I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 139


__ADS_3

Will benar-benar pulang setelah sepuluh menit percakapannya dengan suster Dini. Dokter tampan tersebut melajukan mobilnya dengan rasa bahagia yang membuncah. Tak pernah dia sebahagia ini kala melakukan perjalanan pulang baik ke kediamannya maupun ke apartemen.


Lima puluh meter lagi dirinya sampai Will membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket. Dirinya sangat mengingat jika di apartemen miliknya tak ada persediaan makanan maupun camilan. Hanya ada roti dan susu yang biasa dia makan ketika sarapan setiap harinya. Hidup seorang diri membuatnya memilih sesuatu yang praktis meskipun sebenarnya dirinya bisa memasak sendiri.


Namun sejak memilih tinggal di apartemen, Will mempunyai kebiasaan yang sedikit berubah. Jika biasanya dirinya akan memasak jika tinggal di kediamannya. Maka di apartemen Will hanya akan menumpang tidur saja. Jarak yang tak begitu jauh dari rumah sakit membuat dokter tampan tersebut sering pulang hingga larut malam dan datang cepat. Suster Dini hanya seminggu sekali datang membersihkan apartemen dan juga kediaman Williams. Wanita beranak 1 tersebut dipercaya oleh Will mengurus kedua tempat tinggalnya.


Kedekatan mereka berdua yang sudah terjalin lama menjadi salah satu rasa percaya yang Will miliki pada suster Dini. Ditambah lagi dengan sang suami yang merupakan salah satu pengawal yang bekerja di kediaman Bram menjadikan mereka semakin dekat layaknya keluarga.


Dua buah kantong berada di lengan Will kala keluar dari supermarket. Senyumnya kembali mengembang membayangkan wajah Alisya yang cemberut. Tak sabar, segera Williams melajukan kembali mobilnya.


Sementara di apartemen, Alisya yang sedang berkeliling pada akhirnya kembali ke ruang santai. Perutnya memang telah terisi penuh satu jam yang lalu. Namun bibirnya mengerucut kala menyadari jika mulutnya tak pernah bisa diam. Ada saja yang ingin dia makan, seperti saat ini. Tiba-tiba dia ingin memakan bakso yang dulu sempat menjadi makanan favoritnya saat masih tinggal di negara ini.


"Kalau aku keluar bagaimana nanti masuknya? aku kan tidak mengetahui kodenya." Alisya mengacak rambutnya kesal sendiri.

__ADS_1


Ingin menghubungi Williams dirinya takut mengganggu mengingat pesan lelaki tersebut jika dirinya sedang terlibat sebuah oprasi. Tentu saja Alisya sangat paham akan hal itu. Will tak akan pernah bisa diganggu disaat demikian.


Alisya sedikit kaget ketika menyadari Williams telah berdiri di dapur. Nafas lelaki tersebut memburu dengan dada yang naik turun mengikuti tarikan nafasnya yang tak beraturan.


"Om, sudah pulang?" Gadis itu menyambut dengan sumringah. Namun hanya sebentar saja karena detik berikutnya dirinya terkesiap dengan tarikan Williams yang merengkuhnya dengan erat.


"Om, ada apa?" Lirihnya.


Perasaan Alisya melayang ke pesan yang sempat Williams tinggalkan tadi. Dengan perlahan dibalasnya pelukan Will seraya mencoba menenangkan. Dalam pikiran Alisya, Will tengah terpuruk karena oprasi yang dilakukannya gagal.


Nafas Williams berubah memburu kala menyadari Alisya tak lagi ada didalam kamar. Bahkan kamar mandi pun menjadi sasaran Williams namun sosok itu tak ada disanaa.


Dengan cepat Will kembali dan melangkahkan kakinya ke dapur, berharap Alisya nya berada ditempat yang menjadi favorit gadis itu. Namun lagi lagi Will tak mendapati keberadaan Alisya. Dengan pikiran kalut Will menjatuhkan dirinya ke lantai.

__ADS_1


Hingga suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dengan gerutuan kecil yang entah Will tak lagi peduli.


Lelaki dewasa yang mempunyai daya pengendali diri yang kuat seperti Williams pada akhirnya kala juga. Tak lagi berpikir jernih Will menyatukan bibir mereka berdua.


Alisya yang kaget tak bisa lagi menghindar, apalagi dekapan Will terasa semakin erat. Will melepaskan ci umannya ketika Alisya menepuk-nepuk dadanya lebih keras. Gadis itu terengah namun Will tak melepas dekapannya.


Muka Alisya memerah, mereka memang beberapa kali saling menci um. Namun itu hanya sebatas pipi dan dahi. Menyadari hal itu, Williams kembali memeluk Alisya erat seraya mengucapkan kata maaf. Alisya yang masih belum mampu menguasai dirinya hanya mengangguk kecil di dada Williams.


*


*


*

__ADS_1


"Benarkah ini Om Will? aku tak sedang bermimpi kan? Oh my Good, dia menciumku." Pekiknya dalam hati dengan pipi yang semakin meerona.


__ADS_2