
Keduanya berbincang dan terus berbincang sambil menunggu pagi tiba, ketika sinar mentari mulai menerangi bumi Doni baru menyadari satu hal bahwa pipi Tazkia terlihat lebam.
" Pipi lo apa sakit?" ucap Doni tiba tiba.
Tazkia yang mendapat pertanyaan itu lantas langsung meraba area pipinya kemudian sedikit meringis karena terasa sedikit ngilu ketika Tazkia memegangnya.
" Santai saja, hanya sebuah luka kecil akibat tamparan dari Roman, tidak perlu khawatir." ucap Tazkia dengan santai sambil masih bisa tersenyum.
" Lo yakin?" tanya Doni yang tidak terlalu percaya dengan ucapan Tazkia karena Doni melihat sendiri bagaimana Roman menampar Tazkia dengan keras hingga ia tersungkur ke tanah waktu itu.
" Iya"
Tepat setelah Tazkia mengatakan hal itu terlihat Reno mulai datang menuju ke arah ruangannya, keduanya yang melihat hal itu lantas langsung bangkit dan menghadang Reno.
" Ada apa kalian pagi pagi sudah di depan ruangan saya?" tanya Reno yang menatap bingung ke arah keduanya apalagi mengingat penampilan keduanya yang menurut Reno sangat aneh, dimana Tazkia yang terlihat sudah acak acakan dengan luka lebam di pipinya, sedangkan Doni mengenakan baju yang serba hitam.
" Ada yang ingin kami bicarakan pak, sebentar lagi saya dan juga Aldo akan datang kesini untuk menyuap bapak, saya harap bapak tidak akan tergiur dan juga tidak mengiyakan permintaan Aldo nantinya." ucap Doni kemudian langsung kepada intinya.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Reno semakin bingung dibuatnya.
" Kamu kira saya mudah untuk disuap?" ucap Reno dengan kesal.
" Bukan begitu maksud kami pak, kami hanya mengingatkan bapak saja agar tidak masuk terlalu dalam akan ucapan Aldo, karena itu akan menimbulkan dampak yang buruk pak." ucap Tazkia.
" Sudahlah kalian tidak perlu cemas, sekarang lebih baik kalian pulanglah dulu dan juga bersih bersih diri kalian." ucap Reno kemudian melangkah pergi meninggalkan keduanya.
" Memangnya gue kotor banget ya Don?" ucap Tazkia setelah kepergian Reno.
Mendengar ucapan Tazkia, Doni lantas memperhatikan penampilan Tazkia dari atas hingga bawah kemudian sedikit meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ya ... sedikit berantakan sih tapi not bad lah." ucap Doni dengan entengnya membuat Tazkia lantas melongo dibuatnya.
" Benar benar lo ya, mending lo ngaca dulu deh, pakaian lo tuh udah melebihi intel tau gak, mana hitam hitam begitu." sindir Tazkia.
__ADS_1
" Mulut lo ya lemes banget sih ki."
" Au ah." ucap Tazkia dengan kesal kemudian melangkah pergi meninggalkan Doni sendiri.
*****
Waktu terus berjalan dengan lambat membuat Tazkia dan juga Doni yang menunggu merasa bosan di sela penantian mereka, yah kali ini keduanya sedang menunggu di depan ruangan Reno memastikan bahwa alur yang telah mereka rubah sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tentunya dengan Tazkia yang sudah berganti pakaian dengan yang lebih layak dan mengenakan wig agar tidak ada yang mengenalinya.
Sesuai perkiraan mereka beberapa saat kemudian satu persatu mahasiswa nampak memasuki ruangan pak Reno, setelah sebelumnya baik Tazkia maupun Doni melihat Aldo dan juga Doni di masa ini keluar dari ruangan Reno dengan senyuman yang mengembang, ada ke khawatiran tersendiri yang tiba tiba timbul ke dalam hati keduanya karena mereka merasa sepertinya usaha mereka sia sia dan tidak ada yang berubah sama sekali walau mereka sudah memperingatkan Reno.
Cukup lama keduanya menunggu di sana sampai kemudian terdengar langkah kaki beberapa mahasiswa keluar dari ruangan Reno.
" Untunglah kita tidak di tempatkan di desa yang sangat terpelosok." ucap salah satu mahasiswa yang lantas membuat Doni dan juga Tazkia saling pandang mendengar hal itu.
" Ya untunglah kita masih dapat desa di pinggiran kota, jadi akses kita untuk menuju pertokoan dan juga yang lainnya cukup dekat." timpa yang lainnya sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan Reno.
" Don apa ini? apa kita gagal?" tanya Tazkia setelah kepergian mahasiswa tadi.
Keduanya kemudian lantas menunggu hingga semua mahasiswa satu persatu pergi dari ruangan Reno, setelah mereka yakin semua sudah pergi Tazkia lantas mengetuk pintu ruangan tersebut perlahan kemudian masuk ke dalamnya.
" Ada yang ingin kami bicarakan pak." ucap Tazkia ketika sampai di depan Reno yang sibuk melihat beberapa lembar kertas di meja kerjanya.
" Ada apa lagi?"
" Kenapa bapak tidak menolak acara ini? kami kan sudah ..." ucap Doni namun terpotong dengan ucapan Reno.
" Saya tidak ada alasan apapun untuk menolaknya, lagi pula ide dari Aldo adalah sebuah kegiatan yang positif, jadi kenapa saya melarangnya?" ucap Reno dengan santainya.
" Tapi kan pak, Aldo memberikan bapak sesuatu berupa suap bukan?" ucap Doni dengan kesal.
" Oh tas itu, apa salahnya bukannya itu hanya sebuah tas? ini hanyalah hadiah kecil bukan penyuapan." ucap Reno dengan tersenyum tipis di sudut bibirnya.
" Bapak jangan bercanda, saya tahu ada uang di dalam tas tersebut." ucap Doni tidak ingin kalah dengan langkah yang hendak mendekat ke arah Reno namun dicegah oleh Tazkia disertai dengan beberapa kali gelengan kepala agar Doni tidak melanjutkannya dan semakin memperkeruh keadaan.
__ADS_1
Mendengar hal itu Reno lantas tersenyum licik kemudian bangkit dari kursinya lalu mengambil tas tersebut dan membukanya di depan Tazkia dan juga Doni.
" Uang? di mana uang itu? bapak akan sangat senang jika uang yang kau maksud ada di dalam sini." ucap Reno sambil menjungkirkan tas tersebut dengan satu tangan.
" Bapak benar benar kelewatan, saya adalah saksi penyuapan itu pak, bagaimana bisa anda terus berkelit seperti ini!?" ucap Doni dengan kesal.
" Saya kan hanya menerima tas, kalian tidak perlu berlebihan seperti itu." ucap Reno tak mau kalah.
Tazkia yang paham dengan situasi yang ada saat ini lantas langsung menarik tangan Doni dan mengajaknya untuk keluar dari sana.
" Maafkan kami karena sudah menyita waktu bapak, kalau begitu kami permisi dulu." ucap Tazkia setengah menunduk kemudian melangkah pergi keluar dari sana.
" Kalian kira aku akan melepaskan rejeki yang datang padaku dengan percuma ? tentu saja tidak." ucap Reno sambil tersenyum sinis setelah kepergian Tazkia dan juga Doni dari ruangannya.
*****
Setelah dari ruangan Reno keduanya lantas dengan kesal masuk ke dalam mobil, Doni membanting cukup keras pintu mobil milik Tazkia membuat Tazkia geleng geleng kepala dibuatnya.
" Sialan, bukankah kita sudah memperingatkannya kenapa dia masih menerimanya begitu saja?" ucap Doni dengan kesal.
" Predestination Paradox." ucap Tazkia yang lantas membuat Doni menoleh kearahnya.
" Maksudmu pengulangan cerita?" tanya Doni menerka.
" Ya bisa di bilang begitu, bagaimanapun kita berusaha mengubah masa lalu, hal yang harus terjadi pasti bakal terjadi meski dengan jalur yang berbeda." imbuh Tazkia.
" Sial, lalu artinya perjalanan kita kali ini sia sia bukan?" tanya Doni dengan nada yang kesal.
Mendengar hal itu Tazkia lantas terdiam beberapa saat sampai kemudian.
" Meski kita tidak bisa mengubah apa yang telah digariskan, setidaknya kita masih bisa mengubah alur kisahnya bukan?"
Bersambung
__ADS_1