I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 18


__ADS_3

Albert menatap tak percaya lelaki yang tengah tersenyum lebar ke arahnya. Beberapa menit yang lalu, Will berhasil membuat Albert terdiam dengan mulut mengagah. Tak percaya rasanya mereka bisa bertemu kembali setelah bertahun-tahun lamanya. Wajar saja jika Albert sampai lupa dengan sosok Williams.


Penampilan Williams yang sekarang membuat orang berpikir bahwa dirinya adalah seorang artis. Badan tegap atletis dengan jambang yang dibiarkan sedikit memanjang dan bulu bulu halus disekitar rahangnya. Kacamata yang membingkai ke dua matanya yang tajam menyorot seperti mata elang.


Tak akan pernah percaya seandainya Will tak mengungkit masalah sepedanya yang rusak saat terakhir kalinya mereka bisa menghabiskan waktu bermain bersama. Karena setelah peristiwa tersebut dirinya tak berani keluar sekedar bermain. Will tak ingin lagi membuat sesuatu yang bisa menimbulkan masalah kepada kedua orang tuanya kembali.


Albert memeluk erat tubuh jangkung Williams. Mereka tertawa bersama dan Will juga dapat menyaksikan bagaimana nyonya Carlotta tersenyum menyaksikan keduanya.


Albert bekerja di sebuah cafe tak seberapa jauh dari tempat tinggal mereka. Sejak dua tahun belakangan ini, Albert hanya tinggal berdua dengan sang mama. Saat dirinya bekerja maka akan ada seseorang yang menjaga sang mama nantinya. Istrinya pergi meninggalkan Albert karena tak tahan hidup serba pas pasan. Dan Albert pun tak bisa untuk mencegahnya. Hingga di tahun ke dua kepergiannya sang istri kembali dengan membawa surat gugatan cerai untuknya.


Untuk kali ke dua Albert tak bisa melakukan apapun. Hingga putusan pengadilan benar-benar keluar dan mereka resmi berpisah. Albert tetap menjalani hari harinya dan merawat sang mama yang pada saat itu sedang sakit keras. Hingga kesabaran Albert kembali diuji ketika dokter mengatakan bahwa ada saraf pada bagian kepala nyonya Carlotta yang mengalami suatu masalah dan memerlukan tindakan oprasi.

__ADS_1


Namun keterbatasan ekonomi membuatnya menunda oprasi tersebut hingga saat ini. Dan mengakibatkan sang mama tak lagi bisa berbicara, bergerakpun hanya gerakan ringan. Hari hari keduanya masih sama dan mereka berdua saling menguatkan disaat nyonya Carlotta sudah bisa menerima keadaannya.


Williams menyuapi nyonya Carlotta. Dia masih mengingat bagaimana wanita yang sedang menatap dan menerima suapan darinya itu pernah menyayanginya waktu dulu. Mungkin mulut nyonya Carlotta memang pedas namun wanita itu juga memiliki sikap penyayang. Dan Will pernah merasakan itu.


"Mama sudah ingatkan? dia Williams, teman Al yang dulu sering kesini." Albert terenyuh menyaksikan bagaimana lembutnya Will menyuapi mamanya.


Tak ada jawaban tentu saja, karena nyonya Carlotta kesusahan untuk bicara. Dia hanya mengedipkan matanya dan tersenyum dengan bibir yang seolah berkata "iya, mama mengingatnya."


"Kenapa tidak menginap disini? kenapa harus tinggal di hotel?" Gerutu Albert seolah enggan berpisah dengan Will.


Banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan sahabatnya tersebut. Namun waktu seolah tak mengijinkan mereka, setidaknya untuk saat ini.

__ADS_1


"Besok, malam aku sudah harus ke rumah Oma Feli. Dan mungkin akan tinggal disana sampai waktunya kembali ke tempat ku. Mungkin nanti sebelum kembali aku akan menyempatkan untuk kembali berkunjung."


"Baiklah. Kabari aku kapanpun kau punya waktu." Tepukan pelan di pundak Williams dengan Albert yang tersenyum hangat. Bahkan Nyonya Carlotta terlihat menitikan air mata saat Will berpamitan kepadanya tadi.


*


*


*


To be continue

__ADS_1


__ADS_2