I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 123


__ADS_3

Pesawat yang membawa Alexa dan Williams mendarat di bandara Belanda ketika waktu telah menunjukkan tengah malam. Alexa masih berusaha untuk menjaga kesadarannya meski rasa kantuk terus menyerangnya sejak beberapa jam lalu. Keduanya memang belum sempat beristirahat sejak dari pulau meski sempat memesan dan masuk ke kamar hotel. Namun nyatanya hingga detik ini pun keduanya masih terjaga.


"Tidurlah!! aku tahu kamu lelah. Akan kubangunkan nanti jika kita telah sampai, hem." Williams merengkuh pelan pundak Alexa membuat gadis itu menyandar didadanya.


Alexa memeluk tubuh Williams sambil memejamkan matanya. Rasa kantuknya memang sangat berat namun rasa nyaman yang dirasakannya dalam dekapan Will malah membuatnya tak dapat memejamkan mata.


"Kesempatan ini tak akan datang dua kali bukan? jadi, ijinkan aku untuk menikmatinya kali ini." Gumamnya sambil mempererat pelukannya.


Williams mengusap lembut punggung Alexa. Tak dapat dia pungkiri, rasa nyaman itu menjalar dalam hatinya. Kian hangat hingga membuat senyum manis tersungging di bibirnya. Kecupan kecupan kecil berlabu dipuncuk kepala Alexa. Membuat gadis itu semakin tenggelam dalam pikirannya.


Hingga taxi yang mereka tumpangi memasuki pelataran parkir rumah sakit barulah pelukan keduanya terlepas. Dengan tak melepas genggaman tangannya, Will segera berjalan ke pusat informasi dan mencari tempat dimana Oma Feli dirawat.


Keduanya menaiki lift yang membawa mereka ke lantai 3 tempat dimana Oma sedang menjalani perawatan. Namun langkah mereka terhenti didepan lift saat berpapasan dengan kepala pelayanan yang bekerja di kediaman Oma Feli.

__ADS_1


"Tuan muda Williams, syukurlah." Seru lelaki paruh baya tersebut sambil mengusap dadanya penuh syukur.


"Paman, bagaimana keadaan Oma?"


"Beliau sudah lebih baik tuan muda. Oma pasti sangat bahagia melihat kehadiran tuan muda. Sejak sadar kemarin, hanya tuan mudalah yang Oma tanyakan." Lirihnya dengan mata berembun.


"Maafkan Will paman." Will segera bergerak memeluk lelaki paruh baya yang telah Oma anggap adiknya sendiri tersebut erat. Lelaki itulah yang selama ini membantunya menjaga Oma setelah dirinya memutuskan untuk pindah ke Indonesia mengikuti Bram dan meniti karirnya sebagai dokter.


"Ayo ayo, Oma pasti akan sangat senang. Silakan nona."


Edwin dan Oma yang berada di dalam menolehkan wajahnya ketika pintu terbuka. Wajah Oma yang semula nampak lesu perlahan menampilkan senyumnya ketika sosok Williams nampak di ambang pintu.


Namun fokus keduanya langsung tertuju pada pertautan kedua tangan Will dan Alexa. Senyum Oma semakin mengembang.

__ADS_1


"Oma!!" Seru Williams seraya mempercepat langkahnya menuju brangkar dimana wanita tua tersebut telah merentangkan kedua tangannya.


Edwin segera menggeser duduknya guna memberi ruang kepada Williams untuk mendekat. Williams mencium lembut jemari Alexa sebelum melepaskannya secara perlahan hingga membuat wajah Alexa merona merah.


"Anak nakal, kenapa selalu membuat Oma khawatir." Rengek Oma dalam dekapan Williams.


"Maafkan, Will. Oma."


Oma menepuk-nepuk pelan punggung Williams. Hatinya merasa lega kala melihat sang cucu telah berada kembali dalam pelukannya.


"Sayang." Will mengulurkan tangannya meminta Alexa mendekat.


Alexa yang masih terpaku ditempatnya membuat Williams gemas. Dokter tampan tersebut melangkah mendekat dan menggapai jemari gadisnya lembut. Membawanya mendekat ke arah Oma yang tersenyum menatap keduanya.

__ADS_1


"Oma.Kalau Oma ingin marah, marah saja padanya. Karena dia, Will sampai nekat pergi untuk menjemputnya." Williams mengerlingkan matanya.


Sementara Alexa yang tersadar atas ucapan Williams mendelikkan matanya seraya menatap Will horor. Namun laki-laki tampan tersebut hanya tersenyum seolah apa yang dikatakannya tak salah.


__ADS_2