I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 161


__ADS_3

Suasana di kediaman keluarga Smith mendadak ramai. Kehadiran 3 orang balita menggemaskan itu sungguh membuat suasana semakin hangat. Tingkah lucu princess dan prince menular pada putra Edwin yang sejak awal hanya diam menyimak.


Kini ke tiganya membuat gaduh dengan banyaknya pertanyaan yang mengundang gelak tawa semua orang yang hadir disana.


Cindi yang pada awal nya terlihat murung kini kembali ceria dengan tawa yang selalu menghias bibirnya, membuat Akshan bisa bernafas legah melihatnya. Lelaki tersebut sudah kehabisan akal untuk membujuk sang istri. Namun kelurahan princess Cameli ternyata bisa membuatnya tertawa lepas hingga buliran air mata merembes dari ujung matanya karena tertawa.


"Tuhan, aku tahu semua yang terjadi adalah di bawa kuasaMu. Jika boleh aku mohon, tetapkanlah senyum itu mereka di bibir istriku. Aku sungguh tak sanggup melihatnya menangis seperti sebelumnya." Lirihnya dalam hati dengan tatapan yang tak lepas dari sang istri yang kini sedang menggendong putra Edwin sambil bercengkrama dengan bocah kalem tersebut.


Sementara di sudut lain nampak tengah terjadi pembicaraan serius antara Oma Feli, Om Fer dan juga tuan Alisky dan Deandra. Will dan Alisya yang juga berada disana hanya menyimak karena mereka menyerahkan segala keputusan pada orang tua mereka berdua.


Beberapa kali Will menarik nafas panjang guna mengurangi rasa gugup yang dirasakannya kini. Sama halnya yang terjadi pada Alisya, beberapa gadis cantik tersebut mengusap peluh di dahinya. Kedua telapak tangannya pun terasa dingin dengan buliran keringat disana.

__ADS_1


"Semua akan baik baik saja, percayalah." Will berusaha menenangkan meski dirinya sendiri juga tak yakin bisa tenang.


Pembicaraan berubah jadi tak seserius tadi kala mereka telah mencapai kesepakatan. Pernikahan akan di laksanakan segera dalam waktu dekat. Untuk sementara baik Will maupun Alisya diminta untuk tinggal di Belanda guna mengurus semuanya. Mau tak mau, mereka harus melaksanakan pernikahan di dua negara dan pastinya semua akan membutuhkan banyak waktu untuk mengurusnya.


Bram hanya tersenyum tipis, bahagia juga dirasakan bapak 2 anak tersebut. Menjadi salah seorang saksi bagaimana kehidupan seorang Williams membuatnya Bram ikut bersyukur dengan apa yang akan dijalani oleh sahabatnya tersebut.


Hidup Williams yang sangat tragis semenjak kepergian kedua orang tuanya, terpaksa harus menjalani kehidupan yang penuh dengan tekanan. Tak banyak yang tahu bagaimana sosok dokter tampan dengan segudang prestasi yang diraihnya mengatasi segala macam trauma dalam hidupnya selama ini.


*


*

__ADS_1


*


"Bagaimana perasaanmu?"


"Nervous, tentu saja. Tapi aku merasa legah sekarang, setidaknya semua sudah menemukan titik terang." Will berujar pelan dengan binar dimatanya.


Keduanya sedang berada di balkon kini. Sedangkan Akshan tengah keluar beberapa menit yang lalu. Para wanita sedang asyik memasak untuk persiapan makan malam bagi semuanya. Sedang para sesepuh nampak tertawa bahagia melihat tingkah para balita yang tak kenal lelah itu.


"Acara minggu depan, aku sangat berharap kamu menemaniku saat itu."


"Tentu. Aku rasa, aku juga perlu memiliki sebuah rumah di negara ini." Bram mengerling membuat gelak diantara keduanya.

__ADS_1


Persahabatan yang pada awalnya biasa saja berubah menjadi rasa persaudaraan yang melekat kuat diantara keduanya. Tak ada perbedaan yang bisa membuat hubungan mereka merenggang. Tanpa ikatan darah namun rasa saling menyayangi dan memiliki terikat kuat dihati masing-masing.


__ADS_2