
Udara malam nampak semakin dingin, hujan turun dengan begitu hebatnya. Aktifitas di luar sudah tak nampak diberbagai sudut kota. Semua orang nampak memilih untuk berdiam diri di rumah bersama dengan keluarganya masing-masing.
Begitupun yang terjadi dalam keluarga Smith. Semua memilih tinggal di rumah. Akshan bahkan telah pulang dari restoran lebih awal begitu pula dengan Tuan Alisky.
Berkumpul seperti ini sangat jarang terjadi dalam keluarga mereka akhir akhir ini. Dan ini kali pertama mereka kembali berkumpul dalam ruang keluarga, sayangnya formasi sudah tak lengkap dengan ketidak hadiran Alisya juga Akmal.
Sebuah keranjang berisi roti manis yang terlihat masih sedikit mengepulkan asap nampak disana. Bersama dengan potongan buah dan juga coklat panas tersaji di meja yang berada di tengah tengah mereka.
Alina bergelanyut manja di lengan sang kakak. Sesuatu yang jarang dilakukannya jika ada Alisya ataupun Akmal. Karena Akshan adalah pilihan terakhir baginya untuk bermanja. Dibanding kedua kakak nya yang lain, tentu ada segan dalam hati gadis belia itu terhadap kakak sulungnya.
"Minum coklatnya mumpung masih panas."
Senyum Deandra semakin mengembang, sudah lama wanita tersebut merindukan momen kebersamaan seperti ini. Meski personil mereka kurang lengkap, namun rasa syukur masih mereka panjatkan karena keluarga mereka bisa keluar dari kemelut besar. Hanya menunggu waktu untuk kembali utuh seperti semula.
*
*
__ADS_1
*
Akmal menatap ramainya jalanan di bawah sana melalui balkon apartemen milik Williams. Sudah hampir seminggu lamanya pemuda itu berada disana. Seminggu pula aktifitasnya dimulai di rumah sakit tempat Williams berada. Namun dalam waktu tersebut belum pernah sekalipun dirinya bertemu dengan sang adik.
Menurut Williams, Alexa sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya hingga dirinya melarang gadis tersebut untuk sementara datang ke rumah sakit.
Akmal tak merasa keberatan sama sekali. Apalagi hal tersebut dalam memperlancar drama yang dibuatnya untuk mengelabuhi sang adik. Berbohong demi kebaikan itu sah sah saja bukan? selama semuanya masih dibatas wajar maka berbohong pun terkadang di butuhkan.
Di tengah lamunannya, ponsel Akmal berdenting. Sebuah pesan masuk yang membuat bibirnya mengulas senyum. Pemuda tersebut bersandar di pintu balkon sambil menatap ribuan bintang yang berkedip bahagia.
"Sudah makan?" Pertanyaan klise namun tetap membuat Akmal tersenyum.
Gadisnya tak pernah lupa menanyakan hal hal yang terkadang hanya sepele namun terasa manis. Hubungan yang hanya mempertemukan keduanya lewat jalur virtual seolah menjadi tantangan tersendiri bagi ke duanya. Vidio call yang mereka lakukan selalu meninggalkan kesan manis yang membekas.
"Semuanya sudah,sayang. Hanya tinggal menunggu satu hal.." Akmal kembali tersenyum kala centang biru begitu cepat terpampang disana.
"Menunggu apa?" Balasnya dengan menyertakan tanda tanya yang banyak.
__ADS_1
Akmal kembali tersenyum, terbayang wajah Monica yang cemberut membuatnya gemas. Hanya bertemu dua kali selama mereka kenal dan sampai me jalin hubungan tak membuat Akmal melupakan bagaimana sifat gadis itu.
Berbeda dengan sewaktu mereka berbincang dengan ponsel. Monica akan banyak menyembunyikan ekpresinya.
Bukannya menjawab, Akmal malah langsung melakukan panggilan melalui vidio call. Ingin melihat mata gadis yang bisa membuat hatinya bergetar. Dan benar saja, ketika panggilan tersebut terangkat, nampak mata itu menatapnya lekat. Ada kerinduan, ada cinta dan juga ada tanya disana.
"Aku menunggumu, sayang. I love you." Akmal berujar tanpa mengalihkan pandangannya. Manik mata di sebrang ponselnya seolah mampu menenggelamkannya saat ini.
Air mata mengalir dari mata indah itu namun senyum nya terukir indah di sudut bibirnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hati keduanya.
"I love you, more. Tunggu aku!!" Gadis itu menjawab di sela isak bahagia nya.
"I wil."
Hanya dengan saling menatap membuat keduanya merasakan cinta yang begitu besar. Cinta yang tak bisa diungkapkan bahkan dilukiskan.
Tanpa Akmal tahu, jika Monica telah memutuskan untuk mengakhiri masa kontraknya ketika semua tanggungjawabnya dalam management telah berakhir. Hanya tinggal menunggu waktu.
__ADS_1