I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 158


__ADS_3

Pagi yang cerah, secerah senyum semua orang yang menyambut kedatangan Williams dan rombongannya. Sang princess masih terlelap dalam gendongan Williams sedangkan pangeran terlalu nyaman berada dalam dekapan sang papa.


Kedua bocah tersebut nampak kelelahan, terlihat betapa nyenyak nya keduanya tidur meski sekelilingnya sedang riuh.


Setelah membaringkan kedua perusuh kecil dalam kamar yang memang telah disiapkan untuk keluarga Bram. Kedua lelaki tampan tersebut kembali bergabung dengan Oma Feli dan juga kedua wanita cantik mereka diruang tengah.


Banyaknya makanan yang terhidang menunjukkan jika Oma benar-benar telah menyiapkan semuanya.


"Oma, kenapa harus repot repot, padahal kita bisa makan apa aja. Tak perlu sampai merepotkan begini." Tiara yang berada di sisi kanan Oma menyandarkan kepalanya di lengan wanita yang mengingatkannya pada mendiang sosok sang nenek.


"Oma hanya ingin menyiapkan saja, dan Frank yang melakukan. Siapa sangka hasilnya sebanyak ini. Mungkin Frank yang salah mengingat nya." Oma nyengir sambil melirik kepala pelayannya yang hanya tersenyum meski dirinya telah menjadi korban.


Will tergelak, lelaki tampan tersebut berjongkok dihadapan Oma Feli. Tiara yang menyadari hal itu segera beringsut memberi ruang kepada keduanya.


"Oma, terimakasih. Oma telah memberiku segalanya, sejak dulu hingga kini. Will sayang Oma." Dokter tampan tersebut menciumi kedua tangan Oma Feli yang telah keriput, namun tetap terasa hangat.

__ADS_1


Oma Feli membelai lembut rambut Williams. Sudut hatinya menghangat. Ketika kerinduannya kepada kedua cucu dan cicitnya yang lain tak bisa terobati dia masih memiliki satu cucu yang merangkulnya saat ini dengan penuh kehangatan. Tak terasa sudut matanya mengembun, anak yang rawatnya sejak usia 10 tahun itu kini telah tumbuh dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Memiliki keluarga kecil sendiri dan hal itulah yang telah lama Oma nantikan sebagai hal terakhir dalam hidupnya.


.


.


.


"Maaf, kami baru sampai sekarang." Om Fer masuk diikuti oleh Edwin dan keluarga kecilnya.


Semalam, Om Fer secara mendadak memberi kabar jika dia dan keluarga tidak bisa langsung ke kediaman Oma. Dalam perjalanan, ada sebuah kejadian yang mengharuskan mereka kembali putar balik.


"Oma." Edwin menghambur memeluk wanita tua itu. Diciuminya wajah Oma membuat wanita tua itu tergelak seraya memukul pundak sang cucu.


Begitupun dengan sang istri dan putra kecilnya. Edwin menatap Will sesaat sebelum merangkulnya penuh kehangatan. Tak adanya ikatan darah diantara keduanya tak membuat ikatan persaudaraan itu pupus.

__ADS_1


"Aku seperti mimpi saat ini, kau kembali dengan membawa banyak sekali kejutan. Dan kau tahu, saat kau mengatakan jika akan datang bersama dengan tuan Bram, aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan orang hebat seperti beliau."


Edwin nampak begitu antusias, dirinya bahkan tidak menyadari keberadaan Bram yang sedang duduk tak jauh dari tempat duduk Oma bersama dengan sang istri.


"Hei, jangan bilang kau punya maksud terselubung ya?" Will memicingkan mata menggoda Ed yang nampak salah tingkah.


"Astaga, tentu saja tidak. Aku hanya merasa senang saja, tidak ada maksud lainnya."


"Jangan bilang jika kau juga ingin dia berkunjung ke perusahaan milikmu ya." Will kembali memicing.


"Kalau beliau mau, Aku tak akan mungkin menolaknya." Ed tersenyum lebar.


Sementara Bram tergelak ditempatnya. Edwin yang menoleh pada akhirnya salah tingkah ketika menyadari keberadaan Bram tak jauh dari tempatnya kini.


"Mati aku!! mudah mudahan Tuan Bram tak mendengar nya." Meski rasanya sulit untuk tak mendengar namun Edwin masih bergumam dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2