
Alisya yang sedikit kesal langsung menuju kamarnya. Gadis itu melemparkan tas kecil yang dibawanya sedikit keras meski jatuhnya juga diatas ranjang. Tak habis pikir dengan apa yang ada dalam pikiran Clara saat ini.
Dia yang nyata nyata tengah mengandung malah mempunyai obsesi pada lelaki lain padahal jelas, lelaki yang seharusnya bertanggungjawab padanya ada dan malah masih berhubungan dengannya meski sembunyi sembunyi. Entah apa tujuan sebenarnya wanita itu ingin mendapatkan Williams.
Meski sudah tahu akan modusnya, tetap saja rasa kesal itu bercokol dalam hati Alisya.
Sementara Williams yang mendapati pintu kamar Alisya tertutup rapat hanya bisa bernafas berat. Dia sangat yakin gadisnya tengah merajuk atau bahkan marah besar padanya. Namun Will yang memang tak tahu apa apa tentang perbuatan Clara hari ini menjadi bingung sendiri. Ingin menjelaskan namun dirinya takut membuat Alisya semakin salah paham. Dia tak ingin Alisya berpikir jika dirinya tahu bahkan masih sering berhubungan dengan Clara meski hanya lewat pesan singkat.
Williams memijit pelipisnya pelan. Mata yang semula terpejam itu terbuka secara tiba-tiba kala mengingat satu ungkapan yang tadi sempat didengarnya dari Alisya ketika sedang berbicara dengan Clara.
"Aku tak salah dengarkan? tapi bagaimana mungkin? bukankah dia mengatakan jika lelaki tersebut pergi meninggalkannya karena tak ingin bertanggungjawab?" Will berpikir keras.
Lelaki tersebut melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri setelah sebelumnya berdiam diruang tengah berharap Alisya akan kembali keluar kamar. Namun hingga beberapa menit menunggu gadis itu tak kunjung keluar menandakan bahwa dirinya benar-benar marah atau bahkan langsung terlelap. Biarlah Will akan mengurusnya besok.
Will meraih ponselnya, dia tak berniat untuk membenarkan benda pipih tersebut hingga tak lagi ter silent. Will rasa, adakalanya dirinya harus mempunyai waktu untuk mengurus dirinya sendiri.
"Hallo Will." Albert menjawab sambil sedikit menguap.
"Sorry, aku hubungi kamu malam malam begini. Ada hal penting yang harus aku tanyakan."
"Tak masalah andai aku bisa membantumu." Albert membenarkan duduknya. Dia yang tadinya bersandar di bahu ranjang menegakkan sedikit tubuhnya.
"Soal Clara. Aku tahu ada banyak hal yang terjadi yang belum ku ketahui beberapa waktu ini. Tapi aku tak mempermasalahkan semua itu. Hanya saja aku ingin memastikan sesuatu. Hari ini dia menghubungi ku hingga tak terhitung rasanya. Beruntung nya ponselku sedang ter silent tanpa ku sadar. Hingga aku tak harus terjebak dalam situasi sulit." Will menarik nafasnya panjang, apa yang dikatakan oleh Bram sangat membekas dalam benaknya.
"Apa sebenarnya yang dia lakukan selama ini. Aku pikir kamu mengetahuinya?" Lanjutnya pelan.
Albert menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia dan Doni sebenarnya tak ingin menyembunyikan apapun dari Williams, namun atas permintaan Alisya. Mereka terpaksa mengikuti skenario gadis cantik tersebut untuk dapat mengetahui rencana Clara selanjutnya.
"Aku akan kirimkan beberapa rekaman padamu. Dari sana kau bisa mengerti apa yang terjadi. Dan soal kenapa Aku maupun Doni merahasiakan ini padamu hingga saat ini, semua itu atas permintaan Alexa. Dia ingin mengetahui rencana Clara padamu dan sekaligus mencari bukti untuk membongkarnya."
__ADS_1
"Jadi??"
"Tunggu sebentar, akan ku kirim semuanya padamu." Albert menutup panggilan terlebih dahulu kemudian mengirimkan hasil rekaman cctv yang berhasil di ambil.
Sementara untuk rekaman suara, Albert meminta Williams untuk datang ke panti keesokan harinya.
*
*
*
Alisya keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono handuk. Wajahnya terlihat lebih segar setelah berendam beberapa waktu dalam bathtub.
Dikeringkannya rambutnya yang setengah basah sebelum dirinya beranjak untuk mengganti pakaian dengan piyama tidur.
Alisya mematut dirinya didepan cermin dan mengaplikasikan krim malam pada wajahnya. Matanya memang menatap bayangannya sendiri dalam cermin dihadapannya namun percayalah jika pikiran gadis tersebut tak terfokus kesana.
Tak banyak yang Alisya inginkan sebenarnya. Seandainya takdir tak mempertemukannya dengan Williams dalam sebuah pernikahan pun dirinya akan menerima dengan lapang dada meski rasa ihklas itu entah tulus atau tidak. Namun, Alisya juga tak ingin menyerah dengan takdirnya. Dia akan berjuang untuk mendapatkan apa yang dia ingin sesuai dengan kemampuannya.
Dia tak akan bisa memaksa jika Will benar bukan jodoh yang dipersiapkan oleh Tuhan untuknya. Akan tetapi untuk melepaskan lelaki tersebut pada wanita seperti Clara tentu dia akan menjadi orang terdepan yang menentang hal itu terjadi.
Alisya menghembuskan nafasnya berat, seberat rasa cemas dan juga khawatir yang dirasakannya kini.
Gadis itu terlonjak kaget ketika melihat pintu kamar terbuka secara mendadak dengan menampilkan sosok Williams yang telah berdiri disana. Dokter tampan tersebut nampak masih mengenakan pakaian nya yang tadi. Belum berganti pakaian atau bahkan belum melakukan apapun membuat Alisya yang semula sedikit terperanjat menjadi mengernyitkan dahi.
Gadis itu betbalik menatap cermin dan kembali melanjutkan aktivitas nya yang sempat terjedah karena lamunannya. Tanpa menoleh pada Williams dia mulai bertanya pelan.
"Hon, kenapa belum membersihkan diri? ini sudah terlalu malam. Beristirahatlah, kau pasti lelah. Atau ada yang kamu inginkan?" Tanyanya dengan jemari yang masih lincah memoles wajahnya dengan krim malam.
__ADS_1
"Kenapa?"
Alisya kembali mengernyit dan menghentikan rutinitasnya sebelum menoleh ke arah Williams yang berjalan mendekat.
Ada debar dalam hatinya kala menebak lelaki tersebut akan menyalahkannya atas apa yang dia lakukan tadi pada Clara saat menghubungi wanita itu.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kau memilih merahasiakan semuanya dariku? apa kau sebegitu tak percayanya padaku hingga melakukan ini?" Jarak mereka semakin dekat.
Tatapan Will yang tajam membuat Alisya menelan ludahnya kasar.
"Om ingin mengetahui yang mana?" Ujarnya pada akhirnya.
"Semuanya. Kita adalah sepasang, kau tahu. Aku dan kamu sedang berusaha untuk menjalin ikatan pada diri kita agar menjadi satu jiwa yang sama. Akan tetapi, jika kau masih meragukanku maka semuanya akan sia sia belaka." Will berujar lirih ketika dirinya telah berada tepat dihadapan Alisya.
Alisya menundukkan wajahnya dalam, matanya terpejam mencoba untuk lebih tenang. Will mengusap wajahnya kasar setelah mendengarkan semua penjelasan yang Alisya utarakan hingga gadisnya tersebut nekat memilih untuk tak melibatkannya.
Tak ada maksud lain sebenarnya. Alisya hanya ingin menyelamatkan miliknya dan juga sekaligus melindungi nama baik Williams jika nanti terjadi suatu hal diluar kendali.
"Apapun yang terjadi, kita akan hadapi bersama. Kau tahu, bagaimana aku merasakan gila ketika kehilanganmu waktu itu, meski semua itu adalah kesalahan yang kubuat sendiri. Namun kali ini aku tak ingin semua kembali terulang. Berjanjilah padaku, setelah ini kau tak lagi menyembunyikan apapun dariku, sayang."
Will merengkuh tubuh Alisya masuk dalam dekapannya. Diciuminya pucuk kepala gadis cantik yang memeluknya erat itu. Sungguh Will ingin marah ketika mengetahui apa yang direncanakan oleh Clara. Namun dirinya juga menghargai apa yang dilakukan oleh Alisya semata-mata untuk mendapatkan bukti.
*
*
*
__ADS_1
"Tak apa aku kehilangan segalanya asal itu bukan kamu."