
Sosok hantu anak kecil itu lantas tersenyum kemudian mengangkat tangannya seakan meminta Tazkia untuk menjabat tangan sosok hantu anak kecil itu. Tak ada rasa curiga apapun yang timbul dari diri Tazkia, yang ada di benaknya sekarang adalah bagaimana caranya membawa teman temannya keluar dari permainan ini secepatnya. Tazkia tak ingin terjebak dalam permainan gila yang menyesatkan seperti ini.
"Apakah tindakan ku benar membiarkan Tazkia berinteraksi?" batin Faris dalam hati kala melihat interaksi keduanya.
Tazkia kemudian lantas mulai bersalaman dengan sosok hantu anak kecil itu, tepat setelah tangan dingin hantu anak kecil itu menembus telapak tangan Tazkia, sebuah bayangan penglihatan mulai berputar di kepala Tazkia seakan memperlihatkan asal muasal semuanya terjadi.
Dalam penglihatannya, Tazkia seperti di bawa kepada sebuah alur film yang bergerak dengan cepat hingga membuat kepala Tazkia menjadi pusing. Sampai kemudian Tazkia berhenti pada sebuah desa di mana perkampungannya masih cukup asri. Jika dilihat dari baju yang di kenakan oleh penduduknya, itu berkisar sekitar kurang lebih tahun 90 an. Semua warga desa nampak berkumpul di sebuah gubuk kayu, Tazkia yang penasaran ada apa dalam gubuk tersebut lantas mulai melangkah mendekat.
Bau bunga dan juga kemenyan mulai tercium menyengat kala Tazkia sampai di depan gubuk tersebut. Sepertinya gubuk itu adalah rumah seorang dukun yang tersohor pada jamannya.Tazkia kemudian lantas beralih ke belakang gubuk tersebut, pandangannya terhenti pada seorang gadis kecil yang perawakannya sama persis dengan hantu anak kecil tersebut.
Di dekatinya anak kecil tersebut, namun baru beberapa kali melangkah Tazkia lantas berhenti, kala tiba tiba seorang pria dengan rambut gimbal dan hanya mengenakan celana jarik lantas langsung menyeret anak kecil tersebut.
"Sudah bapak bilang berkali kali jangan main ular tangga! kenapa masih main!" ucap pria tersebut sambil memukul pantat anak kecil tersebut hingga anak kecil tersebut menangis sambil tersedu karena kesakitan.
"Ampun pak... ampun" teriak anak kecil tersebut.
Tazkia yang iba ketika mendengar suara tangisan anak kecil itu, lantas melangkah mendekat berusaha menolongnya. Namun Tazkia kemudian seakan kembali di tarik dan di bawa melintasi alur cerita, beberapa detik kemudian Tazkia terhenti pada suatu tempat yang hampir mirip dengan hutan di mana situasi kala itu tengah mendung dan berkabut.
"Wahai penguasa kegelapan malam... berkumpul lah berkumpul! masuklah kalian ke dalam permainan hina ini! sesatkan dan celaka kan manusia yang memainkan permainan terkutuk ini. Kumpul kumpul kumpul!" teriak sebuah suara yang membuat Tazkia lantas terkejut mendengar hal itu.
Angin mendadak berhembus dengan kencang disertai dengan kilatan petir yang saling bersahutan dan terlihat jelas kala itu. Sebuah kabut mendadak mengelilingi keberadaan Tazkia hingga membuat Tazkia kehilangan arah sampai kemudian...
Hhhhhhhhh
__ADS_1
Tazkia mendadak tersadar dari penglihatannya, di mana sudah ada Faris di sebelahnya yang sedari tadi seperti menepuk pundaknya agar Tazkia kembali sadar.
"Kamu tidak apa Ki?" tanya Faris kala melihat Tazkia sudah kembali.
"Sudah berapa lama kita di sini?" tanya Tazkia balik yang lantas membuat Faris menatap ke arah Tazkia dengan bingung.
"Sekitar sepuluh menitan." ucap Faris singkat.
"Kita harus segera memberitahu mereka selagi masih keburu." ucap Tazkia kemudian sambil menarik tangan Faris agar segera mengikuti langkah kakinya.
****
Di ruang baca bagian tengah baik Prasetia, Faris dan juga Sinta menatap ke arah kedatangan Tazkia dan juga Faris yang buru buru melangkah mendekat ke arah ketiganya.
"Yang bener Ki? kita bahkan sudah separuh jalan. Bagaimana mungkin kita bisa mengakhirinya ketika di sana tertulis jelas siapa yang memulai dia juga yang harus mengakhirinya." ucap Aditya.
Mendengar ucapan Aditya barusan, Tazkia langsung seperti menemukan oase dalam gurun pasir yang tandus.
"Itu artinya lo yang harus mengakhirinya Dit!" ucap Tazkia tiba tiba yang semakin membuat Aditya dan yang lainya menatap tidak mengerti ke arah Tazkia. "Bakar papan itu Dit sebelum permainannya kembali di mulai!" imbuhnya kemudian.
Prasetia yang bru ngeh dengan ucapan Tazkia lantas langsung menatap ke arah papan kayu tersebut hendak langsung di berikan kepada Aditya agar segera di bakar, namun ketika Prasetia menoleh ke bawah papan itu menghilang tak berbekas sama sekali.
"Papan itu menghilang!" teriak Prasetia kemudian.
__ADS_1
"Apa?" jawab Tazkia, Faris, Aditya dan juga Sinta secara bersamaan.
"Kita harus mencarinya segera, waktu kita hanya tersisa 40 menit." ucap Tazkia kemudian di balas yang lainnya dengan anggukan kepala tanda mengerti.
Semua orang lantas langsung berpencar mencari keberadaan papan kayu itu, Tazkia yakin ini tidak akan berjalan dengan mudah mengingat papan kayu tersebut sudah diisi oleh beberapa lelembut yang membuat papan kayu yang berisi ular tangga tersebut bukanlah permainan biasa.
Prasetia dan Aditya menyisir ke area rak buku sebelah selatan mencoba mencari di daerah sana. Aditya yang dalam posisi bingung lantas seperti mulai melihat papan tersebut melayang tepat di tengah tengah rak buku.
"Papannya Pras!" ucap Aditya dengan kegirangan kemudian berlari dan langsung melompat mencoba menangkap papan kayu tersebut yang terlihat melayang. Hanya saja ketika Aditya mendekapnya dengan erat papan itu kembali menghilang dan muncul lagi secara berulang membuat Aditya dan juga Prasetia kebingungan melihatnya.
Aditya yang memang ingin segera mengakhirinya lantas berusaha terus untuk menangkap papan kayu tersebut sampai kemudian...
Hap
Bukannya papan kayu yang Aditya tangkap, Aditya malah menangkap sosok pocong yang kala itu dengan posisi sedang membelakanginya.
"Pras... kok ... jadi menjulang tinggi begini.. gue takut...!" ucap Aditya sambil gemetaran, sedangkan Prasetia yang melihat hal itu lantas langsung menarik tangan Aditya dan mengajaknya berlari dari sana.
Prasetia dan Aditya terus berlari namun selalu saja kembali terhenti dengan sosok pocong yang tiba tiba saja berhenti di hadapan keduanya, membuat Prasetia dan juga Aditya terkejut secara berkali kali. Sebisa mungkin Prasetia menarik tangan Aditya untuk menghindari sosok pocong tersebut yang terus mengikuti langkah kaki mereka, menghilang dan muncul secara berulang ulang membuat langkah kaki Aditya semakin lemas dan bingung harus ke mana agar pocong tersebut tidak lagi mengejar keduanya.
"Gue udah gak kuat Pras! rasanya lemes besti. Mana tuh pocong mukanya gosong semua, gue ngeri lihatnya." ucap Aditya dengan gerakan hendak berhenti dan istirahat, namun Prasetia langsung kembali menariknya dan terus mengajak Aditya untuk berlari sambil mencari papan kayu itu.
"Kita harus terus lari dan cari Dit, waktu kita gak banyak! disaat semua orang sedang bergantung dengan lo harusnya lo semangat dan lekas selesaikan semuanya, bukan letoi seperti ini!" ucap Prasetia dengan kesal karena Aditya terkesan males malesan padahal Prasetia juga melihat hal yang sama dengan Aditya. Harusnya Aditya lebih bisa menempatkan posisi, bukan hendak menyerah seperti ini.
__ADS_1
Bersambung