
Akshan berulang kali menatap jam yang tergantung di sudut ruang rapat. Dirinya kini sedang berada di dalam ruang rapat yang masih dalam satu gedung yang sama dimana restonya berada.
Tubuhnya berada di ruangan tersebut namun tidak dengan pikirannya. Pikiran Akshan masih tertinggal di ruangannya sendiri. Dimana Cindi masih berada disana bersama dua orang karyawan yang Akshan minta untuk menemani gadis itu.
Saat ditinggalkan tadi, Cindi masih terlelap setelah beberapa waktu lamanya menenangkan diri dan tangisannya redah. Tak mudah untuknya menjalani semua ini. Rasa cintanya untuk Akshan membuatnya tak mampu untuk berpaling. Namun melihat bagaimana Bella berjuang keras untuk meraih cintanya membuat hatinya terenyuh dan timbul rasa iba.
Dengan sesenggukan dan wajah memerah. Cindi meminta Akshan untuk memperbaiki hubungannya dengan Bella. Dia merasa tak enak hati pada wanita itu. Kehadirannya telah menghancurkan harapan Bella untuk bersama lelaki yang dicintainya. Dan Cindi sangat tahu bagaimana rasanya.
Akan tetapi dengan tegas Akshan menolak semuanya. Laki-laki tersebut dengan lantang mengatakan bahwa dirinya hanya menganggap Bella sebagai teman selama ini. Tak ada perasaan lebih yang dia rasakan, dan jikapun akan memaksa semua tak akan baik baik saja nantinya.
"Are you all right?" Seorang gadis muda dengan seragam waitress mendekat kearah sofa panjang dimana Cindi terbaring.
"I'm fine. Where is she?" Cindi mengubah posisinya menjadi duduk. Diteguknya teh hangat yang disodorkan gadis tadi.
__ADS_1
"Pak Aks sedang ada rapat. Mungkin sebentar lagi kembali. Apa yang kau rasakan? apa masih pusing?" Gadis yang menurut name tag yang dipakainya bernama Mandi tersebut duduk disebelah Cindi dan menatap khawatir.
Dia mengingat bahkan tak cuma dirinya yang melihat bagaimana Bella menarik rambut panjang Cindi begitu kerasnya hingga gadis itu menjerit.
Cindi menggeleng, sejujurnya gadis itu malu dengan apa yang telah terjadi tadi. Entah bagaimana nanti dirinya bersembunyi ketika keluar dari ruangan tersebut.
"Hai, kau sudah bangun?" Gadis yang menggunakan name tag Susan datang dengan nampan berisi beberapa makanan dengan senyum lebarnya. Diletakkan nampan tersebut diatas meja yang terdapat di depan Cindi.
"Huu. The witch is gone too, hopefully after this she won't come messing around anymore." ( Huu, akhirnya, nenek sihir itu pergi juga, semoga dia tak lagi datang kesini nantinya." Celetuknya setelah mendaratkan bokongnya pada sofa tak jauh dari tempat Cindi dan Mandi duduk.
"Selama ini tak ada yang berani melawannya. Dan kebetulan pak Aks tak pernah menegurnya, jadi dia merasa diatas angin. Semua karyawan disini sebenarnya tak menyukainya sama sekali. Namun kami tak bisa berbuat apa-apa." Lanjutnya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena dia temannya pak Aks. Pernah sekali ada kejadian lucu. Dia sedang marah marah dan mengomel ini itu seolah dialah bos nya di sini. Kemudian dirinya juga bilang kalau dialah calon bos disini. Pada saat itu pak Aks yang kebetulan lewat langsung saja masuk dan bertanya apa yang terjadi. Tapi nenek sihir tersebut berusaha mengalihkan perhatian hingga kami tak mampu membela diri. Tapi lucunya, sebelum berbalik dan meninggalkan kami. Pak Aks mengatakan bahwa dirinya tak ada hubungan apapun dengan nenek sihir itu, segala urusan yang berkenaan dengan pekerjaan menjadi tanggungjawab dia seutuhnya." Mandi yang awalnya terdiam mulai ikut bercerita dengan raut yang bersemangat.
"Hihihi melihat raut mukanya yang merah padam waktu itu sudah sangat lucu. Apalagi tadi pas pak Aks menampar dan mengatakan bahwa dirinya hanya dianggap teman saja itu sangat menyenangkan." Susan nampak tergelak
"Kalian tak menyukainya?" Cindi bertanya masih dengan sorot bingung.
"Sangat." Jawab keduanya bersemangat.
"Bahkan sepertinya bukan hanya kami berdua, banyak karyawan disini yang tak menyukainya. Setiap kali dia datang pasti ada saja yang dilakukannya untuk mencari perhatian Pak Aks. Dan tentu saja kamilah yang dijadikan alasan untuknya."
"Sudahlah, jangan bahas nenek sihir lagi. Sekarang makanlah, aku nggak mau kena masalah nanti jika pak Aks selesai rapat tapi dirimu masih kelaparan." Susan mengambil piring dalam nampan yang dibawanya tadi dan menyodorkannya pada Cindi.
"Iya benar. Pak Aks berpesan pada kami untuk menyiapkannya, dia juga bilang jika dirimu belum sempat sarapan juga tadi pagi."
__ADS_1
"Melihat pak Aks yang begitu rasanya tak percaya ya. hihihi." Mandi dan Susan tertawa kecil.
Sedangkan Cindi hanya terdiam sambil menikmati makannya. Pikirannya masih tak menentu saat Ini.