
Cinta akan hadir tanpa kita sadari. Rasa aman, nyaman akan menjadi pertanda datangnya rasa kasih. Dia tak akan bisa dipaksa ataupun memaksa. Cinta akan berlabuh pada tempat yang dikehendakinya tanpa bisa ditawar lagi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Kebahagian dua sejoli yang telah sah dalam ikatan pernikahan itu tak hanya mampu membuat senyuman bahagia terukir di bibir keduanya. Nyatanya rasa bahagia tersebut dirasakan oleh banyak orang yang menjadi saksi bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya bisa bersatu.
Bagi seseorang yang tak mengenal dekat sosok Williams mungkin akan merasa biasa saja. Namun bagi Oma Feli dan Bram yang jelas jelas paham bagaimana dokter tampan tersebut berusaha keras keluar dari trauma masa kecilnya dan berusaha untuk bangkit dari rasa kesendirian nya tentu merasakan kebahagiaan yang tak terkira.
Sosok Williams yang hanya menghadirkan senyum kala seragam dinas dengan jubah kebesarannya melekat di badan saja akan berubah menjadi sosok dingin dan cuek di luaran sana.
Sosok Alisya Smith mampu membuat sosok itu menampilkan senyum bahkan tawanya yang seolah tampa beban keluar dengan rona wajah yang semakin terlihat matang. Sosok gadis kecil yang mampu menggetarkan hati seorang Williams dengan cintanya.
Bram menatap lekat sahabatnya, pria itu yang menemani harinya. Bram remaja yang harus terpuruk karena meninggalnya sang papa berhasil bangkit dengan dukungan dari Williams. Di saat itulah Bram sadar bahwa dirinya masih lebih beruntung dibandingkan dengan Will yang harus hidup sebatang kara dan bahkan menjalani hari dengan kasih sayang dari keluarga lain.
__ADS_1
Bram masih ingat betul pesan mendiang sang papa. Sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhir. Mendiang dokter ahli jantung itu mengatakan jika Will adalah pemuda yang baik dan penuh tanggungjawab, karenanya dia percayakan rumah sakit miliknya untuk di pegang oleh Will.
Sekarang, melihat senyum dan tawa menghiasi wajah Will membuat Bram merasa telah mewujudkan impian mendiang papanya yang memintanya untuk saling menjaga.
"Mas." Tiara mendekat, membuat Bram mengalihkan tatapannya sejenak dari sang sahabat.
"Ada apa?"
"Tidak. Kemarilah sayang!!" Tangannya terulur meminta sang istri untuk mendekat.
"Mas kenapa?"
"Aku bahagia sayang. Melihat senyum Will yang begitu membuatku bahagia. Dia adalah orang pertama yang selalu mendukungku dalam hal apapun itu. Tak pernah Will membuatku merasa sepi. Kehadirannya dalam hari hariku membuatku bisa merasakan bagaimana memiliki seorang kakak. Will selalu bisa membuat aku tenang."
__ADS_1
Tiara mengangguk dalam dekapan sang suami. Dia pun merasakan bagaimana seorang Williams berperan penting dalam hubungan mereka.
Bahkan mereka harus rela berbagi kasih kedua buah hati mereka. Seperti saat ini, kedua bocah menggemaskan itu sedang berada di atas pelaminan. Tersenyum dengan bahagia dan ikut menyalami para tamu yang datang.
Kedua bocah itu seolah memiliki banyak tenaga. Sedangkan putra Edwin telah terlelap beberapa menit yang lalu. Suatu kemajuan bagi balita tersebut yang mampu beradaptasi dengan keramaian yang selama ini seolah membuatnya takut.
Tak jauh dari sana, nampak keluarga asli Williams dari mendiang ayah dan ibunya berada dalam satu meja. Mereka datang atas permintaan Williams sendiri. Tak ada benci dalam hati lelaki itu pada keluarganya. Meski dulu, tak ada satupun yang menganggap dirinya ada.
*
*
*
__ADS_1
"***Bahagia itu sederhana. Hanya perlu menyiapkan hati dan mampu menerima segala ketetapan yang memang telah menjadi suratan takdir. Tak akan ada yang bisa menyangka apa yang terjadi esok hari. Jalani hari ini semaksimal mungkin, karena waktu yang telah beralalu tak akan pernah bisa kembali lagi."
TAMAT***