I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 20


__ADS_3

Hingga jam menunjukkan pukul 6 petang Alisya belum menampakkan dirinya. Bahkan sopir yang bertugas menjemputnya pun tak bisa berbuat banyak selain menunggu sesuai perintah majikannya.


Akshan bahkan telah menyusul ke kampus Alisya bersama dengan Akmal. Sementara tuan Alisky berusaha menenangkan istrinya. Deandra telah menangis sejak tadi. Dirinya benar-benar merasa gelisah sejak siang itu. Pada awalnya, Dea berpikir karena dirinya kurang istirahat saja dan terlalu banyak berpikir. Namun sekarang dirinya menjadi sangat khawatir karena belum juga mendapatkan kabar tentang Alisya.


Alina yang duduk terdiam di sofa pada akhirnya melangkah menuju kamar kakaknya di lantai 2. Perlahan di bukanya pintu berwarna coklat tersebut. Tak ada yang berubah, semua masih tertata dengan rapih pada tempatnya.


Gadis belia yang usianya hanya terpaut satu tahun dengan Alisya tersebut memilih duduk terdiam di tepi ranjang sang kakak. Beberapa hari lalu mereka berdua menghabiskan waktu bersama, tertawa, makan dan berbelanja tanpa kenal lelah. Alina bahkan masih mengingat jelas nasehat sang kakak yang memintanya untuk selalu menjaga mama dan papa serta menjadi gadis yang baik dan lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan.


"Kak, kakak dimana? andai kakak tahu bagaimana keadaan mama saat ini, kak. Mama sangat menyayangi kakak. Pulanglah kak, kami semua menyayangi kakak."


Air mata yang ditahannya sejak tadi pada akhirnya luruh juga.


*


*

__ADS_1


*


Williams menatap rumah mewah yang menjulang dihadapannya kini. Disana dia sempat menghabiskan waktunya. Rumah dimana dirinya mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang lain yang telah menganggapnya keluarga. Rumah yang memberikan jalan baginya untuk bangkit dari keterpurukan setelah kepergian kedua orang tuanya.


Andai ada yang bertanya mengapa dirinya tak memilih untuk tinggal dengan keluarga mendiang ayah atau ibunya. Maka jawabanya adalah karena mereka tak mau mengakui keberadaan keluarga Williams. Ayah Williams dikeluarkan dari keluarga setelah menikahi istrinya yang kala itu hanyalah seorang pegawai sebuah minimarket. Keluarga menganggap jika ayah Will tak lagi mampu menjaga nama baik keluarga mereka. Bahkan hingga kini Williams pun tak mengetahui secara pasti silsilah keluarga sang ayah.


Langkah tegap namun tenang membawa Williams melangkah maju meninggalkan taxi yang mengantarkannya tadi. Sampai di sebuah gerbang besar seorang security datang menghampiri Will dan menanyakan keperluannya.


Terlalu lama dirinya tak datang dan sekalinya datang dia pun tak memberi kabar membuat Oma Feli tak memiliki pesan apapun kepada para pekerjanya.


"Sudah buat janji sebelumnya, tuan?"


"Belum."


"Baiklah, saya akan melapor sebentar. Silakan menunggu, tuan. Maaf dengan tuan siapa kalau boleh tau?"

__ADS_1


"Saya.."


"Tuan muda!! Ya Tuhan." Seorang security yang terlihat sudah cukup berumur langsung membuka gerbang dan menunduk hormat pada Williams. Sementara security yang sedang bertanya pada Williams diam terbengong tak mengerti.


"Paman Oskar." Williams tersenyum seraya memeluk lelaki yang masih gagah tersebut dengan erat.


"Tuan muda, bagaimana kabar anda?"


"Aku baik paman. Bagaimana keadaan paman dan keluarga?"


"Semua baik tuan muda, terimakasih. Ah mari silakan masuk tuan, Oma pasti sangat bahagia melihat kedatangan tuan." Oskar meraih koper yang berada di dekat Williams berdiri.


"Zid, tutup kembali gerbangnya. Biar aku yang mengantarkan tuan muda Williams kedalam."


Security muda yang sedari tadi hanya terdiam bengong akhirnya mengangguk. menutup kembali gerbang dan melangkah menuju pos nya yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri semula.

__ADS_1


__ADS_2