
Tazkia mengerjapkan matanya perlahan, ditatapnya keadaan sekitar, ia sedikit terkejut ketika melihat sekeliling ia sudah dikerubungi oleh ketiga sahabatnya.
" Ada apa? kenapa kalian semua malah berkumpul di sini? bukankah kalian masih mengajar?" ucap Tazkia kemudian bangkit berdiri sambil membersihkan celananya yang terkena tanah.
" Lah nih anak kagak sadar kayaknya kalau abis kesurupan." ucap Aditya ketika melihat Tazkia sudah kembali normal.
" Kesurupan? kesurupan nenek moyang mu kali!" ucap Tazkia ikut nyolot.
" Tapi ki lo barusan memang kesurupan dan kami bertiga menjadi saksinya." ucap Sinta dengan nada lirih namun masih bisa di dengar oleh Tazkia.
" Mana mungkin? gue tadi ketemu cucu mbah Harjo kemudian gue sapa dan selanjutnya gue melihat sesuatu ...." ucap Tazkia menggantung karena ia baru ingat jika tadi yang di makamkan adalah Utari lalu yang ia lihat selama ini berarti adalah?
" Yang bener lo ki, cucu mbah Harjo udah meninggal cukup lama, mana mungkin tiba tiba dia ada di sini sekarang." ucap Aditya.
" Tau dari mana lo?" tanya Tazkia yang cukup terkejut mendengar hal itu.
" Ya tahu lah ..." ucap Aditya namun di potong oleh Prasetia.
" Sebaiknya kita lanjutkan di rumah." ucap Prasetia kemudian menarik teman temannya agar segera pergi dari sana.
Entah mengapa sejak kedatangan mereka tadi hingga ia mencoba menyadarkan Tazkia, Prasetia seperti merasa tengah di awasi oleh seseorang, itulah mengapa Prasetia mengajak Aditya dan yang lainnya untuk melanjutkan obrolan mereka di rumah saja.
Sementara itu setelah kepergian keempatnya, dari balik semak semak yang berada di dekat pohon besar, keluar seorang laki laki yang menatap kepergian keempatnya hingga menghilang dari pandangannya.
" Dia bisa melihat sebuah kenangan seseorang dan aku yakin itu, aku sudah lama mencari kekuatan yang seperti itu, aku harus segera mempercepat semuanya sebelum rencana ku gagal karena ia terlalu masuk ke dalam kenangan Utari." ucap pria tersebut yang tak lain adalah orang tua Utari yaitu Roman atau yang biasa di panggil warga dengan sapaan man.
*******
Setelah sampai di rumah, Prasetia kemudian bergegas menutup pintu rumah, namun sebelum itu ia memastikan tidak ada siapapun yang mengikuti mereka hingga ke rumah.
__ADS_1
" Ada apa sih Pras? lo kok aneh banget?" tanya Aditya yang penasaran sedari tadi akan sikap Prasetia.
" Aku merasa ada yang mengawasi kita sedari tadi." ucap Prasetia.
" Yang benar Pras?" tanya Sinta yang cukup terkejut dengan ucapan Prasetia karena ia bahkan tidak menyadarinya sedari tadi jika Prasetia tidak mengatakannya.
" Lalu apa kita masih diikuti?" tanya Tazkia kemudian.
" Sepertinya kita sudah aman. Kalian bisa melanjutkan obrolan yang tadi tertunda." ucap Prasetia dengan yakin yang di balas anggukan oleh semua orang di sana.
" Btw kita sampai mana tadi?" tanya Aditya kemudian.
" Sampai gue tanya, tau dari mana lo kalau cucu mbah Harjo sudah meninggal." ucap Tazkia kemudian.
" Tahu dari Pras, lagian seluruh kampung ini juga sudah tahu kali Ki kalau cucu mbah Harjo meninggal karena jatuh dari kamar mandi." ucap Aditya.
" Kenapa berbeda?" ucap Tazkia kemudian dengan wajah yang kebingungan.
" Maksud lo?" tanya Prasetia yang juga ikut kebingungan ketika melihat Tazkia.
" Jadi gue tadi, jelas jelas mendapat penglihatan bahwa Utari di bunuh oleh ayahnya sendiri, kemudian mayatnya di perkosa setelah itu di kuburkan dengan asal tepat di antara pohon besar tadi." ucap Tazkia sambil menatap ke arah teman temannya satu persatu.
" Itu tidak mungkin ki, bahkan pak Rahmat mengatakan sendiri bahwa beliau ikut membantu kala Utari jatuh, bagaimana mungkin pak Rahmat bohong." ucap Aditya dengan kekeh.
Mendengar hal itu lantas membuat Tazkia terdiam dan mulai menyambung kepingan demi kepingan puzzle satu persatu yang mulai terpasang dan tinggal menyambungkannya.
" Apa jangan jangan ayahnya Utari adalah seorang time traveler? karena aku melihatnya menghilang setelah melakukan pembunuhan itu." ucap Tazkia kemudian.
" Lalu apa hubungannya antara time traveler dengan kematian Utari yang berubah."
__ADS_1
" Predestination Paradox!" ucap Prasetia kemudian yang lantas membuat ketiganya langsung menatap ke arah Prasetia.
" Ya lo mungkin benar Pras, karena kata kata terakhir sebelum ia membunuh Utari adalah ia selalu mengulang kata bahwa akan menyelamatkan kembali Utari, dan mengatakan bahwa ia sekarang sudah menjadi orang yang sakti." imbuh Tazkia
Bukannya langsung paham, Aditya dan juga Sinta malah terbengong menatap keduanya karena tidak tahu apa yang tengah mereka berdua bicarakan.
" Tunggu sebentar apa itu para para apa? parakodok?" ucap Aditya dengan bingung yang lantas malah membuat tawa ketiganya pecah.
" Paradox dit, bagaimana bisa jadi parakodok?" ucap Sinta sambil tertawa geli.
" Ih biasa aja kali, emang lo tahu apaan itu?" tanya Aditya dengan kesal.
Mendengar hal itu Sinta lantas terdiam kemudian menggelengkan kepalanya.
" Hu situ aja kagak tau, malah ngikut ketawa lagi." ucap Aditya dengan kesal.
" Sudah sudah biar gue jelasin, jadi Inti dari paradoks ini adalah bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan (predestined), dan tidak dapat diubah karena sejarah telah mencatat bahwa suatu kejadian pasti akan terjadi dan tidak bisa dirubah oleh atau dengan siapapun. Predestined Paradoks didesain untuk menciptakan kejadian yang sama sebagaimana seharusnya terjadi." ucap Prasetia menjelaskan.
" Oh" ucap Aditya terlihat seperti tengah berpikir. " Gue masih kagak ngerti!" ucap Aditya lagi.
" Haduh lo mah ya kebangetan lemotnya, jadi simpelnya gini andai kata lo punya seorang tunangan dan tunangan lo meninggal di masa lalu, lo punya inisiatif untuk menyelamatkannya dan pergi ke masa lalu sebelum kejadian tunangan lo yang meninggal. Memang lo bisa menyelamatkannya dari kematian namun sayangnya lo melupakan satu hal dari tindakan yang lo lakukan, bahwa seseorang yang sudah ditakdirkan mati maka ia akan terus menemui ajalnya meski dengan cara yang berbeda beda, sehingga kejadian itu akan terulang meski dengan cara yang berbeda. Jadi apa yang lo lakuin untuk kembali ke masa lalu juga akan sia sia karena kematian tunangan lo itu akan terus terulang hingga lo lelah dan memutuskan untuk tidak kembali ke masa lalu lagi." ucap Tazkia membuat sebuah perumpamaan agar lebih mudah di mengerti.
" Jadi maksud lo kematian Utari adalah bagian dari paradoks yang di buat oleh bokap nya sendiri?" ucap Sinta menarik kesimpulan.
" Yap, dan kita tidak akan bisa menghentikan atau bahkan mengungkap kematian Utari, karena itu akan terus berubah kecuali bokap Utari menghentikan aksinya dan mengakui semua perbuatannya, tapi tentu saja itu tidak mungkin." ucap Tazkia.
" Gadis yang malang." ucap Aditya.
Bersambung
__ADS_1