Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Kini aku tahu alasannya ~Cermin bertuah #13


__ADS_3

Pemakaman Ratmi di adakan secara kekeluargaan di kampung halamannya, setelah dilakukan beberapa kroscek pihak kedokteran menyatakan penyebab kematian Ratmi adalah serangan jantung.


Keadaan mansion kali ini sepi dan kosong, semua orang di mansion pergi melayat ke rumah Ratmi hanya tersisa Tazkia seorang yang berdiam diri di kamar mengurung dirinya sejak kemarin. Mentalnya kali ini benar benar down, ia sungguh tidak menyangka jika sesuatu yang paling berharga di hidupnya adalah mbok Ratmi, tadinya Tazkia mengira sesuatu yang paling berharga itu adalah sebuah barang atau harta namun nyatanya lebih dari itu.


Memang sejak Tazkia kecil hingga sekarang, Ratmi lah yang merawat dan mengasihinya melebihi anak kandungnya sendiri. Orang tua Tazkia yang memang sibuk bekerja dan jarang berada di rumah membuat Tazkia menjadikan Ratmi sebagai sosok ibu kedua baginya.


"Akulah yang bertanggung jawab atas kematian mbok Ratmi, ya aku yang bertanggung jawab." ucapnya dengan nada yakin kemudian bangkit dan melenggang pergi.


**


Kantor polisi.


Tazkia melangkahkan kakinya dengan yakin masuk ke dalam untuk membuat laporan. Tazkia mengambil duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan seorang polisi tanpa beban sedikitpun.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi dengan nametag Rahmat di dadanya.


"Saya mau membuat laporan pak, kalau saya sudah membunuh seseorang." ucap Tazkia dengan wajah yang datar.


Tentu saja pengakuan tersebut membuat polisi itu terkejut begitupula beberapa rekannya yang memang saat itu sedang berada di dekatnya.


"Jangan macam macam ya dek, ini adalah kejahatan yang serius." ucap polisi tadi sedikit tidak percaya.


Tazkia kemudian lantas menjelaskan segala kronologisnya dari awal hingga akhir tanpa terlewat sedikitpun, polisi di depannya mendengarkan dengan seksama dan mencatat beberapa hal penting yang mungkin bisa menjadi laporan, namun sayangnya semakin dipikirkan, apa yang diceritakan Tazkia semakin tidak masuk akal bagi para polisi itu.


"Apa kami boleh minta kontak orang tua atau kerabat?" tanya polisi itu kemudian.


Tazkia kemudian lantas memberikan nomor Arini, sedangkan Rahmat langsung memberikan kode kepada rekannya dan membisikkan sesuatu.


"Cobalah telpon orang tuanya, sepertinya gadis ini sedikit tidak waras." ucap Rahmat dengan nada yang lirih agar Tazkia tidak mendengarnya.


Rekannya yang mengerti instruksi dari Rahmat lantas langsung melipir ke sebelah dan menghubungi ponsel Arini.


"Halo?" ucap Arini ketika panggilan tersebut terhubung.

__ADS_1


"Selamat siang bu, kami dari pihak kepolisian ingin memberikan berita bahwa anak ibu yang bernama Tazkia Adelia Maharani saat ini tengah berada di kantor kepolisian pusat memberikan kesaksian tentang pembunuhan yang dilakukannya." ucap polisi tersebut.


"Apa pak? bagaimana bisa?" ucap Arini sedikit terkejut.


"Kami mengharap kedatangan ibu segera."


"Baik pak secepatnya saya akan ke sana." ucap Arini kemudian mengakhiri panggilan telponnya.


********


Sementara itu setelah mendapat telpon dari pihak kepolisian, Arini dan Irawan bergegas undur diri dan menuju ke kepolisian secepatnya, setelah sebelumnya mereka mampir dahulu ke rumah sakit dan meminta Faris untuk ikut bersama dan membawa berkas kematian Ratmi.


Sesampainya di kantor polisi ketiganya langsung masuk ke dalam untuk mengecek keadaan Tazkia dan meluruskan segalanya.


Ketika ketiganya masuk terlihat Tazkia tengah duduk sambil menatap kosong ke arah depan. Arini menghampiri putrinya yang tengah melamun, sedangkan Irawan dan juga Faris lantas menemui Rahmat dan memberikan penjelasan sedetail mungkin.


"Nak ini salah, mbok Ratmi meninggal karena serangan jantung, jangan terus menyalahkan dirimu seperti ini." ucap Arini sambil membelai lembut rambut Tazkia.


Tazkia yang mendengar hal itu hanya menoleh ke arah ibunya sebentar kemudian kembali menatap ke arah depan.


Beberapa menit kemudian.


"Ayo kita pulang, Faris sudah menjelaskan dan mengurus semuanya." ucap Irawan membuat Tazkia langsung mendongak menatap ke arah Irawan.


"Pa, ini salah Kia... Kia harus bertanggung jawab..."ucap Tazkia namun terpotong oleh Irawan.


"Sudahlah, kita bahas nanti di rumah." ucap Irawan dengan tegas tidak ingin di bantah.


Dan pada akhirnya mereka berempat pulang kembali ke mansion setelah Faris menyelesaikan semuanya.


***


Irawan membuka pintu dengan kasar kemudian langsung duduk di ruang tamu diikuti dengan Tazkia, Faris dan juga Arini dibelakangnya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan sih Ki? kamu itu terlalu egois dan bertindak semau mu, sudah cukup ini semua, hentikan tingkah konyol mu itu." ucap Irawan dengan nada sedikit meninggi sedangkan Tazkia hanya diam dan menunduk sedari tadi tanpa membantah sama sekali.


"Pa janganlah begitu, Kia mungkin terlalu shock mengetahui kematian mbok Ratmi yang tiba tiba." ucap Arini menengahi.


"Papa tahu itu ma karena papa sendiri juga mengalaminya, tapi bukankah Kia terlalu berlebihan dengan masalah ini?" ucap Irawan lagi.


Mendengar hal itu Tazkia mendongak dan menatap papanya dengan tatapan sendu.


"Kia tahu Kia berlebihan, tapi apa papa pernah berada diposisi Kia? jangan hanya terus menyalahkan Kia karena aku juga tidak mau berada di posisi ini, sementara yang kalian lakukan selama ini hanya sibuk dengan urusan kalian, pernah gak sih sehari aja papa ada di rumah dan menemani hari hari Kia? enggak kan? jadi apa terlalu berlebihan jika Kia bertindak seperti ini ketika kematian mbok Ratmi!" ucap Tazkia disertai dengan isakan kecil.


Tanpa disadari tepat setelah Tazkia mengatakan hal itu Irawan menampar Tazkia dengan keras membuat semua orang yang ada di sana termasuk Faris sedikit terkejut melihatnya.


Tangan Irawan nampak sedikit bergetar ia sungguh tidak sadar melakukannya pada Tazkia.


"Kia papa.." ucap Irawan namun tercekat.


"Kini aku tahu alasannya pa, kenapa ketika aku melakukan perjanjian itu mbok Ratmi yang diambil, ternyata ini jawabannya... terima kasih papa sudah memberikan jawabannya secara langsung." ucap Tazkia kemudian melenggang pergi ke kamarnya meninggalkan semua orang di sana.


Posisi Faris benar benar tidak mendukung saat ini, ia bingung harus bagaimana di tengah tengah perdebatan keluarga ini, tentu saja bukan ranah dia mencampuri urusan mereka, meski dalam hatinya ingin sekali menyusul dan menenangkan Tazkia di atas.


"Nak Faris tante minta maaf ya kamu harus melihat semua ini." ucap Arini merasa bersalah.


"Tidak apa tante, sepertinya saya harus pamit soalnya masih ada pasien." ucap Faris beralasan.


"Sekali lagi tante minta maaf ya."


"Jangan terlalu dipikirkan, saya pamit dulu om tante." ucapnya kemudian melangkah pergi dan menyisakan Irawan dan Arini di sana.


"Apa papa puas sekarang? bukan begitu cara mendidik anak pa, kita harusnya mensuport dan mendukung dia disaat keadaan seperti ini, bukan terus memojokkannya seperti ini." ucap Arini.


"Papa tahu papa salah, papa terlalu emosi tadi." ucap Irawan menyesali perbuatannya.


"Sudahlah lagi pula ini juga bukan sepenuhnya salah Kia, disini mama juga salah karena tidak bisa menemaninya, andai saja mama seperti ibu ibu normal di luar sana pasti Kia tidak akan kekurangan kasih sayang." ucap Arini dengan nada sendu.

__ADS_1


"Mah stop, kita sudah membahas ini berulang kali bukan? jangan menyalahkan dirimu lagi, jika Tazkia tahu kamu dan dirinya memiliki aura yang terlalu pekat jika terus bersama maka Tazkia pasti akan mengerti, percayalah mama juga tidak memintanya bukan?" ucap Irawan menenangkan.


Bersambung


__ADS_2