
Waktu menunjukkan pukul 11 malam namun Alexa belum bisa memejamkan matanya. Cerita dan kata kata Will tadi sangat membekas dalam benaknya. Selama ini keegoisan memenuhi hatinya dan dirinya berpikir semua yang ayahnya lakukan hanya untuk kesenangan ayahnya pribadi tanpa memikirkan hatinya.
Tapi semua perkataan yang terlontar dari bibir Williams seolah membawanya untuk kembali berpikir ulang tentang keputusannya.
Cerita Williams kurang lebih sama dengan apa yang telah menimpa ayahnya dan merenggut nyawa sang ibu. Perubahan sikap ayahnya jelas jelas terjadi setelah sangat istri meninggal hingga lelaki tersebut mempunyai obsesi dengan menginginkan setiap anggota keluarganya menjadi dokter. Sejauh ini dirinya dan sang abang Akmal yang telah terjun ke dunia kedokteran meski mereka masih dalam tahap belajar saat ini.
"Apa pemikiranku selama ini yang salah?" Gumamnya pelan seraya menenggelamkan wajahnya di balik selimut.
Mencoba tidur meski belum bisa. Hingga akhirnya lelah datang dan kesadarannya semakin menipis masuk kedalam mimpi.
__ADS_1
*
*
Williams yang berada dikamar sebelah juga mengalami hal yang sama. Dirinya merasa sangat bersalah dan menyesali ceritanya kepada Alexa. Seandainya dirinya tahu reaksi gadis tersebut setelah mendengar ceritanya mungkin Will akan memilih diam. Namun apa yang Bram katakan padanya juga adalah benar dan itu demi kebaikannya.
Hingga jam menunjuk pukul 2 pagi dirinya masih terjaga. Memikirkan dan menimang semua cerita dan menjadikan sebuah rangkaian hingga sebuah alasan muncul dalam benaknya. Jika Alexa mengalami sebuah trauma dalam keluarganya hingga memilih kabur, sesuai dengan cerita yang didengarnya dari Monica.
Dia sangat yakin jika Alexa kini sedang bersedih terlihat dari caranya tadi terdiam setelah mendengarkan Will bercerita. Gadis itu nampak menghela nafas berkali-kali guna menetralisir perasaannya. Bahkan Will sempat melihat lelehan air mata yang dihapus cepat oleh gadis cantik tersebut.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃
Pagi itu suter Dini datang atas perintah Williams. Dia yang memilih untuk tak datang ke rumah sakit meminta suster Dini mengambil beberapa berkas yang harus dia serahkan kepada para dokter yang berada di bawah naungannya dalam rumah sakit.
Sebagai pimpinan rumah sakit tentu tanggungjawab Williams sangat besar. Bukan hanya kepada Bram yang notabenya sebagai pemilik rumah sakit namun lebih ke tanggungjawab nya sebagai dokter. Dia yang akan melakukan perjalanan kembali tentu saja harus menyerahkan beberapa urusan yang belum sempat diselesaikannya kepada mereka yang merupakan wakilnya kala berhalangan.
Suster Dini yang langsung masuk kedalam rumah . Dini yang memegang 1 kunci cadangan rumah tersebut dengan leluasa masuk karena sudah terbiasa membersihkannya paling tidak tiga hari sekali. Dia yang biasa datang dengan putranya hari ini hanya datang sendiri. 3 hari lalu dirinya telah datang karena Williams memintanya mengisi kulkas untuk stok satu minggu. Kesempatan tersebut digunakannya sambil bersih bersih sehingga hari ini jadwalnya hanya datang mengambil berkas dan mungkin hanya mengerjakan hal ringan seperti menyapu atau mengepel.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok gadis yang sedang berdiri didepan kompor sambil menggoreng telur. Alexa yang sedang menaruh telur yang sudah masak pun terlonjak kaget melihat Dini yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Jantung Alexa terasa berhenti berdetak. Keringat dingin tiba-tiba muncul di sekujur tubuhnya. Dia takut, benar-benar takut kali ini. Alexa menundukkan wajahnya tak berani menatap Dini. Dalam benaknya Dini adalah kekasih Williams yang datang untuk mencari lelaki tersebut. Atau paling parah wanita yang berdiri sambil menatapnya itu adalah istri dari Williams.