
Hari hati perkuliahan kembali dimulai oleh Alexa. Gadis itu terlihat lebih bersemangat sekarang. Entah apa yang mendasari sikapnya saat ini, karena semua terlihat jauh berbeda dengan Alexa yang dulu seperti ogah ogahan menjalani pendidikannya.
Mungkin hormon jatuh cinta membuat semangatnya semakin meningkat. Dukungan dari Williams terlihat jelas, bagaimana lelaki tersebut selalu menyempatkan diri di waktu sibuknya untuk mengantar ataupun menjemput Alexa setiap harinya.
Suster Dini yang melihat gelagat berbeda dari sang dokter ikut merasakan bahagia. Williams selalu menampilkan senyum yang berbeda dari biasanya. Senyum yang membuat orang lain juga ikut merasakan kebahagiaannya.
"Ada apa, Sus. Kenapa senyum senyum sendiri?" Williams menatap asistennya tersebut bingung.
Hanya wanita satu anak itu yang cocok dengannya sejak dulu. Awal Williams baru menjadi asisten pemilik rumah sakit yang tak lain adalah ayah dari sahabatnya Bram. Suster Dini lah yang sudah membantunya dan banyak tahu bagaimana cara kerja seorang Williams. Keduanya nampak cocok dan membuat hubungan mereka semakin dekat hingga diluar pekerjaan. Tak jarang, Suster Dini dan keluarga kecilnya datang berkunjung ke rumah Williams hanya sekedar untuk bermain disaat mereka mempunyai waktu senggang. Suster Dini juga dipercaya untuk membersihkan rumah Williams yang memang jarang dokter tampan itu tempati.
Williams lebih suka menghabiskan waktunya di apartment sepulang dari rumah sakit. Namun sudah beberapa bulan ini, lelaki tersebut betah berada dirumah semenjak adanya Alexa tinggal disana.
Rumah tersebut juga tak hanya dihuni oleh mereka berdua bersama seorang security. Karena Williams sudah mempekerjakan seorang pengurus rumah dan seorang lagi security. Kesibukan yang bertambah semenjak Alexa memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya yang mendasari keputusan tersebut. Tak ingin Alexa semakin kelelahan dan repot membagi waktunya.
__ADS_1
"Hanya sedang bahagia saja, dok." Ucap Suster Dini sambil berlalu.
Williams hanya mengendikkan bahu dan kembali menatap berkas pengajuan oprasi gratis yang biasa dilakukan oleh rumah sakit tersebut. Tahun ini ternyata lebih banyak pengajuan. Williams sangat senang melihat antusias masyarakat terhadap kesehatan.
Namun semua yang dilakukannya harus tetap memenuhi prosedur dan atas persetujuan dari Bram yang tentu mempunyai kuasa penuh disana. Meski sang sahabat tak pernah memperhitungkan semuanya. Namun Williams tak ingin terjadi kesalahan sekecil apapun itu yang bisa merusak persahabatan rasa saudara yang telah terjalin lama.
*
*
*
Rasa rindu yang menggunung seakan terobati hanya dengan melihat apa yang mereka tuliskan disana. Tak banyak memang, karena Alexa juga sangat paham bagaimana sibuknya para saudaranya tersebut terutama Akshan. Kakak sulung yang teramat menyayanginya. Bukan membandingkan, namun dibandingkan dengan Akmal, Alexa memang lebih dekat dengan kakak sulungnya tersebut.
__ADS_1
Bermanja pada lelaki itu disaat sang ayah sibuk dengan segala pekerjaannya. Matanya mendelik tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru kemarin rasanya dirinya melihat foto profil sang kakak adalah foto saat berdua dengannya di sebuah taman. Namun yang terpasang saat ini adalah foto sang kakak namun bukan dengan dirinya ataupun sang adik, Alina.
Mulutnya mengaga tak percaya dengan caption yang dibacanya.
"The girl who owns my heart" dengan menampilkan foto berdua dengan sahabat karibnya Cindi.
"Mereka jadian?" Serunya tak percaya.
Sang kakak bukanlah tipe romantis, laki-laki tersebut lebih suka bekerja dan jarang sekali terlihat hubungan membuat Alexa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mengingat sang kakak Alexa tersenyum sendiri, karena sifat Akshan sedikit mirip dengan Williams yang nampak cuek namun sangat perhatian pada dasarnya.
"Ahh, kalian harus mentraktirku nanti." Serunya heboh sendiri.
__ADS_1