Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Adik


__ADS_3

Setelah mencari ke sana ke mari, pada akhirnya Tazkia dan yang lainnya menemukan satu rumah sewa untuk mereka tinggali sementara waktu sekedar untuk beristirahat dan makan sambil menyelesaikan masalah sosok hantu anak kecil itu.


Rumah yang mereka tempati tidaklah besar namun juga tidak terlalu kecil, hanya seukuran rumah kontrakan dengan nuansa pedesaan yang masih kental di setiap interiornya.


Keempatnya lantas langsung duduk di bawah melemaskan otot oto mereka yang sedikit sakit efek dari perjalanan yang mereka tempuh. Sebenarnya kalau di pikir pikir jarak antara Jakarta ke Jawa barat tidaklah sejauh itu, bukankah hanya sekitar 1 sampai 2 jam? kenapa mereka lebay sekali?🤔


"Apakah kalian tidak lapar?" tanya Aditya membuka suara karena ia sama sekali tidak melihat ketiganya mengatakan apapun setelah pulang dari Rumah sakit tadi.


"Menurut lo apa yang membuat pak Darma berteriak menyuruh kita untuk pergi dari sana? terutama setelah melihat lo Ki?" tanya Prasetia kemudian seakan mengacuhkan pertanyaan Aditya barusan, membuat Aditya lantas menatap Prasetia dengan tatapan yang melongo tak percaya.


"Entahlah gue bahkan belum sempat untuk menyentuh tubuh pria itu tapi sudah keburu di usir dari sana." ucap Tazkia menimpali.


"Hei... geis.. apa kalian tidak lapar?" tanyanya lagi dengan nada sedikit kesal karena tidak ada yang mendengarnya sekali lagi.


"Pasti akan sangat sulit jika kita pergi kembali ke sana, kalian tahu sendiri bukan? suster yang tadi terlihat sangat marah pada kita?" ucap Sinta ikut berpendapat juga tanpa memperdulikan Aditya.


Melihat tidak ada yang menghiraukannya Aditya lantas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke tengah. "Geis... apa kalian tidak mendengar ku? ayolah geis aku lapar sekali sekarang..." ucap Aditya merengek.


"Diam!" teriak Prasetia, Sinta dan juga Tazkia secara bersamaan membuat Aditya langsung terdiam seribu bahasa karena terkejut ketika mendengarnya.


"Ok fine terserah kalian, gue mau tidur aja kalau begitu!" ucap Aditya dengan kesal sambil kemudian mengambil tasnya dan berjalan masuk ke ruang kamar yang tersedia di rumah tersebut.


Melihat Aditya merajuk ketiganya hanya bisa saling pandang satu sama lain namun enggan untuk mengejarnya karena hal itu bahkan bukan pertama kalinya.


"Sudah biarkan saja nanti juga baik lagi." ucap Sinta sambil menunjuk ke arah langkah kaki Aditya tadi yang kini sudah menghilang dan tak terlihat di pandangan mereka.


***

__ADS_1


Malam harinya


Sesuai dengan kesepakatan ketiganya tadi siang, kini Prasetia, Tazkia dan juga Sinta sudah lengkap dengan pakaian mereka bersiap untuk pergi.


"Aditya gimana?" tanya Sinta sambil menunjuk ke arah kamar, memang setelah Aditya merajuk tadi, hingga kini ia masih terlelap dalam tidurnya. Prasetia dan juga Tazkia hanya menatap sekilas ke arah kamar lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Sudah biarkan saja mungkin dia sedang kelelahan, sebaiknya kita pergi sekarang." ucap Tazkia lagi yang di balas Sinta dan Prasetia dengan anggukan kepala.


Ketiganya kemudian lantas melangkah pergi meninggalkan Aditya yang masih tertidur dengan lelapnya di dalam kamar. Karena jarak antara Rumah Sakit Jiwa dan juga tempatnya menginap tidaklah jauh, ketiganya lantas memilih untuk berjalan kaki menuju ke arah Rumah Sakit sekaligus agar tidak ketahuan. Masalahnya adalah jika mereka tetap membawa mobil ke sana, pasti mereka akan langsung mengundang perhatian dan juga langsung ketahuan, itulah mengapa mereka bertiga memilih untuk berjalan kaki menuju ke arah Rumah Sakit jiwa tersebut.


Tazkia, Prasetia serta Sinta menyusuri jalan setapak kecil dengan beberapa semak semak belukar di kanan dan kirinya. Suasana malam itu terasa sangat mencekam karena di daerah tersebut belum terdapat lampu jalan untuk menerangi beberapa daerah yang menjorok masuk ke dalam hutan, sehingga jalanan begitu terasa gelap.


Prasetia mengarahkan senter sedikit lebih tinggi agar memudahkan langkah ketiganya dalam melihat arah dan jalanan sekitar. Hingga setelah beberapa menit berjalan, ketiganya sampai di Rumah Sakit jiwa. Suasana di sana terlihat begitu sepi karena mungkin sudah tengah malam yang tentu saja tidak akan ada pengunjung.


Prasetia yang berada di bagian depan memastikan keadaan sekitar aman, kemudian memberikan kode kepada Sinta dan juga Tazkia agar mulai melangkah secara perlahan mengikutinya.


"Kalian ingin makan apa malam ini? sepertinya mie ramen enak?" ucap sebuah suara yang terdengar semakin dekat ke arah ketiganya.


Baik Tazkia, Sinta dan juga Prasetia lantas berhamburan mencari tempat persembunyian ketika mendengar sebuah suara mendekat ke arah mereka.


"Kau gila ya, di sini mana ada kedai ramen yang ada tuh pohon beringin." ucap yang lain.


"Bukankah kita bisa mencoba mie instannya, itu akan terasa sama saja." timpal yang lainnya sambil terus berjalan melewati ketiganya yang tengah bersembunyi dengan posisi yang berpencar.


"Setuju, ayo..." ucap yang lain dengan nada yang gembira.


Beberapa menit menunggu ketiga suster itu berlalu, Prasetia kembali memeriksa keadaan sekitar. Setelah dirasa aman Prasetia kembali memberikan kode kepada Sinta dan Tazkia agar kembali melangkah.

__ADS_1


Melihat kode tersebut baik Tazkia dan juga Sinta langsung bergegas melangkahkan kakinya menyusuri lorong lorong Rumah Sakit menuju ruang rawat Darma. Entah ini sebuah keberuntungan atau apa langkah ketiganya melewati lorong benar benar lancar tanpa hambatan maupun terlihat oleh perawat yang tengah berjaga malam itu.


Hingga ketika langkah kaki ketiganya sampai di depan pintu ruang rawat Darma, Prasetia lantas menghentikan langkah kakinya.


"Kalian berdua masuklah ke dalam, gue akan berjaga di sini." ucap Prasetia berpendapat.


"Baiklah" jawab Tazkia dengan lirih sambil bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut.


**


Di dalam ruangan


Tazkia dan Sinta yang baru saja masuk lantas langsung mendekat ke arah Darma, sama seperti tadi siang Darma terlihat sedang duduk meringkuk di bawah seperti tengah meratapi sesuatu.


"Bisa kita bicara sebentar pak? ini penting, saya mohon..." ucap Tazkia dengan nada yang memohon.


Mendengar ucapan Tazkia barusan Darma langsung mendongak kemudian terkejut ketika melihat Tazkia kembali lagi ke sini.


"Kamu!" ucap Darma sambil menunjuk ke arah Tazkia.


"Saya mohon tenanglah dulu pak, ini menyangkut soal Adik..." ucap Tazkia, sekedar informasi Adik adalah nama panggilan sosok hantu anak kecil yang menghantui Sinta waktu itu.


Darma yang mendengar anaknya di sebut lantas terdiam dan mulai tenang, sedangkan Tazkia dan juga Sinta yang melihat ada kesempatan lantas saling kode agar terus melancarkan aksinya.


"Kita bicarakan semua baik baik pak... agar Adik juga bisa naik dengan tenang ke atas." ucap Tazkia lagi mencoba terus memancing Darma, yang terlihat diam seakan tengah berpikir tentang sesuatu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2