
Prasetia yang mendengar keluhan Sinta lantas melihat ke arah dalam untuk mengecek sekilas tangan Sinta. Meski Prasetia tidak terlalu paham tentang kondisi seseorang namun jika di lihat secara kacamata awam, tangan Sinta nampak mengalami patah tulang membuat Prasetia tak berani melakukan pertolongan pertama karena takut akan melakukan kesalahan apabila dirinya mengangkat Sinta dengan asal.
"Lo sabar ya... Adit sedang menelpon ambulans..." ucap Prasetia menenangkan.
Tidak berapa lama terdengar suara sirine ambulans disertai kabut asap yang tebal membuat jarak pandang Prasetia dan juga Aditya terbatas, terlihat mulai mendekat. Sebuah mobil ambulans berhenti tepat di sebelah mobil Sinta, tak selang beberapa lama seorang petugas nampak keluar dari mobil ambulans dan membawa brankar pasien.
"Apa anda hanya sendiri? teman saya sepertinya patah tulang, apa anda yakin bisa?" tanya Prasetia yang tidak yakin.
Perawat tersebut nampak mengangguk sambil mulai berjalan dan mengeluarkan Sinta perlahan dari dalam mobilnya.
"Dit lo ikut masuk temani Sinta, biar gue yang bawa mobil lo." ucap Prasetia yang lantas di balas Aditya dengan anggukan.
Aditya kemudian lantas masuk ke dalam mobil ambulans, sedangkan Prasetia bersiap untuk pergi juga setelah mengambil beberapa barang penting milik Sinta.
Dalam keadaan kabut yang semakin menipis ketika Prasetia berbalik badan dan menatap kepergian ambulans tersebut, Prasetia tidak melihat perawat tersebut di kursi pengemudi namun mobil ambulans tersebut melaju dengan kencang sambil membunyikan sirinenya seakan tanda darurat.
Prasetia mengucek matanya berkali kali ketika kembali terbayang apa yang baru saja ia lihat.
"Tidak mungkin ambulansnya jalan sendiri bukan? mungkin gue hanya salah lihat saja, orang tadi gue sempet bicara sama petugasnya." ucap Prasetia masih mencoba berpikir positif.
**
Di dalam ambulans
Sinta terlihat meringis menahan rasa sakit yang menjalar di tangannya. Entah mengapa perjalanan keduanya terasa memakan waktu sangat lama, padahal Aditya sudah menghubungi pihak rumah sakit terdekat dari lokasi kecelakaan Sinta, mengapa rasanya sangat jauh.
__ADS_1
"Bukankah harunya 10 menitan sudah sampai ya? kenapa lama sekali." ucap aditya dalam hati namun tidak berani mengatakannya karena melihat ekspresi wajah Sinta yang kesakitan.
Sampai kemudian Aditya merasa ambulans yang ia naiki tidak lagi terasa bergoyang, sepertinya mereka sudah sampai. Hanya saja, setelah beberapa menit anehnya tidak ada satupun petugas ataupun perawat yang membuka pintu mobil ambulans dan segera memberikan pertolongan.
Aditya menatap bingung ke arah sekeliling, ia kemudian lantas mengintip sedikit dari tirai yang terpasang pada kaca mobil dan memang benar mereka sudah sampai di rumah sakit. Aditya yang gemas karena pihak rumah sakit terlalu lelet lantas langsung turun dengan raut wajah yang kesal.
"Sus... dok..." panggil Aditya sambil terus melangkah ke arah resepsionis. "Gimana sih pelayanannya kok gini, teman saya sedang kecelakaan di depan tapi tidak ada satupun dari kalian yang langsung memberikan pertolongan pada teman saya." ucap Aditya marah marah membuat kedua petugas resepsionis yang sedang berjaga di sana lantas kebingungan.
"Mas tenang ya, sekarang tolong tunjukkan di mana teman mas berada biar saya bantu." ucap seorang dokter laki laki yang kebetulan sedang melintas dan langsung menghampiri Aditya.
"Dasar lemot, teman saya sedari tadi sudah menunggu di ambulans dan kesakitan tapi kalian malah dengan santainya diam saja." ucap Aditya terus menggerutu sambil melangkahkan kakinya menuju kembali ke arah mobil ambulans.
Dokter tersebut hanya terdiam mendengar keluh kesah Aditya sambil mengingat ingat apakah tadi ia mendapat telpon penting yang mengatakan ada pasien kecelakaan akan datang sebentar lagi atau tidak. Hanya saja semakin dipikirkan kembali dokter tersebut sama sekali tidak merasa mendapat telpon kecuali pembatalan pasien masuk karena ketika ambulans sudah sampai di sana korban kecelakaan sudah tidak ada di tempat.
"Itu teman saya ada di dalam." ucap Aditya sambil menunjuk mobil ambulans tersebut.
"Ayo dok, apa lagi yang kalian tunggu?" ucap Aditya kemudian ketika melihat dokter dan juga beberapa perawat nampak termenung sambil menatap ke arah ambulans.
Mendengar teriakan Aditya barusan beberapa perawat lantas mulai membuka pintu mobil dan menarik brankar pasien yang berisi Sinta di atasnya untuk di bawa ke UGD.
"Dasar pada gak becus" ucap Aditya namun langsung berbalik ke belakang ketika dia mendengar suara sirine ambulans. "Jangan jangan tuh petugas yang udah nelantarin Sinta? harus di kasih pelajaran tuh orang biar gak lalai pada tugasnya." ucap Aditya kemudian melangkah kembali ke arah ambulans itu berada.
Aditya melangkahkan kakinya dengan penuh emosi menuju ke arah pintu mobil sebelah pengemudi.
"Pak! kalau tugas itu jangan setengah set....engah..." ucap Aditya namun terpotong karena ternyata tidak ada siapapun di kursi pengemudi maupun penumpang membuat Aditya seketika merinding ketika ia dengan jelas jelas tadi mendengar suara sirene ambulans dari arah sini.
__ADS_1
Perasaan Aditya benar benar berubah menjadi tidak enak apalagi ketika dia menoleh sekeliling area ini tengah sepi tidak ada seorang pun di sana.
"Kok mendadak hawanya jadi aneh sih?" ucap Aditya dengan nada yang lirih sambil perlahan mundur ke belakang.
Baru saja Aditya mundur beberapa langkah, mendadak bahunya seperti tengah di pegang seseorang dari arah belakang membuat tubuh Aditya lantas bergetar dengan hebat karena mulai ketakutan.
"Mati aku..." ucap Aditya ketika merasakan ada sebuah tangan memegang pundaknya.
"Lo ngapain Dit?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Aditya langsung menoleh ke arah belakang.
"Kia... dokter Faris... kalian berdua ngagetin tau gak?" ucap Aditya kemudian dengan nada yang kesal.
"Lagian lo ngapain di situ sendirian?" tanya Tazkia kemudian.
"Enggak... gue lagi mau marahin perawat yang bawa ambulans ini karena sudah lalai dengan tugasnya, masak Sinta di anggurin gitu aja tidak langsung di beri penanganan dan hanya di biarkan parkir di depan pintu rumah sakit." gerutu Aditya dengan kesal.
"Apa kamu yakin ambulans ini? masalahnya mobil ini sudah lama tidak beroperasi karena ada beberapa masalah pada mobilnya." ucap Faris yang seakan tak percaya dengan ucapan Aditya barusan.
"Iya dok, saya yakin karena perawat yang menjemput kami itu hanya satu orang jadi gak mungkin saya salah." ucap Aditya dengan yakin.
"Apakah kamu ingat nama perawat tersebut? biasanya perawat atau petugas kami memakai nametag di dada sebelah kiri." ucap Faris bertanya karena ia yakin mungkin Aditya salah paham.
"Nama ya... em kalau gak salah Arya! iya Arya aku ingat sekarang." ucap Aditya dengan yakin sambil mengingat ingat kembali nametag perawat itu.
"Apa kamu yakin?"
__ADS_1
Bersambung