I Love You Om Dokter

I Love You Om Dokter
Bab 107


__ADS_3

Williams berhasil masuk kedaerah yang rawan konflik. Tak ada pilihan lain baginya selain nekat. Dengan memakai identitas dokter yang dimilikinya, dengan muda lelaki tampan dengan kacamata yang senantiasa membingkai kedua mata birunya itu diperbolehkan masuk.


Mengikuti mobil yang mengangkut para relawan lain menuju kota sebelum mereka di pencar ke daerah daerah yang membutuhkan bantuan.


Tak ada alamat pasti yang dia tuju membuat Williams melakukan pencarian dengan cara berkeliling dari camp satu ke camp lainnya. Tak peduli berapa lama waktu yang akan dia butuhkan nanti untuk melakukan hal itu.


Tak ada beban lain yang dia pikirkan selain gadisnya. Gadisnya? masih maukah gadis cantik yang selalu membuatnya tak menentu itu menerima kehadiran dirinya kembali.


Lagi lagi pikiran tersebut terngiang dalam benaknya. Will menyadari betapa bodohnya dia selama ini. Bahkan untuk mengetahui apa yang ada dalam hatinya saja dirinya tak mampu.


Mobil yang ditumpanginya terus melaju membela jalan menuju kota terdekat. Karena hari telah sore, salah seorang prajurit entah dari negara mana yang kali ini bertugas menjaga mereka mengatakan bahwa kemungkinan perjalanan akan dilanjutkan esok hari. Dan untuk malam ini mereka akan menginap di kota.


Tak mengapa bagi Williams karena semua itu tak mempunyai pengaruh besar untuknya karena tujuan dirinya sebenarnya bukan untuk mengikuti mereka. Hanya saja, dengan mengikuti mereka dirinya akan tau camp camp yang digunakan dan dirinya bisa menyusurinya nanti jika disatu camp tak menemukan tanda tanda adanya Alexa.


*


*

__ADS_1


*


"Sudah siap?" Aryan berjalan mendekati Alexa yang sedang membereskan tas nya.


Kemanapun perginya gadis cantik tersebut selalu tersedia peralatan medis dalam tas yang selalu dibawanya, tak begitu besar namun cukup menjadi wadah.


"Sudah. Ayo kita berangkat!!" Alexa berjalan menuju mobil yang akan mereka gunakan ke kota. Mobil yang merupakan fasilitas yang diperuntukkan bagi tenaga medis dan relawan guna melancarkan upaya mereka dalam misi kemanusiaan yang sedang mereka emban.


Keduanya telah berada di dalam mobil yang siap melaju. Ada sekitar 8 tenaga medis ditiap tiap camp pengungsian. Jumlah yang banyak karena memang hanya ada 5 camp yang baru terbangun sedangkan simpati dan jumlah relawan bertambah setiap harinya.


Suara tembakan dan pesawat tak lagi membuat mereka terpekik kaget. Sudah biasa dan jadi semakin terbiasa dengan keadaan yang memang sedang terjadi.


"Ada tempat yang ingin kamu kunjungi dikota nanti?"


"Hanya ingin membeli beberapa peralatan dan obat di rumah sakit. Setelahnya mungkin akan belanja titipan rekan rekan."


"Mereka nitip banyak barang?"

__ADS_1


"Lumayan sih, tapi kebanyakan semua bahan makanan." Alexa membuka ponselnya guna melihat apa saja barang yang dipesan rekan rekan mereka yang berada di camp.


Kebanyakan dari mereka memang memilih untuk menyetok bahan makanan yang kering agar memudahkan mereka saat harus berpindah-pindah tempat nantinya.


Hidup dalam camp pengungsian dengan banyaknya orang tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para relawan yang justru harus ikut merasakan seperti mereka. Belum lagi dengan adanya korban yang sewaktu waktu bisa datang ke tempat mereka.


Konflik yang berkepanjangan menimbulkan banyaknya korban. Bukan saja secara materi namun juga secara moril.


Diwaktu senggangnya, Alexa bersama dengan beberapa orang relawan terkadang membuat kelompok belajar untuk anak-anak yang terpaksa harus tinggal bersama mereka disana.


Menyanyi dan bermain bahkan rutin mereka jadwalkan setiap minggunya untuk mengurangi rasa terpuruk dan mengembalikan senyum mereka semua.


*


*


*

__ADS_1


"Ternyata benar apa yang om katakan. Hidup kita akan semakin berwarna dan penuh dengan kebahagiaan saat kita bisa melihat orang lain tersenyum bahkan sampai tertawa karena kita. Makasih om, sudah membawaku ke perasaan yang indah ini. Meski aku tahu, om tak lagi bisa ku gapai."


__ADS_2