I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 10


__ADS_3

Alisya terbangun dengan tubuh yang luar biasa lelah. Mengurung diri dikamar tanpa mendapatkan solusi yang berarti membuatnya lelah. Bukan hanya fisik namun juga batinnya yang terluka.


Gadis cantik dengan rambut tergerai sepinggang tersebut melangkah dengan gontai menuju kamar mandi. Dia tak boleh menyerah dengan apa yang terjadi. Alisya bertekat untuk bangkit, namun belum terpikir cara yang tepat demi bisa menghindari apa yang telah diputuskan oleh ayahnya.


"Masih ada beberapa bulan lagi bukan? itu artinya aku harus memikirkan cara yang paling tepat demi bisa membuat ayah merubah keputusannya. Semoga saja, aku memiliki waktu yang cukup untuk itu."


Alisya membersihkan dirinya dan bersiap untuk ke kampus. Dia menyunggingkan senyum manisnya agar tak seorangpun tahu akan kegundahan dalam hatinya. Biarlah hanya dia dan keluarga nya saja yang tahu dilema yang sedang dihadapinya kini.


"Umurku masih 19 tahun, namun ayah berniat menjodohkan ku dengan pria yang berusia 30 tahun. Bukankah dia pantas ku panggil dengan sebutan om? apa kata teman temanku nanti ketika mengetahui bahwa calon suamiku adalah lelaki yang sudah berumur." Gumamnya pelan.


Dalam mobil mewah yang membawanya ke kampus pada dasarnya Alisya belumlah bisa berpikir santai. Dia menggigit pelan bibirnya agar tak terbawa suasana sehingga air mata nya tak lagi tumpah.

__ADS_1


"Di jemput seperti jam biasanya, non?"


"Ehmm, nanti saya hubungi saja paman. Soalnya saya juga belum tahu, takutnya nanti ada kegiatan tambahan yang harus saya ikuti."


Alisya memang terkenal dengan kesopanan nya. Dalam keluarganya memang tak pernah diajarkan hal hal yang buruk. Bagaimanapun kerasnya sikap Tuan Alisky, dia tetap tidak menstolelir segala kesombongan. Oleh karenanya, semua anak anaknya terkenal sopan sopan kepada siapapun.


"Baik, non." Lelaki yang selalu mengantarkan nya kemanapun Alisya pergi tersebut tersenyum sopan. Memarkirkan mobilnya dengan baik disisi gerbang kampus. Kemudian memutar kembali setir mobilnya untuk kembali pulang ke kediaman tuan Alisky.


Williams memijit pelan pangkal hidungnya. Hembusan nafas berat terdengar beberapa kali, tak punya pilihan namun memang semua serasa berat.


"Aku juga tak bisa membantu banyak untuk hal ini. Semua diluar kendaliku, kau tahu sendiri aku disini sedang mengurus segala urusan perusahaan." Edwin merasa serba salah dengan segala hal yang terjadi.

__ADS_1


Di satu sisi dia tak bisa tak ingin Williams tertekan namun disisi lain, Oma sangat menginginkan hal tersebut.


"Bukan salahmu. Salahku sendiri karena telah menjanjikan satu hal yang ternyata tak mampu untuk aku tepati pada akhirnya. Aku tak bisa membuat Oma kecewa untuk kesekian kalinya. Dan mungkin ini adalah jalan terbaik bagiku." Williams tersenyum, mencoba menenangkan saudara angkatnya. Walau jujur dihatinya masih terselip keraguan dan kegelisahan.


"Aku akan mencoba semampuku untuk berbicara dengan Oma dan juga papa. Siapa tahu, aku bisa membantumu nantinya."


"Tidak perlu, Ed. Aku akan mengikuti semua yang telah Oma atur untukku. Aku tak ingin Oma mengkhawatirkan ku secara terus menerus."


Edwin menatap lekat mata Williams. Namun lelaki tersebut mengangguk meng iyakan ucapannya. Hingga malam semakin larut barulah keduanya meng istirahat kan diri di kamar mereka masing-masing.


Williams yang tak lekas terlelap pada akhirnya membuka laptopnya. Menatap foto mendiang ke dua orang tuanya. Butiran air mata menetes tanpa bisa dia cegah. Senyum yang nampak di foto tersebut membuatnya rindu. Tak ada penyesalan, Will sudah lama meng ikhlas kan semuanya. Namun jika ingin jujur, dia sangat merindukan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2