
Satu minggu telah berlalu, sesuai dengan janjinya saat ini tiba waktu nya bagi Williams untuk kembali ke Indonesia. Banyak hal yang telah menantinya disana. Bukan hanya rumah sakit yang sempat dirinya tinggalkan namun ada juga panti.
Meninggalkan banyak kewajiban membuat Williams harus benar-benar bisa membagi waktu saat ini. Pulang sendiri tanpa Alexa sebenarnya sangat berat untuknya. Bagaimanapun, kepergiannya kemarin hanya demi bisa membawa gadis itu kembali.
Namun Will juga tak bisa memaksakan kehendaknya begitu saja. Bagaimanapun dirinya harus memikirkan tentang perasaan Alexa dan keluarganya. Paling tidak, Will sudah merasa tenang dengan mengungkapkan perasaannya kemarin. Hanya tinggal menunggu waktu hingga Alexa bersedia untuk dipersunting olehnya.
Will kembali memilih tinggal di apartemen yang sempat menjadi tempat tinggal Akmal beberapa waktu lalu. Selain dekat dengan rumah sakit, Will juga merasa akan lebih fokus bila berada disana dibanding dengan rumah pribadinya.
Hubungan jarak jauh sedang mereka jalani sekarang. Belum adanya keputusan dari Alexa membuat Will harus menekan rasa sabarnya. Setidaknya hubungan mereka sudah menunjukkan kemajuan.
"Om baru pulang?" Alexa memicingkan matanya sesaat setelah panggilan vidio mereka tersambung. Sudah menjadi kebiasaan, Will akan menghubunginya disaat sebelum berangkat bekerja dan saat pulang.
Tak ada maksud lain, hanya saja Will ingin Alexa percaya akan kesungguhannya dengan memberitahukan segala kegiatannya sepanjang hari.
"Ada pasien gawat darurat tadi, makanya telat pulang nya sayang. Maaf ya, baru bisa menghubungimu." Will berujar lirih.
Perbedaan waktu yang cukup banyak membuat mereka terkadang sukar menyesuaikannya. Seperti saat ini, ketika Will baru sampai apartemen nya pukul 11 malam, maka disana Alexa sedang menikmati senja dan menunggu matahari tenggelam.
__ADS_1
Bukan marah sebenarnya, namun Alexa memang sekhawatir itu. Mengingat bagaimana Williams jika sudah gila kerja. Lelaki tersebut akan mengabaikan segala hal, termasuk makan. Hal sepele yang selalu membuat Alexa menarik urat ketika memperingatkan lelaki tersebut untuk menjaga kesehatannya sendiri.
Jika sudah begitu, Will akan mengulas senyum menanggapi ocehan gadis kesayangannya tersebut. Membuat Alexa mengumpat gemas disebrang sana.
"Kamu semakin cantik jika sedang mengomel begini, sayang. Membuatku semakin rindu."
Jika sudah demikian, Alexa hanya akan mendengus dengan pipinya yang merona.
"Om, Aku jangan becanda. Aku nggak suka Om yang begini, kalau sakit bagaimana? siapa yang akan merawat Om nantinya?"
"Kalau aku sakit, itu artinya kamu akan datang untuk merawatku kan sayang?"
"Baiklah, baiklah. Besok aku tidak akan melupakannya." Will pada akhirnya mengala ketika melihat mata gadisnya telah berembun
"Hanya besok?" Alexa kembali memicingkan matanya.
"Kau bisa mengurusku sayang. Setiap waktu makan aku akan menghubungimu setiap waktunya makan."
__ADS_1
Alexa mengangguk dengan cepat. Begitu juga lebih baik. Keduanya saling bercerita tentang apa saja hingga rasa kantuk menyerang Will, barulah mereka mengakhiri panggilan tersebut.Tak jarang, Alexa lah yang lebih dulu mengakhiri panggilannya.
Seperti saat ini, jelas jelas terlihat dimatanya wajah lelah sang kekasih meski selalu berusaha menggodanya. Terbukti dengan kemeja yang dikenakan lelaki tersebut masih sama seperti yang dipakainya tadi pagi.
"Om, langsung istirahat ya!! sudah cukup Bekerjanya hari ini."
"Iya sayang, setelah membersihkan diri aku akan langsung tidur. Kamu jangan nakal ya disana, I love you Lexa."
Senyum manis Alexa mengembang sempurna. Will selalu mengungkapkan cintanya disetiap akhir mereka melakukan panggilan. Dan itu yang Alexa suka.
*
*
*
"Om dokter, I love you." Alexa menutup panggilannya dengan semu merah di pipi nya yang masih sempat terlihat oleh mata Williams. Lelaki tersebut tergelak dengan rasa bahagia yang terasa meledak dalam hatinya.
__ADS_1
"Ah aku bisa gila jika begini terus Lexa, cepatlah memberiku kepastian." Gumam lelaki tersebut sambil menatap wajah Alexa yang menghiasi layar ponselnya.