
Albert tersenyum menatap sang mama yang terlihat ceria. Kesehatannya semakin membaik meski dirinya belum bisa lepas dari kursi roda. Tulang belakangnya bermasalah karena telatnya penanganan yang ada. Andai mereka punya uang mungkin ibunya tak harus merasakan penderitaan seperti ini.
"Mom." Ucapnya seraya berjalan mendekat kearah wanita baya yang sedang tertawa bahagia.
Rona wajah nyonya Carlotta juga tak lagi menyiratkan kesedihan. Bahkan senyum selalu tersungging di wajahnya yang sudah penuh kerutan.
"Tapek?" Ucapnya terbata pada sang putra yang menaruh kepala diatas pangkuannya. Albert mengangguk dan memejamkan matanya sejenak. Disana, dipangkuan sang ibu yang selalu memberinya kenyamanan.
Tangan yang kembali bisa digerakkan sesuai keinginan pun semakin membuat keduanya sangat bahagia. Meski masih sedikit bergetar namun semua lebih baik dan semakin baik.
Kedatangan Oma Feli dan Edwin membuat obrolan mereka semakin seru. Ditambah dengan tingkah putra Usman yang selalu mengundang gelak tawa mereka. Rasa kekeluargaan semakin dibangun dalam panti untuk membuat para penghuninya betah. Sejauh ini sudah ada 12 orang lansia yang tinggal bersama mereka disana.
"Oma bisa tinggal disini?" Pertanyaan Oma Feli seketika membuat Edwin menoleh. Mengernyapkan mata berulang kali karena merasa apa yang didengarnya tak masuk akal.
Oma Feli terbiasa hidup mewah dan selalu dilayani. Apa yang dia butuhkan selalu tersedia, tak hanya oleh para pelayan yang memang dipekerjakan untuknya, namun anak dan cucunya pun melakukan hal yang sama kepadanya.
__ADS_1
"Oma becanda kan?" Tanyanya kaku.
"Tidak, Oma serius Ed. Kalau boleh, Oma Ingin tinggal disini bersama dengan mereka. Rasanya Oma menemukan jiwa Oma yang baru disini. Mereka semua baik dan Oma tak akan kesepian nantinya." Oma Feli menatap kosong ke halaman panti yang sejuk nampak dua orang lansia sedang duduk bercengkrama disana.
"Ehmm." Edwin membuka mulutnya seolah hendak berbicara namun dikatupkannya lagi.
Hal yang serius ini tak bisa dia putuskan sendiri. Posisinya sebagai cucu juga bukanlah sabagai satu satunya disini. Masih ada 3 orang cucu dan juga papa dan om nya pun masih ada. Hingga Edwin memilih untuk diam beberapa saat.
"Sebaiknya nanti kita bicarakan lagi sama papa dan juga keluarga besar kita Oma. Jujur saja, Ed tak berani mengambil keputusan yang besar ini." Ucapnya kemudian sambil memeluk pundak Oma Feli penuh sayang.
*
*
*
__ADS_1
Will membuka ponselnya berulang kali. Niatnya dari tadi ingin menghubungi nomer yang Monica kirim padanya. Dia benar-benar penasaran dan ingin tahu yang sebenarnya tentang Alexa. Namun dirinya tak tahu nanti harus memulai dari mana. Untuk itu Will memilih untuk bersabar dan menunggu.
" Om, Oma nanti makan malam dirumah tidak ya?" Alexa melongokkan kepalanya dari balik pintu ruang kerja Will yang dibukanya sedikit.
"Coba kamu hubungi Oma."
"Aku kan nggak punya nomernya oma, om." Alexa mengerucutkan bibirnya. Gadis itu melangkah mendekati Will yang masih terdiam di depan laptopnya. Lelaki tampan dengan kacamata tersebut tersenyum lucu.
"Kamu sudah liat dalam kulkas ada bahan apa aja?" Alexa mengangguk membuat Will memicingkan matanya.
"Bahannya tinggal telur dan juga sedikit sayur.Tapi, Aku kan nggak bisa masaknya om." Alexa tersenyum simpul dan menundukkan kepalanya.
"Kita makan diluar saja ya. Bersiaplah, kita ke panti lebih dulu menjemput mereka."
Yeee Alexa bersorak ceria dan berlari kecil meninggalkan ruang kerja Williams.
__ADS_1