Duniaku Menjadi Berbeda

Duniaku Menjadi Berbeda
Masa lalu terulang kembali ~ Misteri villa nenek #11


__ADS_3

Faris melangkah bergegas menuju ke arah Tazkia yang tengah berada di ruang tengah, setelah menerima telepon penting dari rumah sakit. Raut wajah Faris mendadak berubah lesu dan tak bersemangat ketika mendudukkan bokongnya di sebelah Tazkia.


"Minumlah dulu" ucap Tazkia sambil memberikan secangkir gelas berisi teh melati.


Faris menerima cangkir teh tersebut dan meminumnya hingga tandas, membuat Tazkia sedikit mengerutkan keningnya karena melihat kelakuan Faris yang meminum teh sekali tegukan padahal teh tersebut masih panas.


"Ada apa Ris? jangan hanya di pendam sendiri." ucap Tazkia dengan nada yang lembut kala melihat raut wajah gelisah milik Faris.


Faris terdiam sesaat memikirkan keputusan apa yang ia ambil, karena isi dari telpon barusan menyuruhnya untuk segera kembali ke rumah sakit secepatnya, Faris sungguh bingung apalagi setelah pagi tadi ia mengetahui bahwa Tazkia tengah diincar oleh makhluk halus, membuatnya semakin gundah meninggalkan Tazkia sendiri walau ada Rita dan juga neneknya di sini.


"Pihak rumah sakit menelpon ku agar segera kembali, keadaan rumah sakit benar benar kacau apalagi setelah terjadinya kebakaran gedung perkantoran pagi tadi, membuat rumah sakit kewalahan dalam menerima pasien." ucap Faris dengan nada sendu.


"Ada apa dengan pak dokter? bukankah itu sudah menjadi kewajiban mu? Cepatlah pergi pasti banyak pasien yang sedang menunggu pertolongan mu." ucap Tazkia menyemangati karena ia tahu Faris pasti sulit meninggalkannya di sini sendirian.


"Apa kamu yakin?" tanya Faris sekali lagi memastikan.


"Pergilah, semakin cepat bukankah semakin baik? kamu dapat menolong lebih banyak nyawa."


"Tapi kamu..." ucap Faris namun lebih dulu di potong oleh Tazkia.


"Pergilah" ucap Tazkia sambil tersenyum tulus.


***


Di dalam mobil yang di kendarai Faris.

__ADS_1


Faris nampak berusaha untuk tetap fokus menyetir di kala pikirannya terbagi antara Kia dan juga makhluk yang menyukai Tazkia. Pikirannya benar benar kacau dan terbagi, namun kembali dan menangani pasien adalah kewajibannya.


"Kenapa pak Tejo baru mengatakan segalanya sekarang dan membuat pikiran ku semakin kacau? bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Kia?" ucap Faris dengan kesal sambil memukul setir mobilnya.


Flashback on


Setelah memantapkan hatinya dan berdiskusi dengan Tazkia apakah ia harus kembali atau tidak, pada akhirnya Faris memutuskan untuk kembali setelah mendapat persetujuan dari Tazkia, Faris melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil dan hendak berangkat, namun langkahnya terhenti kala sebuah suara memanggilnya.


"Ada apa pak?" tanya Faris ketika mendengar Tejo memanggilnya.


"Ada yang ingin saya bicarakan tapi tidak di sini." ucap Tejo sambil menatap ke arah kanan dan kiri.


"Saya hendak kembali ke Jakarta apa sekalian saya mengantar anda pulang pak?" ucap Faris yang mengerti maksud dari Tejo.


Mendapat tawaran dari Faris tanpa pikir panjang Tejo langsung mengiyakannya dan masuk ke dalam mobil begitu juga Faris, sebelum masuk ke dalam mobil Faris menatap ke arah sekeliling memastikan bahwa tidak ada yang melihat Tejo ikut dengannya.


Mendengar hal itu Tejo lantas menerawang jauh kembali ke masa lalu di mana Tazkia kecil tumbuh dan tinggal di villa itu. Tejo menceritakan masa anak anak Tazkia yang ceria dan juga bahagia, namun setelah usianya yang beranjak 8 tahun raut wajah Tejo nampak berubah. Faris sesekali melirik ke arah Tejo, hatinya menerka nerka apakah semua yang di ceritakan Tejo adalah kenyataan atau hanyalah bulannya saja.


"Apa yang terjadi pada usia ke 8 tahun Kia pak?" tanya Faris penasaran.


Mendapat pertanyaan dari Faris membuat Tejo langsung meneruskan ceritanya kembali, dalam ceritanya Tejo mengatakan bahwa sejak kecil Tazkia memiliki keistimewaan yang tidak di miliki teman teman sebayanya atau yang sering kita sebut dengan indigo, Tazkia yang memang waktu itu masih tergolong usia anak anak tidak bisa membedakan mana manusia dan mana mereka yang tak terlihat, hingga kemudian terbentuklah sebuah sosok yang menjadi teman imajinasinya atau yang sering warga kampung juluki Wowo.


"Bukankah di sini tidak ada perkampungan pak?" tanya Faris.


"Dulu ada, hanya saja semenjak teror Wowo yang terus menghantui warga, membuat banyak warga desa yang memilih pindah dan tinggal bersama kerabat mereka, hingga kini hanya tersisa lima kepala keluarga saja termasuk saya."

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya pak?" tanya Faris penasaran.


Tejo kemudian kembali melanjutkan ceritanya, karena usia Tazkia yang masih kecil ia tidak bisa membedakan mana yang jahat dan mana yang baik, hingga tragedi itu terjadi. Seluruh keluarga besar mengetahui tentang Wowo dan juga keistimewaan yang Tazkia miliki, seluruh keluarga besar tentu saja melarang Tazkia agar tidak berhubungan dengan Wowo, namun siapa sangka Wowo marah dan meneror satu desa, Wowo tidak membiarkan siapapun yang menghalangi dan berniat memisahkan Wowo dan juga Tazkia, banyak warga desa yang mati karenanya, seakan kematiannya terjadi secara mendadak seperti terkena teluh atau semacam gangguan dari makhluk halus.


Setiap malam terdengar tawa dan suara bising dari kamar Tazkia namun ketika di cek selalu saja kosong dan Tazkia tengah tertidur di dalam, melihat hal ini sudah menjadi kian besar, pada akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk melakukan pembersihan sekaligus penyegelan untuk Wowo.


"Emang langsung mempan gitu aja pak?" tanya Faris.


"Tentu saja tidak, banyak sekali persyaratan yang di butuhkan termasuk setetes darah nona dan juga beberapa helai rambutnya, tidak hanya itu kami harus mencari tempat yang tidak terlalu jauh, dalam, jarang terkena sinar matahari dan lembab. Itulah sebabnya mengapa di pilih sumur tua itu." ucap Tejo.


"Lalu apa maksud bapak mengatakan hal ini?" tanya Faris yang masih tidak mengerti tujuan Tejo menceritakan segalanya.


Mendengar pertanyaan Faris barusan Tejo nampak menghela nafasnya panjang.


"Sayangnya segel itu kembali terbuka di mulai dari luka yang di dapat nona kemarin." ucap Tejo dengan nada penuh kekhawatiran. "Itu rumah saya den." imbuh Tejo tiba tiba yang langsung membuat Faris kebingungan dan baru tersadar bahwa ia telah sampai di sebuah perkampungan kecil yang di bicarakan oleh Tejo tadi.


"Tapi saya belum selesai bertanya pak." ucap Faris kala melihat Tejo turun dari mobilnya.


"Itu adalah tugasmu den, sepertinya masa lalu terulang kembali seperti waktu dulu pak Irawan dan juga bu Arini." ucap Tejo dengan senyum tulus ke arah Faris, yang malah membuat Faris semakin kebingungan akan maksud ucapan Tejo barusan.


Flashback off


"Bagaimana bisa aku memecahkan misteri ini seorang diri?" ucap Faris dengan kesal karena tadi ia hanya hanyut mendengarkan cerita Tejo tanpa bertanya lebih jelas lagi.


Faris terus melajukan mobilnya membelah jalanan yang kanan kirinya di penuhi dengan pepohonan dan beberapa jalan kecil, namun ketika jarak sudah mencapai beberapa ratus meter, Faris seperti melihat wajah wajah yang tak asing sedang berjalan dengan lunglai di antara pepohonan yang rimbun.

__ADS_1


"Tidak mungkin itu mereka bukan?"


Bersambung


__ADS_2