
Sebuah pagelaran rutin yang diadakan perusahaan Bram digelar. Kini giliran fashion show untuk mengenalkan produk produk terbaru hasil karya prusahaan peninggalan sang mama. Bram tak berniat sekalipun untuk merubah logo atau apapun itu. Semua masih sama seperti dulu saat sang mama masih ada.
Rencananya, perusahaan tersebut akan dia berikan kepada sang istri. Namun siapa sangka Tiara malah memilih untuk membuat toko roti dan kue sebagai kegiatannya.
Tak ada pilihan lain hingga Bram menunjuk Suta sang asisten untuk menjalankan bisnis tersebut. Bram yang sejak remaja sudah senang dengan dunia lukis tak ingin meninggalkan dunia yang telah digelutinya lama. Namun demikian dirinya tetap berusaha menyeimbangkan segalanya.
Semua keputusan tertinggi masih ada ditangannya, termasuk juga rumah sakit yang Williams pegang. Baik Williams maupun Suta hanya mau menempatkan diri mereka sebagai wakil pelaksana bukan pemiliknya. Dan Bram sangat bersyukur dengan adanya mereka disisinya.
"Suta sudah terbang sehari sebelumnya bersama Wina. Kemungkinan besar dirinya akan sedikit lama disana. Jadi aku sangat berharap dirimu bisa meng-handle acara di Bali dengan baik Will." Keduanya berada di kantor Bram di perusahaan Ayodya company.
__ADS_1
"Heem, hanya pagelaran kan? tidak ada acara tambahan?"
"Sepertinya tidak, hanya pagelaran saja. Kau tenang saja, aku sudah meminta dokter Roy, dokter Fadli dan juga Dokter Irma untuk meng-handle rumah sakit sementara dirimu pergi." Bram seolah mengerti apa yang sahabatnya tersebut pikirkan.
Williams menganggukkan kepalanya. Dia tak pernah meragukan segala pengaturan yang Bram buat.
"Baiklah, sebelum pergi sepertinya aku harus bertemu dengan kekasih kecilku. Kalau tak pamit padanya bisa bahaya nanti." Williams tergelak dengan kata katanya sendiri.
Williams menganggukkan kepalanya sekali lagi. Wajib berpamitan jika akan melakukan perjalanan jauh atau yang memungkinkan dirinya harus menginap di suatu tempat. Williams adalah salah seorang yang paling dekat dengan Camelia selain Sita, Lena dan Nara. Pernah sewaktu-waktu Williams terpaksa pergi dan dirinya tidak sempat berpamitan pada sang princess, membuat Camelia menangis hingga mata mungilnya membengkak. Dan hal itu membuat hati Will nyeri.
__ADS_1
Malam menjelang ketika Williams tiba di rumahnya. Dokter tampan tersebut segera masuk ke dalam guna menemui Albert dan nyonya Carlotta. Keduanya sementara tinggal disana sambil menunggu Panti selesai di bangun. Albert lah yang akan bertanggungjawab dengan oprasional panti tersebut nantinya.
Albert menyanggupi semuanya, apalagi dukungan sang mama jelas terlihat dari sorot matanya.
Will melangkah dengan dua buah paper bag ditangannya. Senyum tersungging di bibir dokter tampan tersebut. Rumah ini sangat jarang ditinggali karena Williams lebih suka tinggal di apartemen nya. Selain lebih dekat dengan rumah sakit, dirinya juga terbiasa untuk melakukan semuanya sendiri.
"Kau sudah pulang?" Albert menyambutnya dengan tepukan dipundak sahabat kecilnya tersebut.
"Besok siang aku berangkat. Untuk 3 hari ke depan aku ada urusan di Bali. Untuk sementara kamu bisa mengajak tante jalan jalan. Pergilah ke toko roti Tiara yang ada disebrang taman. Disana kamu bisa bertemu dengan beberapa temanku. Aku sudah bicara pada mereka."
__ADS_1
"Aku masih asing disini." Albert menunduk.
Berada di tempat lain bahkan berada jauh dari negaranya membuat Albert tak tahu harus bersikap bagaimana. Beruntung nya Williams selalu ada semenjak dirinya pertama kali menginjakkan kakinya di sini. Namun melihat sang mama yang nampak bahagia, membuat Albert optimis akan kesembuhan sang mama.