I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 142


__ADS_3

Senyum Alexa mengembang kala bangunan luas dengan banyaknya tanaman pohon dan bunga yang mengelilinginya sudah nampak di depan matanya. Bangunan yang juga menorehkan kisah nya dengan Williams. Bangunan tempat keduanya pertama kali berinteraksi secara instens sebelum Williams membawa Alexa untuk tinggal di kediamannya.


"Kenapa tersenyum begitu?"


"Alis bahagia, Om. Disini, Alis bisa merasakan bagaimana hidup bersama dengan banyak orang tanpa saling mengganggu. Oma dan opa yang tinggal disini rata-rata orang baik dan Alis suka."


"Kamu benar, aku juga merasakan demikian sehingga merasa kedamaian yang tiada tara dalam hati ini."


Will menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk panti membuat Alisya mengerutkan dahinya.


"Di dalam ada Clara, dan aku datang kesini untuk mengurus wanita itu. Kamu tidak apa apa?" Will mengubah duduknya dan menghadap kearah Alisya.


"Tak apa. Kan memang semuanya harus diluruskan Om. Agar tak lagi ada kesalahpahaman dikemudian hari nanti." Alisya tersenyum manis meski jujur dalam hatinya saat ini sangat campur aduk rasanya.


Tak dapat dipungkiri jika cemburu itu ada. Bagaimanapun, Will dan Clara pernah dekat apapun alasannya. Namun Alisya ingin menyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta dan kepercayaan nya pada Will akan tetap kuat.


"Baiklah.Aku hanya tak ingin kamu sakit sayang. Semua sudah berakhir dan aku hanya milikmu sekarang." Will menggenggam jemari Alisya erat. Memberi kekuatan dan kepercayaan pada gadis itu tentang kesungguhannya.


Mobil kembali melaju ketika keduanya telah selesai berbicara.


Sementara itu Clara yang pada waktu itu sedang berada di taman menatap dengan sumringah mobil Williams yang masuk ke dalam panti. Dengan berjalan sedikit tergesah dirinya menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan Williams.

__ADS_1


Menjadi orang terdekat Williams adalah keinginannya saat ini. Bagaimanapun caranya dia harus bisa mendapatkan kembali rasa simpati dari dokter yang semakin terlihat tampan tersebut.


Dengan menggunakan kehamilannya, Clara yakin pada akhirnya Williams akan luruh karena iba pada nasib anak yang dikandungnya. Dia yakin, Will akan menerimanya atas nama anak itu. Dengan senyum yang semakin mengembang Clara melangkah pasti.


Will yang baru saja memarkirkan mobilnya sedikit tersentak ketika menyadari sebuah tangan memeluk pinggangnya. Dengan cepat Will melepaskan pelukan tersebut dan mengernyitkan dahi menatap Clara yang tersenyum manis di hadapannya.


"Sedang apa kamu disini?" Ketusnya


Bukannya takut namun Clara semakin mendekat seolah ingin mengikis jarak diantara mereka berdua. Namun kode tangan Will menghentikan langkahnya.


"Aku kangen sama kamu, ih. Masa gitu aja kamu nggak peka!!" Bibir Clara mengerucut dan sedikit merajuk berharap Will akan luluh kali ini.


"Jangan bicara sembarangan. Aku sedang tak ingin main main. Sebaiknya kamu masuk!!"


"Jangan terlalu berharap Clara, karena aku tak akan bisa mewujudkan harapanmu itu. Masuklah!!"


"Aku maunya masuk bersama kamu, Will." Rajuknya membuat jengah.


Will meraup wajahnya kasar, berharap Alisya segera datang dan membawanya keluar dari situasi yang memuakkan ini. Dia yang memang tak bisa bersikap kasar kepada perempuan membuat Williams merasa serba salah. Disisi lain dirinya takut Alisya akan kembali salah paham padanya.


"Dokter."

__ADS_1


Williams menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Dia sedikit bernafas legah ketika Doni datang menghampirinya. Meski begitu, Clara masih bertahan ditempatnya tanpa tahu malu. Wanita itu ingin memperlihatkan kedekatannya dengan Williams di hadapan para penghuni panti agar mereka tak lagi membantah kata katanya.


"Don, apa kabar kamu? bagaimana acara kemarin, sukses?"


"Semua lancar, dok. Terimakasih atas dukungan dokter."


"Maaf ya, aku nggak bisa hadir di pernikahan kalian waktu itu." Will memang tak bisa menghadiri pernikahan Doni dan Sita beberapa waktu lalu. Bahkan dirinya juga melewatkan acara pernikahan Mark dan Nara yang berlangsung kemarin bertepatan dengan kepergiannya ke Rusia untuk mencari Alisya.


"Dengan dokter mendoakan kami itu sudah cukup, dok."


Doni melirik ke arah Clara yang masih berdiri disana. Semakin dekat dirinya semakin mengingat wanita itu. Dia wanita yang yang sama dimana Williams pernah menyuruhnya untuk menyelidikinya waktu itu. Tapi kenapa wanita tersebut bisa berada disini? seingatnya waktu itu, dia tinggal bersama seorang lelaki yang diduga sebagai kekasih atau bahkan suaminya.


Sementara Will beberapa kali melirik ke arah samping dimana toilet berada. Tadi, sebelum mobil benar-benar berhenti Alisya telah keluar lebih dulu karena tak lagi mampu menahan ingin buang air kecil. Gadis itu bergegas turun membuat Will menggelengkan kepalanya.


Namun lagi lagi Will bernafas legah ketika bayangan Alisya terlihat dihadapannya. Gadis itu tersenyum lembut dan melangkah mendekat. Tanpa ada yang menyadari bahwa sebenarnya Alisya telah berada disana beberapa menit yang lalu. Tepatnya ketika Clara memeluk tubuh Williams dari belakang ketika lelaki tersebut menutup pintu mobilnya.


*


*


*

__ADS_1


"Aku sudah kembali!! dan jangan harap untuk kali ini kau bisa mengambilnya lagi dariku." Senyum tipis terukir di bibir manisnya. Alisya melangkah dengan pasti.


__ADS_2