I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 100


__ADS_3

Untuk beberapa lama Will masih berdiam diri dalam kamar Alexa. Setidaknya lelaki itu bisa merasakan ketenangan dalam jiwanya. Jujur saja, rasa ini sama dengan rasa ketika dirinya mendapati kenyataan pahit ditinggal pergi ke dua orang tuanya dulu.


Will bergeming ketika ponselnya kembali bergetar. Tak ingin kembali terganggu karena saat ini dirinya telah fokus pada sesuatu yang tak sengaja dilihatnya tadi.


Sebuah buku kecil seukuran ponsel berada di bawa meja rias yang terletak di sebelah kiri ranjang. Will pernah melihatnya, sebuah buku kecil bersampul hitam dengan aksen pemandangan disana. Buku itu selalu Alexa bawa kemanapun gadis itu pergi.


Apa mungkin Alexa sengaja meninggalkannya atau memang tak sengaja tertinggal?


Tangan Williams terulur untuk menggapai buku kecil tersebut. Jantungnya kembali berdetak tanpa tahu aturan. Dia yang terlihat kuat, cuek bahkan terkadang menyeramkan kini nampak lemah dan kacau. Williams bahkan tak memperhatikan penampilannya kini. Jambang itu semakin panjang hingga hampir menyerupai jenggot. Namun Will tak lagi mempedulikannya.


Ditatap nya buku yang berada di tangannya tersebut lamar lamat. Antara keinginan untuk membuka juga rasa segan karena tak ingin mencampuri urusan orang lain. Will memilih menyimpan benda itu di balik laci meja rias milik Alexa.


*


*

__ADS_1


*


Semburat jingga nampak memancarkan sinarnya yang mulai meredup. Mega sudah bersiap kembali ke peraduan nya berganti dengan gelap malam yang mulai datang menyapa semesta.


Akmal menatap lekat ke arah stasiun kedatangan. Tubuhnya nampak tenang namun kegugupan tak bisa dia tutupi dibalik wajahnya yang nampak tegang.


Sejak semalam bahkan pemuda dengan predikat dokter muda tersebut tak bisa tidur dengan nyenyak, hanya untuk menunggu datangnya sore ini.


Menyibukkan diri dalam klinik ternyata tak juga membuat hatinya tenang. Senyum dan wajah manis Monica selalu nampak di pelupuk matanya. Hubungan jarak jauh yang mereka jalani tak menggoyahkan rasa yang tertanam dalam hati keduanya.


Rasa tak percaya Monica rasakan kala melihat sosok Akmal yang berada beberapa meter di hadapannya. Penampilan yang terlihat sangat jauh berbeda dengan yang sering nampak di layar ponsel nya.


Akmal terlihat lebih gagah dan tampan dengan rahang tegas ditambah tatapan matanya yang tajam membuat pesonanya bertambah.


Tak tahan akhirnya Monica perlahan berjalan mendekat. Senyumnya nampak sumringah meski sang lelaki belum menyadari kehadirannya.

__ADS_1


"Permisi, pintu keluar sebelah mana ya?" Tanyanya berpura-pura.


"Silakan saja lurus terus belok ke kanan, disana nanti ada petunjuknya." Jawabnya hanya menoleh sesaat.


Ya hanya sesaat seolah Akmal tak ingin melewatkan sedetikpun waktu. Monica menunduk, Akmal belum mengenalinya. Namun hanya sebentar karena setelahnya gadis manis tersebut terpekik pelan kala sepasang lengan kokoh menarik tubuhnya untuk di peluk erat.


Beberapa detik yang lalu, Akmal tiba-tiba menoleh cepat ke arah seorang wanita yang sempat menanyakan jalan keluar padanya tadi. Matanya memicing namun senyum segera tersungging di wajah tampannya.


Tetap berdiam sambil terus menatap sang kekasih yang nampak menunduk. Tak tahan, pada akhirnya Akmal meraih tubuh itu untuk didekap. Tak banyak kata, Akmal segera menggandeng pergelangan tangan Monica dan membawanya pergi.


"Kenapa mengerjai ku?" Akmal mengungkung tubuh Monica setelah gadis tersebut duduk nyaman dengan seatbelt yang telah terpasang di tubuhnya.


Tatapan keduanya bertemu dengan wajah Akmal yang berada beberapa senti di depan wajah Monica yang tiba-tiba terasa panas.


Saling menyimpan rindu, entah siapa yang memulai karena setelahnya hanya suara decakan yang berasal dari kedua benda kenyal mereka yang telah bertemu. Saling melum at dan bermain lidah dengan rasa bahagia yang membuncah.

__ADS_1


__ADS_2