
Seringkali ikut ke rumah sakit menemani Williams bekerja membuat Alexa akhirnya mengerti dengan apa yang diharapkan ayahnya. Bahkan Alexa pun merasakan kebahagiaan tersendiri kala bisa membantu Williams menangani pasiennya meski hanya hal ringan. Seperti mengambilkan berkas atau membantu menyiapkan alat-alat untuk pemeriksaan bersama dengan Dini.
Gadis melakukannya dengan penuh suka cita. Alexa melakukan semuanya dengan baik. Dia menganggap apa yang dilakukannya kini adalah sebuah ujian praktek untuknya. Apa yang pernah dipelajarinya di kampus tak luput dia coba dan ditanyakan kepada Dini maupun Williams secara langsung.
Will yang sudah mengetahui tentang latar belakang pendidikan Alexa tentu merasakan senang. Meskipun dalam cerita gadis tersebut dirinya terpaksa menjalani pendidikan. Namun hasilnya tak mengecewakan sama sekali.
"Kamu tak berkeinginan untuk melanjutkan studimu?" Will bertanya ketika keduanya sedang menyantap makan siangnya.
"Semua berkas dan kartu mahasiswa ku masih tertinggal di rumah ayah."
"Itu tak masalah, aku bisa mengurusnya jika kamu memang mau melanjutkan studimu."
"Maksud Om? Aku harus pulang dan mengambil semuanya?, Aku belum siap, Om." Alexa menunduk.
Alexa memang belum siap untuk kembali pulang dan bertemu keluarganya. Dia merasa gagal dan malu kepada mereka. Apa yang dilakukannya belum membuahkan hasil seperti apa yang diimpikannya selama ini.
"Tidak harus pulang." Will berujar setelah menenggak air dalam gelasnya.
Williams tak akan memaksa Alexa untuk pulang. Meski lelaki tersebut sudah berjanji pada tuan Alisky maupun Akmal untuk membawa Alexa kembali kepada keluarganya. Namun dirinya juga mengatakan jika semua hal itu tak ingin dilakukannya dengan cara paksa. Will menegaskan jika Alexa ingin pulang maka dia sendiri yang akan mengantarkannya. Beruntungnya, baik Akmal maupun tuan Alisky sendiri dapat mengerti dan menerima itu semua.
__ADS_1
Alis Alexa mengkerut, dia menatap Williams dengan penuh tanya.
"Aku akan mengurus semua jika kamu memang ingin meneruskan pendidikanmu."
"Memang bisa, Om?"
"Tinggal kasih tahu aku, di Fakultas mana kamu menuntut ilmu. Selanjutnya biar aku yang urus semuanya. Yang terpenting kamu mau melanjutkan pendidikanmu atau tidak?"
"Mau om, Alis mau." Ucapnya dengan semangat diimbangi dengan anggukan kepala meyakinkan.
"Tapi nanti om harus ajarin aku ya, ya." Lanjutnya sambil tersenyum.
*
*
*
Kediaman tuan Alisky masih terlihat lengang. Meski semua sudah kembali baik baik saja seiring diketahuinya keberadaan sekaligus keadaan Alisya. Namun karena kesibukan masing-masing anggota keluarganya, membuat rumah tersebut sering terlihat sepi di waktu waktu tertentu.
__ADS_1
Deandra yang biasanya hanya akan tinggal dirumah, menunggu anak dan suaminya kembali kini ikut terjun membantu di restoran yang sudah seminggu lalu suaminya aktif disana. Kesehatan yang semakin membaik membuat tuan Alisky terlihat bersemangat. Moodbooster yang diperlukannya hanya menatap vidio Alisya yang dikirim ke ponselnya oleh Akmal.
Mereka sangat bersyukur karena Alisya berada di tempat yang aman dan bertemu dengan orang baik seperti Williams. Tak banyak lagi yang mereka inginkan selain kebahagiaan Alisya.
Seperti yang pernah Oma Feli sampaikan kala itu. Oma bilang untuk membiarkan saja semua berjalan sesuai dengan takdir dan juga pemikiran mereka sendiri. Tak ada lagi paksaan ataupun perjodohan karena dengan kejadian lalu membuat Oma sadar bahwa semua tak semudah yang dia inginkan. Pemberontakan Alisya membuka mata hatinya.
"Ayah, makan dulu lalu minum obat dan vitaminnya." Deandra datang dengan nampan berisi beberapa piring untuk mereka makan siang.
"Mama nggak capek?" Diulurkan tangannya menyentuh jemari sang istri. 18 tahun wanita cantik itu menemaninya, wanita yang mau menerima dirinya yang kala itu hanyalah seorang duda dengan 3 orang anak.
"Tidak.Justru aku senang ya. Rasanya sangat bahagia dan cemas saat melihat banyaknya tamu sedang masakan yang kita buat belum siap." Ungkapnya dengan antusias.
Dea yang memang hobi masak seolah menemukan kesenangan baru. Beruntung sekali pegawai yang berada disana menerima kehadirannya. Entah karena peran sang suami atau karena mereka memang segan padanya. Yang jelas Dea mampu menempatkan diri dengan baik.
"Syukurlah, asal kamu bahagia ma. Tapi ingat harus istirahat jika capek." Tuan Alisky tentu bahagia melihat senyum yang tersungging dibibir istrinya.
Mereka makan dengan tenang sambil sesekali bercerita tentang apapun itu. Termasuk membahas kedekatan Akmal dengan Monica yang ternyata gadis itu sempat datang diacara wisuda Akmal akhir bulan kemarin.
Kedatangan Monica tentu disambut baik bukan hanya oleh Akmal namun juga oleh seluruh anggota keluarga termasuk Alina yang bergelondot manja meminta wanita dengan mata coklat dan rambut sedikit merah tersebut bercerita tentang pengalamannya bersama Alisya.
__ADS_1