I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 165


__ADS_3

Dengan langkah tergesa Alisya memasuki rumah sakit. Menyusuri koridor guna mencari ruangan di mana Cindi sedang ditangani kali ini.


Di depan ruang pemeriksaan, nampak Deandra, Akmal juga Alina sedang duduk dengan cemas. Mereka sedang menunggu kabar dari dokter yang memeriksa Cindi. Namun hingga hampir 30 menit berlalu tak seorangpun keluar dari ruangan tersebut. Bukan hanya dokter, bahkan suster maupun Akshan tak menunjukkan tanda tanda akan keluar dengan segera membuat mereka semakin panik.


*


*


*


Setelah mematikan panggilannya, Will bergegas turun. Berbasa-basi sejenak dan berpamitan pada Oma. Dokter tampan dengan kacamata itu segera memacu mobilnya membelah jalan menuju rumah sakit.


Sedangkan di restoran nya, Tuan Alisky berdecak kesal. Pria paruh baya tersebut tak bisa segera ke rumah sakit sesuai dengan yang dikatakan pada Akmal tadi sewaktu putra ke duanya tersebut memberinya kabar. Pertemuan dengan relasi nya akan berlangsung sepuluh menit lagi dan dirinya tak bisa membatalkan semuanya mengingat hari ini adalah terakhir kalinya dia disibukkan dengan pekerjaan. Sementara relasi nya yang berasal dari luar kota juga hanya bisa membuat janji temu dengannya hari ini. Dengan terpaksa, Tuan Alisky mengatakan akan ke sana jika urusan nya telah selesai nanti. Namun pria paruh baya tersebut berpesan pada Akmal untuk memberinya kabar padanya secepatnya.


*

__ADS_1


*


*


Pintu ruangan dimana Cindi mendapat penanganan terbuka. Dengan sigap, Deandra melangkah mendekat. Wanita lembut tersebut menatap cemas wajah dokter yang baru saja keluar dari ruangan. Belum juga keluar kata kata dari bibirnya muncul sosok Akshan dari balik pintu yang berada di belakang dokter dengan mata yang memerah.


Dada semua orang berdegup kencang apalagi ketika Akshan berhambur memeluk Deandra erat dengan isakan kecil yang terdengar.


Alisya yang baru saja keluar dari lift menahan langkahnya. Matanya menatap nanar sang kakak yang sedang menangis memeluk sang mama. Hatinya berdebar, gadis cantik calon mempelai wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Dok, apa yang sebenarnya terjadi? Kakakku baik baik saja kan?" Lirihnya.


"Semua baik baik saja. Hanya saja pasien butuh istirahat yang banyak dan tidak boleh capek. Juga tidak boleh stress." Jawab dokter Merry sambil lagi lagi tersenyum ramah.


"Tapi.."

__ADS_1


"Pertanyaan Akmal berhenti di tengah, dia beralih menatap kakak sulungnya yang masih terisak di sana. Tak pernah dia melihat sang kakak seperti itu. Lelaki itu selalu bisa menjadi penguat bagi semua anggota keluarganya namun saat ini terlihat begitu lemah.


" Untuk itu biarkan suami pasien sendiri yang menjelaskan. Saya permisi dulu." Akmal mengangguk, setelah dokter Merry berlalu. Kembali Akmal menatap ke arah sang kakak. Terlihat lelaki tersebut tersenyum.


"Ma, kakak akan jadi ayah." Ucapnya pelan dengan suara yang bergetar.


Deandra diam sesaat mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Sedetik kemudian wanita itu kembali memeluk putra sulungnya dan mencium kening Akshan penuh sayang.


Alina dan Alisya saling berpandangan sebelum keduanya berhambur ke pelukan Akmal yang ikut tersenyum bahagia. Hati yang tadinya berdebar kencang kini berdetak dengan normal. Rasa bahagia yang Akshan rasakan turut membuat mereka semua bahagia hingga tak menyadari sosok Williams telah berdiri disana sambil tersenyum.


Mereka menyudahi semuanya ketika pintu ruangan kembali terbuka dengan menampilkan tubuh Cindi yang terbaring diatas brankar untuk dipindahkan ke ruang rawat inap. Di tangan kiri wanita yang nampak sedang tertidur tersebut menancap selang infus.


Semua orang mengikuti suster yang mendorong brankar Cindi. Menurut penjelasan Akshan, tekanan darah sang istri rendah dan dia juga mengalami dehidrasi, karena itulah Cindi ditemukan pingsan.


"Hon." Alisya berbalik ketika mendapati seseorang menepuk lengannya pelan. Gadis cantik tersebut menghambur kepelukan lelaki yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2