I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 99


__ADS_3

Pulang kerumah pribadinya yang telah lama dia tinggalkan membuat hati Williams kembali teriris perih. Rumah yang setiap sudutnya meninggalkan kenangan tentang Alexa. Bayangan gadis itu seolah terus saja berkeliaran disegala penjuru rumah yang dia tinggalkan selama 7 bulan lamanya.


Ya, Williams memilih pergi dari rumah sehari setelah dirinya mengetahui tentang masalah yang menyebabkan gagalnya perjodohan nya dulu. Merasa kesal dan marah ketika menyadari semua kata kata yang berhasil Alexa tuliskan benar-benar tertuju padanya.


Williams melangkahkan kakinya dengan gontai. Langkahnya terhenti ketika sebelah kakinya menapaki anak tangga pertama. Pandangannya tertuju pada meja makan yang berada tepat di sisi tangga bersebelahan dengan dapur.


Jantung Williams kembali berdebar dengan dasyat. Rasa itu kembali hadir menyesakkan dadanya. Williams menghembuskan nafas kasar mencoba menenangkan dirinya.


Diayunkannya kembali langkah kakinya menapaki tangga. Tak bisa dipungkiri, semua jejak Alexa masih melekat disana membuat dada Williams kian sesak. Ada sesuatu yang tak bisa dia ungkapan dengan kata kata. Dokter tampan tersebut terlihat kacau dan lemah.


Di kamar bernuansa putih dan krem dirinya berdiri. Mematung menatap nanar setiap sudut kamar. Kamar yang ditempati Alexa selama berada di rumah ini. Wangi parfum masih samar tercium karena memang tak adanya udara yang masuk karena rumah itu dibiarkan kosong dalam beberapa waktu. Will bahkan memilih untuk tinggal di panti guna menghindari bertemu dengan Alexa. Meski tanpa orang lain ketahui, dokter tampan tersebut selalu menatap gadis itu dari kejauhan.

__ADS_1


Williams mendudukkan dirinya diatas ranjang. Mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar. Senyum tersungging di bibirnya kala mengingat bagaimana kecerobohan Alexa yang selalu terulang lagi dan lagi.


Drrrt Drtt


Getar ponsel dalam saku kemejanya menyadarkan Williams dari lamunannya. Diraihnya benda pipih tersebut lalu menekan tombol hijau dengan cepat ketika melihat nama Oma Feli terpampang disana.


"Hallo, Oma."


"Will, Oma cuma mau memastikan saja. Apa Lexa masih berada bersamamu?"


"Dia, sudah kembali ke keluarganya, oma." Ucapnya pelan.

__ADS_1


"Berarti benar yang dikatakan Smith, kalau Lexa mengambil pertukaran pelajar dikampusnya?"


"Iya, oma." Williams memejamkan matanya


Lelaki tersebut sebenarnya tidak tahu atau lebih tepatnya tidak mau tahu tentang Alexa. Will benar-benar merasa sangat. Bukan hanya soal nama, keluarga namun lebih ke cara Alexa yang menyembunyikan dengan rapat soal dirinya yang menggagalkan perjodohan mereka dengan sesuatu yang tak masuk akal bahkan cenderung menghinanya.


"Baiklah, oma mengerti. Maaf oma mengganggumu Will, oma hanya ingin tahu langsung darimu. Dan ternyata benar, itu artinya Smith tak berbohong juga jika Lexa memilih untuk menjadi relawan di Rusia. Oma pikir mereka bercanda." Oma menjeda ucapannya sebentar, wanita tua tersebut nampak menghela nafas panjang.


"Ya sudah, oma tutup telfonnya. Terimakasih nak. " Oma menutup telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Williams.


Williams menatap nanar layar ponsel yang perlahan berubah menggelap tersebut dengan hati perih. Semua beruba tanpa bisa dicegah. Williams terguguh dalam kesendirian, dia menganggap segala sikapnya selama enam bulan lebih adalah wujud dari pelampiasan rasa kecewa dalam hatinya selama ini.

__ADS_1


Williams bahkan dengan sadar membuat jarak bahkan dengan Oma Feli, orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Tanpa perasaan dirinya mengatakan pada wanita tua tersebut untuk tak lagi mencampuri segala urusannya. Sejak saat itu, baru kali ini wanita tua itu menghubunginya. Namun bukan lagi menanyakan bagaimana keadaannya. Bahkan Oma Feli dengan tenang mengucapkan terimakasih dan kata maaf karena telah berani menghubunginya.


Di tengah kesendiriannya kembali bayangan Alexa hadir, membuatnya memejamkan mata dengan isakan yang tak lagi bisa dia tahan. Will menangis.


__ADS_2