
Williams.
Aku memutuskan untuk kembali setelah 2 hari kami menikmati liburan di Paris. Sebenarnya aku mengambil cuti lebih panjang kali ini. Rencana awal ku akan mampir ke Belanda untuk mengunjungi Oma sekali lagi kemudian mencari tahu tentang keluarga Alexa. Menurut Monica, gadis itu berasal dari salah satu bagian negara tempatku lahir.
Sayang sekali semua harus ku reschedule ulang mengingat dirinya tak mau terbuka tentang keluarganya. Meski sedikit kecewa namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk memaksanya.
Setelah puas berkeliling tiba saatnya kami untuk kembali. Sebuah pesan masuk dari ponselku.Ku lihat waktunya sudah sekitar 30 menit yang lalu. Edwin mengatakan bahwa dirinya sedang berada di bandara saat ini. Aku ingin bertanya lebih lanjut namun ponselnya sudah mati. Mungkin sudah take off gumamku pelan.
Ku lirik Alexa yang berada disebelahku, terlihat lelah diwajahnya namun juga senyum puas itu terpancar dari kedua matanya. Ku buang pandanganku jauh kedepan, ketempat orang-orang yang sedang berlalu lalang. Kembali aku mengingat semua yang Bram katakan padaku.
Aku mendesah pelan. Mungkin benar apa yang dikatakan sahabat ku itu. Semuanya sudah aku rasakan. Rasa berdebar ketika tatapan kami bertemu, rasa khawatir bahkan rasanya aku sampai hilang akal jika itu menyangkut dia. Rasa bahagia melihatnya tersenyum dan banyak lagi rasa yang aku rasakan berbeda dan semua terjadi hanya karena seorang gadis belia bernama Alexa.
Kembali aku menggelengkan kepalaku pelan. Menghalau semua rasa itu agar tak semakin bertumbuh. Masa depannya masih panjang, banyak hal yang masih bisa diraihnya dan aku tak akan menghancurkannya hanya karena perasaan konyol yang ku rasakan.
"Yuk, kita masuk."
Lexa mengangguk dan memeluk lenganku dengan erat. Ku tarik nafas panjang untuk menetralkan degup jantungku yang kambuh lagi. Sepertinya aku harus melakukan pemeriksaan jantung saat sudah sampai nanti.
__ADS_1
*
*
*
Edwin.
Pesawat mendarat 1 jam yang lalu dan kini aku berada di rumah pribadi milik saudaraku, Williams. Huuft ku hela nafas pelan. Rasanya badanku sangat pegal dan pinggang ku sepertinya remuk.
Entah apa yang ada dalam koper besar itu namun rasanya aku tak mau lagi untuk mengangkatnya. Masih mending saat di bandara ada petugas yang mau membantu kami mengurus barang barang itu. Namun setelah sampai disini tentu saja aku harus berjuang sendiri mengangkatnya.
Sesampainya dilantai 2 kekesalan ku semakin diuji karena ternyata kamar yang biasanya kosong itu telah berpenghuni. Aku mengumpat pelan sebelum mataku melotot tajam menyorot kearah meja kecil diujung kamar.
Tunggu dulu, aku tak lagi salah masuk kan ya?
Sejak kapan ada meja rias berdiri kokoh dipojok itu lengkap dengan beberapa buah make up yang tertata. Will masih waras kan?
__ADS_1
Aku memukul kepalaku sendiri agar tak lagi konslet. Ku lirik jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan aku melupakan Oma yang tadi ku tinggalkan diruang tengah untuk beristirahat sejenak. Ya, kali ini aku berkunjung bersama Oma yang terus menerus merengek ingin bertemu dengan cucu kesayangannya.
Will memang spesial dimata dan hati Oma. Selain penurut, dia juga tampan dan pintar berbeda termasuk aku yang jika dibandingkan dengannya maka akan ketemu rata-rata 7 berbanding 3.Will yang 7 dan akulah yang 3 karena memang aku tak sebanding dengannya.Begitu juga dengan Jack dan Jonathan meski keduanya juga pintar tapi menurut Oma mereka kurang 1 sifat yaitu peduli pada orang lain.
"Oma." Suaraku sedikit keras karena tak lagi kudapati Oma dalam ruangan itu.
"Yes, grandma is here."
Ku langkahkan kakiku ke arah dapur dimana suara oma terdengar. Oma sedang duduk di kursi meja makan dengan menikmati secangkir teh hangat.
"Kamu mau?" Oma menunjuk tehnya, aku hanya menggeleng.
"Mungkin besok pagi mereka baru sampai."
Ha, mereka siapa? aku benar-benar nggak konek dengan apa yang oma katakan. Sejak kemarin setelah permintaan mendadak nya untuk ditemani berkunjung kesini oma selalu mengatakan hal hal yang membuatku pusing. Aku hanya terdiam mendengarkan, terserlah aku benar-benar capek malam ini dan rasanya ingin segera tidur.
"Kita tidur dikamar tamu saja, Ed. Ada 2 kan dilantai bawah? kita disana saja." Lagi lagi aku mengangguk dan sedikit menggerutu dalam hatiku.
__ADS_1
"Kenapa nggak ngomong dari tadi sih sebelum koper ku geret ke atas."
Sekali lagi ku tarik nafas dalam dalam karena sepertinya aku harus kembali berolah raga malam ini. Dan sayangnya kali ini dengan koper yang super berat tersebut.