I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 51


__ADS_3

"Aku masih berada di Canada. Aku akan segera menghubungimu setelah urusanku selesai, aku janji." Monica mengakhiri percakapannya dengan Akmal.


Dia yang kala itu tak sengaja menemukan kertas bertuliskan nama Akmal dan terdapat keterangan sebagai kakak Alexa atau Alisya di lantai dekat tempat sampah di ruang pimpinan agency mencoba menghubungi Akmal.


Alexa sempat bercerita tentang keluarganya pada gadis yang telah dianggapnya kakak tersebut. Dalam ceritanya Alexa sempat beberapa kali menyebutkan nama sang kakak yang salah satunya adalah nama Akmal. Berbekal dari ingatannya Monica kembali ingin membantu Alexa untuk kembali bersatu dengan keluarganya.


Namun belum sempat dirinya menceritakan banyak hal tentang Alexa sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya kala itu dan mengharuskan dirinya segera bersiap untuk pergi mengikuti suatu acara yang melibatkan agency dimana dirinya bekerja.


Baik Akmal maupun Akshan harus menekan rasa tak sabarnya karena memang mereka tak punya pilihan lain. Monica adalah satu harapan mereka yang masih ada. Gadis itu datang bagai angin segar yang memberi udara pada diri mereka untuk kembali bersemangat. Rasa putus asa yang sempat datang karena tak adanya jalan keluar dan juga semakin kacaunya usaha keluarga mereka yang berdampak pada ekonomi keluarga Smith yang goyah.


"Bersabarlah, kita hanya bisa menunggu sampai Monica kembali menghubungi. Kita tak bisa memaksanya karena tentu dirinya juga sedang ada kesibukan tersendiri." Akshan menepuk pundak sang adik guna menenangkan pemuda itu.

__ADS_1


*


*


*


Rumah pribadi Williams yang biasanya sepi nampak berbeda kali ini. Suara gelak tawa terdengar dari ruang tengah disertai celotehan Camelia yang selalu menggemaskan.


Balita cantik tersebut datang bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Lena. Tiara yang saat itu sedang mengandung anak ke duanya tentu tak diijinkan untuk melakukan sesuatu yang akan membuatnya lelah.


Bram berdehem keras guna mengganggu sang sahabat. Williams melayangkan lirikan tajamnya yang hanya ditanggapi dengan cengiran Bram. Kedua sahabat tersebut tak pernah berubah meski umur mereka tak lagi muda.

__ADS_1


"Jadi ke Paris?"


"Lusa, nanti malam masih harus mengecek kembali kondisi kaki dan juga bahunya."


"Ada kemungkinan untuk kembali normal?"


"Untuk bahunya hanya tinggal pemulihan dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, dia tak lagi bisa melakukan aktifitas berat setelah ini. Kalau kakinya butuh beberapa kali cek tulang. Pergelangan kakinya mengalami pergeseran yang lumayan parah waktu itu. Makanya hingga sekarang dia tak bisa memaksakan dirinya untuk bergerak terutama berjalan sedikit lebih lama karena itu akan menimbulkan rasa sakit." Will berujar seraya kembali melihat ke arah Alexa yang sedang berbincang dengan Lena dan juga Tiara.


"Itu alasan kenapa kau membawa dan memintanya untuk tinggal disini bersamamu?"


"Ya, itu perlu ku lakukan untuk mempercepat proses penyembuhannya. Dengan dia berada disini paling tidak aku bisa memantau perkembangannya sampai sejauh mana. Jika dia tetap berada di panti. Dia tak akan mengindahkan larangan, kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia. Dia akan tetap melakukan pekerjaan meski sudah kau larang."

__ADS_1


"I see, aku bisa melihat karakternya bagaimana. Dia termasuk gadis yang pekerja keras meski masih muda. Jika melihatnya aku mengingat Nara saat pertama kali dia ikut bersama kita. Sifat keras mereka berdua sepertinya juga sama. Kau harus lebih sabar lagi menghadapinya kelak." Bram tergelak.


Namun timbul rasa bahagia dalam hatinya melihat sang sahabat bisa meng expresikan rasa dan perhatiannya kepada lawan jenis. Nampak manis dan berbeda dengan Williams yang biasanya selalu tertutup.


__ADS_2