkat sekarang." ucap Prasetia kemudian bangkit berdiri sambil membantu Sinta berdiri juga.
Kemudian keduanya bersiap untuk keluar dari apartment milik Aditya namun sayangnya ketika keduanya sampai tepat di depan pintu dan bersiap melangkah keluar, tiba tiba saja pintu tersebut tertutup dengan keras membuat keduanya terkejut dan lantas saling pandang satu sama lain.
" Sin ini udah gak bener." ucap Prasetia kepada Sinta.
" Benar Pras." ucap Sinta yang juga merasa ada yang tidak beres.
Keduanya lantas mundur secara perlahan, namun ketika mereka baru saja mundur beberapa langkah, dari arah belakang terdengar suara serak parau menyeramkan yang membuat prasetia dan juga Sinta langsung menghentikan langkahnya.
" Apa kalian mau pergi dengan semudah itu? jangan terlalu terburu kita bisa bermain terlebih dahulu hihihihihihihi"
Sinta dan juga Prasetia yang mendengar hal itu lantas dengan perlahan memutar kepalanya untuk melihat suara siapa barusan.
" Lari sin!" teriak Prasetia kala ia melihat dan menyadari bahwa suara barusan adalah hantu gadis di dalam lukisan yang ia bawa.
" Apa?" ucap Sinta yang terkejut kala mendengar suara teriakan Prasetia.
" Serahkan lukisan itu! serahkan!"
ucap hantu itu lagi sambil terus mengejar Prasetia dengan marah.
Mengetahui hantu tersebut mengejarnya Prasetia lantas berlari dan terus berlari. Hantu tersebut terlihat sangat marah kemudian mengangkat tangannya dan langsung menghempaskan nya ke arah kanan, seiring dengan hempasan tangan hantu tersebut, tubuh Prasetia tiba tiba saja seperti terangkat kemudian terlempar ke arah kanan dengan cukup keras dan membentur dinding.
" Uhuk uhuk." suara Prasetia terbatuk batuk dengan darah segar yang ia muntah kan setelah menabrak dinding dengan cukup kerasnya namun tetap masih memegang kuat lukisan itu di tangannya.
Sinta yang melihat Prasetia limbung lantas langsung berlari ke arah Prasetia namun tidak berani mendekat.
" Pras lempar lukisannya." ucap Sinta memberikan isyarat kepada Prasetia.
Prasetia yang melihat hal itu lantas langsung melempar lukisan tersebut kepada Sinta. Hantu gadis itu lantas menatap dengan penuh amarah ke arah Prasetia dan juga Sinta.
" Kalian benar benar membuatku marah!"
__ADS_1
ucap hantu tersebut detik berikutnya percikan api lantas keluar mengelilingi tubuhnya membuat Prasetia maupun Sinta tercengang melihatnya.
Perlahan kumpulan kilatan api berkumpul di tangan hantu gadis itu dan bersiap hendak ia lemparkan ke arah Sinta.
" Hentikan! aku lah yang membangkitkan mu, bukankah kau sudah mengambil jiwa ku? apa kau masih menginginkan jiwa mereka juga?"
ucap suara tersebut yang ternyata adalah Waluyo, namun bukan dalam wujud manusia melainkan dalam wujud roh yang melayang ke sana kemari menghalangi hantu gadis tersebut.
" Minggir kau! mereka mau menghancurkan rumah ku!" ucap hantu gadis tersebut dengan nada suara marah.
Melihat kedua hantu tersebut tengah beradu argument lantas membuat Sinta memunculkan sebuah ide.
" Pras lempar korek api mu ketika aku melempar lukisan tersebut." ucap Sinta memberikan isyarat yang lantas di balas Pras dengan anggukan sambil berusaha bangkit duduk meski tubuhnya terasa sakit semua.
Sinta lantas mengambil minyak gas yang kebetulan ada di sebelah ujung rak sepatu, tanpa pikir panjang lagi Sinta lantas membuka penutup minyak tersebut kemudian menuangnya ke arah lukisan.
Sinta menghitung perlahan dengan isyarat, tepat pada hitungan ketiga Sinta melempar lukisan tersebut, Prasetia yang sudah bersiap dengan korek apinya lantas juga melemparnya dan detik berikutnya langsung mengenai lukisan tersebut dan menimbulkan percikan api, detik berikutnya perlahan lahan lukisan tersebut mulai terbakar.
Hantu gadis tersebut lantas tersadar bahwa lukisan yang ia sebut sebagai rumahnya mulai terbakar, ia kemudian lantas melayang berusaha mencegahnya namun Waluyo tidak tinggal diam ia lantas ikut melayang dan bertarung dengan gadis pada lukisan tersebut.
" Rumahku aaaaaaaaaaaaaaaaaaa, rumahku ... kalian kurang ajar aaaaaaaaaaaaaaaaaaa." ucap hantu gadis tersebut, detik berikutnya seiring dengan terbakarnya lukisan tersebut perlahan lahan hantu gadis itu ikut terbakar dan menghilang begitu juga dengan Waluyo.
Ketika roh Waluyo sudah hampir terbakar habis ia kemudian tersenyum menatap ke arah Sinta dan Aditya secara bergantian.
" Terima kasih."
Setelah mengucapkan hal tersebut roh Waluyo dan juga gadis itu langsung lenyap dan hangus membuat Prasetia dan juga Sinta mulai bernafas lega.
" Kita berhasil." ucap Sinta masih tidak percaya akan keberhasilan keduanya.
" Iya sin kita berhasil." balas Prasetia sambil memegangi dadanya yang masih terasa nyeri.
Bersambung
__ADS_1