I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 64


__ADS_3

Will mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum mulai mencari dimana kacamatanya berada. Lelaki tersebut berusaha menyesuaikan diri dengan keadaannya, sinar matahari yang sudah terasa menyentuh sebagian tubuhnya melalui cela cela tirai dengan jendela yang sepertinya sudah terbuka membuatnya yakin bahwa hari sudah menjadi siang.


"Kau sudah bangun?" Edwin terlihat memasuki kamar Will dengan secangkir kopi di tangannya.


"Oma mana?" Will mengubah posisinya menjadi duduk di sofa.


Semalam dokter tampan itu terpaksa tidur diatas bed darurat yang memang ada di dalam lemarinya. Oma yang terlihat kelelahan semalam membuatnya tak tega untuk membiarkan wanita baya itu kembali turun ke lantai bawah ke kamar tamu. Pada akhirnya oma tertidur dengan lelap di atas ranjangnya. Sementara Ed, lelaki 1 anak itu telah terlelap lebih dulu diatas sofa.


"Di dapur. Aku diusirnya saat ingin membantu." Aduh Ed seraya menyesap kopinya.


"Kau mau bantu apa mau ngerecokin." Cibir Will sambil menuang air yang berada diatas meja ke dalam gelas dan menegaknya hingga habis.


"Mencicip makanan juga pekerjaan lo. Gimana mau tahu rasanya enak jika tak ada yang nyicip." Elak Ed sambil tersenyum lebar.


"Eh tunggu dulu. Semalam kalian kenapa? Aku dengar suara pintu dibanting dengan keras. Kalian bertengkar?"


Will menggeleng cepat. Dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan kembali menghela nafasnya berat. Tentu saja Will belum bercerita mengenai jantungnya yang terkadang aneh itu pada siapapun termasuk Ed dan juga Bram. Dia tak ingin orang-orang yang menyayanginya menjadi khawatir. Biarlah dia akan berusaha mengobatinya sendiri lebih dulu selagi bisa.

__ADS_1


"Jadi, Alis kangen sama keluarganya? berarti keluarga tuan Alisky belum tahu kalau Alis tinggal disini. wah gawat ini." Celetuk Ed yang membuat Will bingung.


"Alis siapa? tuan Alisky siapa?" Will bertanya dengan tatapan yang menyorot bingung.


"Ha, kamu nggak tahu nama asli Alexa? astaga Will, ku kira kau sudah tahu." Edwin menepuk keningnya ketika melihat Will menggelengkan kepalanya pelan.


"Ku kira itu sudah nama aslinya, pasport nya pun pakai nama itu."


Giliran Edwin yang mengernyitkan dahinya. Dia dan oma tak mungkin salah mengenali orang dan kemarin Alisya sendiri juga tak menampik semua itu.


"Mungkin untuk kepentingannya sebagai model, makanya dia memakai nama itu agar tak dikenali ketika tampil sebagai dirinya yang asli." Ed bermonolog sendiri.


"Tentu, bukan hanya aku. Bahkan oma dan papa juga mengenal mereka."


Ha, jadi..


Edwin menutup mulutnya, dia yang terbiasa bicara apa adanya tak bisa mengontrol dirinya padahal baru tadi pagi oma Feli mengingatkannya agar tak ikut campur masalah Williams dan Alisya. Tapi lihatlah sekarang dia sudah keceplosan terlalu jauhkan.

__ADS_1


Sorot mata Will tak pernah lepas dari Edwin yang sejak beberapa menit lalu berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Edwin menyerah pada akhirnya. Namun lelaki tersebut masih sedikit waras untuk tidak menceritakan masalah perjodohan keduanya yang gagal waktu itu. Dia hanya menceritakan bahwa keluarga mereka sempat bertemu sebanyak 3 kali dan bersama Alisya baru hanya sekali saja.


Will mengangguk mengerti membuat Edwin bernafas lega seraya mengelus dadanya pelan.


"Tapi aneh bukan, ketika dia mengatakan bahwa merindukan keluarganya? bukankah tak ada larangan bagi para pekerja seperti dia untuk menghubungi keluarganya."


"Mungkin ada masalah lain. Karena selama ini Lexa tak pernah mau menyinggung masalah keluarganya bahkan dia tak mau menjawab apapun jika berkenaan dengan itu." Will membenahi letak kacamatanya kemudian membelalak cepat membuat Ed yang menatapnya kaget.


"Ada apa? kau mengagetkan ku saja." Dengusnya kesal.


"Aku ingat, Monica pernah memberitahuku jika Lexa sedang bermasalah dengan keluarganya tapi dia tak tahu masalah apa hanya saja Monica bilang kalau kakaknya sempat datang ke agency mereka untuk bertemu dengan Lexa. Entah bagaimana kelanjutannya karena sampai saat ini Monica belum menghubungiku lagi."


"Siapa lagi Monica?"


"Teman dekat Lexa yang ikut juga menjadi korban saat peragaan Di Bali waktu itu. Hanya saja cideranya ringan dan dia sudah bisa beraktifitas kembali." Edwin menganggukkan kepalanya.


Hening menghuni kamar Williams, kedua lelaki yang berada didalamnya terhanyut pada terkaan yang muncul dibenak mereka masing-masing hingga suara ketukan terdengar diikuti suara Lexa yang memanggil keduanya untuk sarapan.

__ADS_1


"Jangan bahas apapun di depannya dulu, ok. Kita cari tahu terlebih dahulu semuanya." Edwin menganggukkan kepalanya, dirinya juga penasaran dengan kisah tentang Alexa atau Alisya itu.


"Kau turun dulu, aku mau mandi sebentar." Will beranjak menuju kamar mandi sementara Edwin langsung turun menuju ruang makan.


__ADS_2