
"Kenapa kakak menghindariku?" Cindi menatap Akshan yang duduk di depannya.
Lelaki tersebut tertunduk bahkan terlihat beberapa mengalihkan pandangan. Jelas saja Cindi merasakan bahwa Akshan menghindarinya. Sejak tadi diruang tengah hingga kini keduanya berada di teras samping, lelaki itu tak pernah menatapnya.
"Aku tidak..."
"Tidak apa? kakak bahkan tak pernah mengangkat telfon ku ataupun membalas pesanku. Kenapa kak? apa Cindi ada salah sama kakak?"
"Tidak, bukan begitu."
"Lalu? apa alasan kakak menjauh?"
Akshan terdiam, dia tak tahu harus menjawab bagaimana. Tak mungkin baginya untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa dirinya takut perasannya pada gadis tersebut semakin mendalam. Dia tak ingin kecewa terlebih lagi Cindi adalah teman baik Alisya. Apa kata sang adik nanti jika mengetahui hal ini.
Ponselnya berdering dan itu menyelamatkan Akshan disituasi tersulitnya. Segera di gesernya ikon dengan warna hijau setelah melihat nama yang tertera di layar.
"Ya, hallo Bel."
Cindi menatap lekat lelaki di hadapannya itu. Begitu mudahnya dia mengangkat panggilan dari orang lain sementara dirinya sampai mati matian menghubunginya namun tak pernah dijawabnya. Dan siapa tadi, Bel? Bella?
__ADS_1
Cindi tersenyum tipis, dirinya sudah tahu jawabannya dan tak perlu lagi dijelaskan. Lelaki yang telah mencuri hatinya itu telah menemukan wanita lain yang lebih baik darinya.
Cindi menelan ludahnya pelan. Berusaha menahan sakit didadanya dan sekuat tenaga mencegah air matanya untuk menetes. Dia harus kuat.
"Ah maaf Cin, aku harus pergi!!"
"Iya kak, aku tahu. Kakak jangan khawatir karena setelah ini, aku tak akan lagi mengganggu kakak. Terimakasih untuk semuanya kak. Semoga kakak selalu bahagia!! Cindi pamit kak." Cindi berdiri dan berbalik.
Dengan langkah cepat gadis itu meninggalkan teras samping. Tak ada yang dipertahankan semuanya sudah berakhir. Senyum ceria saat dirinya baru datang kerumah tersebut pudar sudah. Cindi mengusap air matanya dan mencoba tersenyum ketika melihat Tuan Alisky dan Deandra sedang ngobrol di ruang tengah.
"Om, tante. Cindi pamit!!" Gadis itu mendekat dan meraih tangan keduanya.
"Sudah, tan. Semuanya sudah selesai. Cindi pamit Om, tante." Ulangnya lagi dan mulai melangkah meninggalkan ruang tengah.
Deandra masih menatap punggung Cindi yang perlahan menghilang di balik pintu dan mengalihkan pandangannya pada sang putra yang baru saja masuk.
"Kalian bertengkar?"
Akshan yang tak mengerti dengan apa yang mamanya katakan hanya diam tanpa menjawab.
__ADS_1
"Kenapa ma?" Tuan Alisky bertanya dengan menatap istri dan anaknya bergantian.
"Entah ayah, tapi aku melihat matanya merah dan sepertinya habis menagis. Kak, jawab mama."
"Aku nggak ngerti ma."
"Kenapa?" Alina yang baru saja turun dari kamarnya tiba-tiba datang dan memeluk sang ayah dengan manja. Menatap bergantian ketiga orang yang berada disekitarnya dengan tatapan penuh tanya.
"Eh, kak Cindi mana?" Tanyanya lagi yang celingukan mencari keberadaan Cindi.
"Sudah pulang."
"Lo, sudah tadi ya. Padahal tadi Alin mau ikut pas kakak Aks mengantarkan kak Cindi pulang, Alin pengen mampir ke kios es cream yang ada di pertigaan itu. Rasanya enak."
"Astaga, mama lupa. Bukankah Cindi nggak bawa mobil?" Deandra memekik pelan.
"Lo, bukannya kak Cindi diantar pulang sama kak Akshan?"
"Tidak.Buktinya kakak masih disini."
__ADS_1
"Dengan cepat Deandra meraih ponselnya dan menghubungi nomer Cindi. Namun beberapa saat mereka saling menatap dan bergerak kearah suara ponsel yang berada di sofa tak jauh dari tempat mereka. Ponsel Cindi ternyata berada disana.