
"Benar Om. Dan kali ini, Will datang membawa diri. Untuk meminta restu dari om dan keluarga untuk Alexa."
Ucapan Williams yang tenang dan lugas membuat Tuan Alisky dan Akmal hanya bisa terdiam saling pandang. Begitupun dengan Deandra yang kebetulan sedang berada diambang ruang tengah dengan nampan yang berisi beberapa camilan dan juga minuman ditangannya.
Wanita yang masih nampak cantik tersebut segera mengambil duduk didekat sang suami setelah menyajikan apa yang dibawanya.
"Kenapa masih memanggilnya Alexa?" Dahi perempuan tersebut berkerut.
"Sejak mengenalnya dia menyebutkan namanya demikian Tan, jadi sudah terbiasa meski tau nama sebenarnya." Will mengusap tengkuknya pelan seraya tersenyum kikuk.
"Aku hanya takut kau salah mengenali orang karena namanya pun berbeda."
Setelah terdiam sejenak pada akhirnya tuan Alisky mulai berujar pelan. Dia yang kini terbuka tak lagi menuruti egonya sendiri. Baginya, kebahagiaan anak dan istrinyalah yang terutama dibandingkan dengan dirinya.
"Om sebagai orang tua tentu senang dengan niat baik dokter. Tapi bagaimanapun yang menjalaninya adalah Alisya, jadi semua keputusan Om serahkan padanya. Apapun yang dia pilih nantinya, om harap yang terbaik bagi kalian berdua." Ujarnya pelan.
Deandra yang duduk disisi suaminya tersenyum menatap wajah tuan Alisky. Kejadian kemarin benar-benar mengubah sisi keras kepala yang dimiliki oleh lelaki tersebut. Di usapnya pelan lengan lelaki yang dicintainya itu penuh sayang. Melihat Williams dan Alisya mereka berdua seperti berkaca pada diri mereka sendiri.
Perbedaan usia yang sangat mencolok dapat dilihat pada keduanya. Dan tentu saja semua itu tak menjadi masalah yang berarti selama keduanya dapat saling menyayangi dan menerima. Seperti hal nya tuan Alisky dan Deandra.
__ADS_1
*
*
*
Williams yang memilih pulang ke kediaman Oma di sore hari tadi masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam.
Dokter tampan tersebut nampak duduk terdiam di balkon kamarnya menatap langit dengan taburan bintang disana. Tubuhnya terhenyak ketika suara dering ponselnya terdengar.
"Ya.."
"Kau mau cuti berapa lama lagi? Ckckc bukannya dia sudah ketemu?"
"Kenapa? kau merindukanku?"
"Si@lan kau. Kalau bukan princess ku yang selalu menanyakanmu mungkin aku sudah lupa jika mempunyai sahabat sepertimu."
Will kembali tergelak, Bram adalah Bram yang punya cara tersendiri mengungkapkan rasa sayangnya pada orang lain.
__ADS_1
"Minggu depan aku kembali. Ku harap kau belum memecatku saat itu."
"Bersamanya?"
"Entahlah, aku belum membicarakan hal itu dengannya. Kami baru saja kembali. Thanks Bram atas semuanya, aku tahu Jeffry datang karenamu dan aku sangat berterimakasih untuk itu. Jika tak ada dia, mungkin saat inipun aku masih belum kembali atau bahkan tak akan pernah kembali."
"Ckck, kau berhutang banyak padaku. Mana mungkin aku membiarkanmu pergi begitu saja. Lagipula, semua aku lakukan demi princess ku. Bisa pusing aku jika dia sudah meminta bertemu atau melihatmu." Cetusnya
"Aku sudah melamarnya." Ujarku pelan ketika kami sama-sama saling terdiam.
"Lalu?"
"Keluarganya menyerahkan segala keputusan padanya. Aku hanya tinggal menunggu dirinya siap untukku."
"Kau yakin dia mencintaimu?"
Pertanyaan yang Bram lontarkan membuatku terdiam. Sejak pulang dari kediaman keluarga Smith tadi, pertanyaan itulah yang mengganggu pikiranku. Hingga saat ini aku belum menanyakan bagaimana perasaannya padaku. Yang aku tahu, aku mencintainya.
"Baiklah, sebaiknya kau selesaikan dulu semuanya. Setelahnya baru kau bisa kembali." Suara Bram mengembalikan kesadaranku.
__ADS_1
Hingga kami mengakhiri obrolan dan kembali aku menatap langit malam dengan banyaknya bintang diatas sana.
Apakah aku egois karena memaksakan keinginanku tanpa bertanya perasaannya padaku?