
Williams.
Aku melangkah memasuki rumah setelah memarkirkan mobilku dengan baik dalam garasi. Ku edarkan pandanganku menyapu ruang tengah, tak ada aktifitas apapun yang terjadi.
Kemana dia? Gumamku pelan sambil melanjutkan langkah menuju tangga.
Masih di undakan ke tiga ku hentikan langkahku sejenak. Mendadak aku ingin memakan es krim, benda cair itu rasanya nikmat masuk kedalam kerongkongan ku. Segera ku berbalik dan kembali menurunkan langkah kaki menuju dapur.
Rapih.
Dia membersihkan semuanya rupanya. Aku tersenyum kecil, seingatku tadi pagi sebelum aku pergi dapur masih berantakan. Di buka kulkas dan mengambil apa yang menjadi tujuanku. Es krim dengan cup kecil sudah berada ditanganku. Ketika hendak menutup kulkas ku lihat ada semangkok salad buah sepertinya baru dibuat. Kembali ku tersenyum.
Dengan membawa satu cup es krim aku kembali melangkah menuju lantai atas dimana kamarku berada. Biasanya aku akan bosan ber ada dirumah ini, karena itu aku lebih banyak menghabiskan waktu ku di apartemen jika sedang tak ada hal mendesak dirumah sakit.
Ketika aku melewati pintu kamar Alexa, ku hentikan langkahku sejenak. Timbul keinginan untuk melihat keadaan gadis itu sejenak. Tadi pagi aku tak sempat memperhatikannya lebih jauh karena rasa kesal dan mood ku yang tiba-tiba tak bisa ku kontrol lagi.
Ku tekan knop pintu pelan tak ingin mengganggu istirahat nya. Namun ternyata aku salah, ku lihat tubuh itu sedang bersandar di pojok kasur dengan memeluk kedua lututnya. Wajahnya tenggelam di tenggelamkan diantara kedua pahanya yang menekuk.
__ADS_1
Ku kernyitkan dahi sambil menatapnya tak mengerti. Apa yang dia lakukan?
Tak ingin banyak menebak akhirnya aku melangkah mendekat kearahnya.
"Lexa." Panggil ku pelan namun dia tak mendapat jawaban.
Aku semakin mendekat dan sebelah kakiku terpaksa naik ka atas ranjang karena posisinya yang menempel di pojok didekat dinding.
"Lexa, hei. Kenapa begitu?" Ku goncang kan pelan lengannya dan dia ber reaksi dengan mendongakkan wajahnya.
Wajah sembab dengan kata merah dan helaian rambut yang semburat disana membuatku terkejut. Reflek aku segera menariknya agar lebih dekat denganku. Jantungku berdegup kencang rasanya. Aku takut sesuatu yang buruk telah terjadi padanya disaat aku pergi tadi.
"Om." Serunya namun tak menghentikan isak tangisnya bahkan semakin menjadi dan membuatku semakin panik. Aku hanya terus mendekap nya dan berusaha membuatnya tenang.
Aku bahkan tak tahu dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku bingung, takut, kalut dan sedih dalam waktu bersamaan. Ada apa denganku? benarkah apa yang pernah Bram bilang padaku jika aku telah menyukai gadis yang bersandar didadaku ini?
Rasanya tidak mungkin, pertemuan kami belum lama terjadi dan aku juga tak begitu mengenalnya. Aku hanya ingin membantunya untuk pulih seperti sediakala.
__ADS_1
Sudah setengah jam posisi kami tetap begini, namun kurasakan Lexa sedikit tenang. Nafasnya pun kian teratur dan isakan tangisnya sudah jarang terdengar.
Sedikit ku jauhkan wajah itu dan mencoba menatap matanya. Ku selipkan helaian rambut yang mengganggu pandangan ku. Lalu ku tangkup kedua pipinya sambil mengusap sisa sisa air mata di pipinya yang nampak pucat.
"Katakan padaku apa yang terjadi, hem?" Ucapku selembut mungkin.
Pikiranku sudah dipenuhi hal hal buruk yang hinggap dalam benak semakin membuat dadaku kian sesak.
"Lapar, Om."
Ha, aku ter bengong dengan jawaban nya.
"Kamu belum makan?" Dan gelengan kepalanya membuatku menghela nafas panjang.
"Kenapa tidak makan? kalau sakit siapa yang repot kan?" Omelku menyentil hidungnya. Lexa hanya nyengir dan reaksinya itu membuatku lebih tenang. Setidaknya pikiran buruk yang menghantui ku tadi tidak pernah terjadi.
Mengingat kata makan tiba-tiba aku teringat dengan es krim cup yang ku bawa tadi. Ku edarkan pandanganku kesegala arah hingga ku dapati benda itu tergelatak dilantai tak jauh dari ranjang.
__ADS_1
"huuft, cairkan?" Ucapku diplomatis.